My Annoying CEO

My Annoying CEO
Banana boat


Al sudah duduk di resort hotel bersama Adit,sementara David dan Chika duduk terpisah.


"selamat pagi tuan Al" ucap seorang lelaki yang muncul bersama seorang wanita cantik.


"pagi ,silahkan duduk" ucap Al mempersilahkan.


Mereka kini berbincang bincang.


"apa wanita itu adalag dewi?" bisik Chika.


"itu dia calon tunangan tuan muda," jawab David ikut berbisik.


"wahh dari manapun dia tetap sempurna tanpah celah" gumam Chika.


"kamu liat kan,wanita yang menyukai tuan Al seperti apa?" bisik David.


Chika hanya mengangguk,ia kemudian menggeleng kepala heran


"bagaimana lelaki seperti gunung batu itu disukai wanita secantik itu?" gumam Chika lagi.


"tuan Al, bagaimana rencana pertunangan ini?" ucap sang lelaki.


"baik,saya akan menyiapkannya" ucap Al memandang wajah Cintya.


Cintya pun tak henti memandang wajah Al yang sangat berkharisma.


"baik,sepertinya saya akan kembali ke hotel,kalian bisa mengobrol lebih lamah" ucap sang lelaki segera bangkit.


Adit dan Al pun bangkit dari duduk sambil membungkukkan badan.


"kak,kalian bisa berbincang saya dan Chika ingin bermain" ucap Adit.


"Adit,apa kami boleh ikut?" tanya Cintya sambil menoleh ke arah Al.


Adit menoleh ke arah Al.


"baik,ayo" ucap Al bangkit.


Chika dan David pun ikut berdiri.


"Chika,ayo ke pantai" ucap Adit.


Al memberikan kode kepada David dan David segera pergi.


"kalian duluan,saya akan menyusul" ucap Al.


Chika dan Adit sudah berlari,


Sementara Cintya ikut berjalan.


"tuan,ini obatnya" ucap David.


Al menelan sebutir pil.


"efeknya hanya bertahan tidak lebih 1 jam bukan?" tanya Al.


David mengangguk.


Beberapa tahun Al memgonsumsi pil untuk membantunya menghilangkan reaksi saat bersentuhan dengan orang,hanya metode itu yang ia gunakan untuk bisa menyembunyikan phobianya.


Tak ada obat yang benar benar bisa menyembuhkannya.


Mereka segera menyusul Adit dan yang lain.


"kak Cintya,ini Chika pelayan pribadi kak Al" ucap Adit.


Chika mengulurkan tangan.


Tetapi Cintya hanya tersenyum kecut.


Chika menarik tangannya.


Ahh dia tidak secantik parasnnya.


"kenapa kamu bisa akrab dengan pelayan Dit?" tanya Cintya.


"dia baik,apa salahnya?" ucap Adit.


Cintya merasa tidak pantas berbicara dengan Chika.


Adit segera merangkul Chika,


"Al" ucap Cintya melihat Al dan David muncul.


"apa yang akan kalian mainkan" ucap David.


"bananaboat" teriak. Adit.


David tersenyum.


" kamu juga mau ikut?" tanya Cintya kepada Al.


Al menggeleng.


"kak ayo,ini menyenangkan" ucap Adit.


"udah,dia nggak akan mau, dia pasti berfikir ada milyaran bakteri di dalam laut yang akan menyerangnya" ucap Chika menarik Adit.


"kamu? Oke ayo main" ucap Al kesal.


"apa kamu bisa berbicara seperti itu kepada atasan kamu?" Cintya melihat Chika kesal.


"sudah,dia memang tidak punya etika" ucap Al sambil menarik Cintya.


Cintya tersenyum manis.


Semua sudah berada di atas bananaboat sambil mengenakan pelampung.


"siap...?" Adit memegang kendali


"siap" teriak Chika yang ada di belakang Al.


Mereka akhirnya bermain sambil berteriak.


David yang ada di atas speatboat hanya tertawa melihat permainan mereka.


Cukup lamah berputar putar,


Al kembali teringat saat ia hampir tenggelam.


Ia memegang pegangan boat dengan erat.


Kepalanya terasa pusing,dan mual.


Tak sengaja Cintya yang ada di depannya terdorong kebelakang membuat kepalannya menabrak wajah Al.


Sontak Al yang masih berusaha menjaga keseimbangannya,menjadi gemetar dan


Byurr..


Ia terjatuh ke dalam air laut.


David dan yang lain terkejut.


Tetapi Chika sudah lebih dulu melompat ke dalam laut.


"tuan,tuan" David membaringkan Al di bibir pantai.


Chika yang telah menarik badan Al,segera mengatur nafasnya yang masih sesak.


Adit berlari membawa handuk.


"pakai ini Chika" ucap Adit sambil menyerahkan sebuah handuk.


"Al,bangun Al" Cintya ikut panik.


David berusaha menekan dada Al membantu mengeluarkan air.


"nafas buatan kak David" ucap Adit.


"apa kamu gila?" tanya David memandang Adit.


"benar,kak Al pasti akan tambah sakit" ucap Adit,


Chika yang melihat Al masih tak sadarkan diri segera mendekati tubuh Al yang masih ditekan oleh David.


"kalau begini,dia bisa mati sebelum ambulan sampai" ucap Chika sambil meniupkan udara lewat bibir Al.


