
Chika masih mengguyur badannya yang bau kambing.
"dia? Dia? Ihhh" dengan mengingatnya saja seketika tubuh Chiia merinding.
"arghh, mata ku harus dia nodai lagi," Chika mengenduskan nafas kesal.
Dia benar benar berfikir direktur EA group itu benar benar seorang pria cabul dan punya keanehan.
Setelah beberapa menit,Chika mengenakan baju handuk dam membuka pintu kamar mandi.
Kamar mandi memang terletak di depan kamar,
*****
Sementara Al sudah masuk ke dalam kamar yang tidak terkunci,
"tuan,jangan masuk dulu,--" Al sudah tidak tajan dengan bau pakaian kotor yang menumpuk di dalam keranjang cucian di luar ruangan.
Dan saat masuk,
Mata Al terbelalak dengan pakaian yang berserakan di mana mana,
Buku berhamburan dan tentu saja pakaian dalam Chika yang tergeletak di atas kasur kecil.
Dengan masih mengenakan masker dan sarung tangan,Al meletakkan tas Chika menutupi jemuran Chika yang berserakan di atas kasur.
Ia mencoba menahan pemandangan tidak mengenakan ini demi harga dirinya.
Tiba tiba pandangannya tertuju pada beberapa kertas yang tertempel di dinding.
Semua tentang karya SNOW PRINCE,
Puisi, novel dan kutipan kutipan.
Ceklek...
"pagi Chika," ucap David di luar kamarnya.
"pa...pagi kak," Chika terlihat bingung dengan kehadiran David.
"maaf kak, ada apa ya?" Chika kembali bertanya.
David menyinggungkan sedikit wajahnya, memberi kode untuk Chika mengenakan pakaiannya dulu,
"ahh, tunggu sebentar kak," Chika kembali masuk ke dalam kamar.
"kamu!" teriak Chika saat Al sedang menyentuh tulisan di dinding.
"jangan menyentuhnya,ini terlalu suci untuk di sentuh orang cabul sepertimu," Chika mendorong Al agar menjauh dari harta berharganya.
Seketika ia merentangkan kedua tangannya,
"ahh, Chika maafkan kami," ucap David dari belakang.
Chika kembali berbalik.
"ada apa kemari kak?" tanya Chika memandang David.
"hmm," Al yang seolah tidak di anggap.
"Chika, ada yang perlu kita bicarakan," ucap David memulai pembicaraan.
"ada apa ya?" Chika masih bisa berbicara dengan baik terhadap David karena selalu menolongnya, namun sepersekian detik pandangan mata membunuh ia arahkan ke tuan muda Al yang sedang melipat tangannya di dadanya.
"masalah tadi pagi, hmm masalah apa yang kamu lihat," David masih gagap mengatakannya.
"ahh, pria cabul ini mengaduh sama kakak?" tanya Chika menatap tajam ke arah Al yang mencoba mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"hmm,buka begitu Chik, kakak harap,--" David benar benar gagal menyelesaikannya,
Al benar benar mempermalukan dirinya sendiri.
"kamu suka Prince Snow?" David ikut mengalihkan pandangan ke dinding itu.
"kakak David juga tahu? Kak dia itu cinta pertamaku," Chika ikut memalingkan pandangannya ke arah yang sama.
"apa?" Al terbelalak.
"kamu sudah pernah melihatnya?" uca David menguji.
"mmm,i..tu... belum," Chika menunduk kecewa dengan dirinya.
Al dan David mala melempar pandangan.
Detik kemudian Al bergidik jijik dengan kelakuan Chika.
"menurut kamu, dia seperti apa?" David kembali menguji Chika.
"ahh, yang pasti dia adalah lelaku tampan, dengan umur yang belum cukup tua seperti pria tua cabul itu," Lirik Chika ke arah Al.
"ahh, jari jarinya pasti sangat lembut dan linca saat mengetik semua mutiara hitam, tidak seperti tangan seseorang yang hanya bersembunyi di balik sarung tangan," Chika kembali mencibir tangan Al yang terbalut kaos tangan importnya.
"apa?" Al mulai emosi.
David mencoba memberi kode agar Al tetap mengendalikan dirinya.
" kamu begitu mengaguminya ya?" ujae David memjernikan suasana.
" tentu, aku udah bilang kak, dia itu Cinta pertamaku," Chika kembali berbinar binar.
"kamu benar benar penggemar fanatiknya ya?" tanya David.
"tentu, kak aku jauh jauh ke kota Long, hanya untuk bisa menjadi penulis dan bertemu dia suatu saat nanti,aku nggak bakal kerja segila ini kalau bukan untuk mengoleksi setiap bukunya yang begitu berharga," Chika benar benar seperti penggemar terbaik.
"huk...huk..." Al merasa sesak mendengar ujaran Chika.
"kenapa? ada masalah?" Chika kembali sewot.
"sudah, begini Chik, kakak bakal bantuin kamu dapat tanda tangan Prince Snow jika kamu melupakan kejadian salah paham tadi pagi,lagi pula kamu harusnya berterimakasih kepada tuan muda," ucap David.
"terimakasih?" Chika benar benar tak bisa menanggapinya dengan otak waras.
" semalam kamu mabuk,andaikan orang yang mendapat kamu adalah orang jahat?" David mencoba membangunkan memori Chika tadi malam.
Chika menjadi ciut, saat pikirannya kembali memgingat saat di kamar tamu rumah Al.
"ahh,demi tanda tangan prince Snow aku akan menghapus memoriku itu," ucap Chika menelan ludah.
Bagaimana pun ia selamat karena itu tuan Al.
"hmmm," Al mencoba memberi kode.
"baiklah,terimakasih tuan muda," ucap Chika sambil menghela nafas.
"tapi.--" Al dan David belum selesai menarik nafas saat Chika kembali bergumam.
"apa jadinya jika, CEO EA group ketahuan tidur tanpa,--" Seringai licik Chika.
"kamu mau apa lagi?" Al kembali dibuat gelagapan dengan seringai Chika.
"hmmm, CEOku yang menyebalkan, tidak...tidak...CEOku yang baik (demi apa aku harus bersilat lidah) mmm, nilai untuk novel romanceku,--"
"baik aku akan bantu kamu," ucap Al cepat.
"hehe makasih CEO yang terbaik," ucap Chika sambil melirik centik.
"cihh...dasar,PIKIR KUNINGmu itu," Al kembali berdecak kesal.
"hahaha," Chika kembali melirik senang ke arah David.
Sedetik lagi,David bernafas legah.
"eh, tunggu kak David kenal sama Prince Snow?" ucap Chika penasaran.
"mmm tentu, kakak juga penggemarnya," ucap David melirik Al.
"sungguh? Ahh aku pikir CEO kita tidak akan pernah tahu