Semua terkejut,namun tetap diam karena ikut kuwatir.


Sebuah sentuhan lembut dirasakan Al, ia kembali teringat wajah gadis kecil di pulau ikan.


Al terbatuk batuk sambil memuntahkan air.


"tuan...tuan kamu sudah sadar" ucap David senang.


"apa yang terjadi?" tanya Al masih menahan sakit kepala.


"kamu tenggelam Al" ucap Cintya sambil memegang tangan Al.


Al mengepalkan tangan.


"ah nona Cintya,sebaiknya anda kembali beristirahat" ucap David melihat reaksi Al.


"baik, kamu jaga kesehatan,saya akan mengunjungimu nanti" ucap Cintya sambil melepaskan tangan.


Al mulai duduk.


"apa kita perlu memanggil dokter?" tanya David.


"sudah tidak apa Vid,saya hanya perlu istirahat" ucap Al.


"Chika,bantu tuan muda berdiri dan kembali ke kamar" ucap David.


Chika mengangguk sambil membantu Al berdiri.


Adit masih terperangah.


"kak David,apa yang terjadi? Bagaimana Chika bisa--" Adit masih heran melihat Al dan Chika berlalu.


"saya juga baru mengetahuinya" ucap David tersenyum.


"wah dia memang luar biasa" ucap Adit.


Chika membuka pintu kamar hotel.


"tuan,saya akan menyiapkan air panas" ucap Chika melepaskan lengan Al.


Al hanya mengangguk.


"mengapa tidak ada reaksi saat Chika memegangku seperti itu?" gumam Al masih heran.


"tuan,silahkan " ucap Chika.


Al memasuki kamar mandi dan segera berendam air panas.


Chika masuk ke kamarnya dan juga membersihkan diri.


Chika sudah merapikan kamar dan membersihkan tempat Al.


"apa dia memang mandi selama itu?" gumam Chika.


Ia kembali masuk ke kamar dan mengemas barang.


"Chika" teriak Al.


Chika berlari keluar.


"aku lapar,kamu bisa masak apa lagi?" tanya Al.


"saya akan buatkan sup tulang tuna tuan,anda mau?" tanya Chika.


Al hanya mengangguk.


Chika segera bergegas ke dapur.


"tuan,bagaimana keadaan anda?" tanya David masuk ke dalam kamar.


"sudah baik, saya hanya akan mengisi perut" ucap Al.


"saya minta maaf atas kecerobohan saya tuan,saya tidak melihat anda sudah melampaui waktu" ucap David.


"sejak kapan fokusmu bisa berkurang Vid?" Al menatap kesal kepada David.


" saya teledor tuan,saya akan menerima hukuman" ucap David.


"apa kamu sedang jatuh cinta?" ucap Al masih kesal.


"tidak tuan, saya masih menunggu nya" ucap David.


Al menghela nafas.


"apa kamu akan selamanya seperti ini?" tanya Al.


"tuan,saya pun berharap anda bisa jatuh cinta" ucap David.


"aku tidak akan bodoh sepertimu, jika memang cinta bisa membuatmu menjadi seperti ini,aku tidak ingin merasakannya" ucap Al tersenyum kecut.


"tuan, andaikan waktu bisa ku putar kembali,aku lebih memilih menjadi bodoh,agar aku bisa menjaganya di sampingku" ucap David mulai berkaca kaca.


"sudahlah Vid,lupakan dia, kamu masih memiliki jalan yang panjang" ucap Al sambil bangkit menepuk pundak David.


Di balik wajah yang selalu tersenyum, terpendam sebuah luka yang berkarat.


Chika membuka pintu.


"apa kamu tidak bisa mengetuk?" ucap Al kesal.


David segera berbalik dan tersenyum.


"saya tidak bisa mengetuk sambil membawa nampan ini," ucap Chika.


"anda makan dulu tuan" ucap David.


Chika meletakkan sebuah sup dengan tulang ikan tuna besar.


"Al,bagaimana keadaanmu?" Cintya muncul.


"sudah baik" ucap Al menuju meja makan.


Cintya ikut kesana.


"makanan apa ini?" ucap Cintya melihat tulang ikan di dalam mangkok.


"ini sup tulang, bisa memulihkan diri dan membuat tubuh hangat kembali" ucap Chika.


Al menatap makanan di depannya.


"bagaimana kamu bisa memasak makanan ini?" tanya Al menatap Chika.


"ada apa? ini adalah makanan khas daerahku,semua orang bisa memasaknya," Chika terkejut.


Al menghela nafas.


Ia segera mencoba sup itu.


Ia betul betul kembali merasakan sup hangat buatan keluarga di pulau ikan itu.


"Al,itu tidak --" Cintya belum menyelesaikan kata katanya.


"nona Cintya, anda bisa ikut makan jika anda mau" sela David.


Cintya yang merasa jijik dengan sup itu memilih mundur.


"saya akan kembali ke kota Long, kamu bisa menikmati liburanmu disni" ucap Al kepada Cyntia.


"baik Al," ucapnya tersenyum manis.


"David,berikan bonus untuk Chika selamag disini,walaupun dia tidak sopan,tapi dia cukup membantu" ucap Al kepada David.


Chika berbinar binar.


Akhirnya ia bisa membeli banyak hal.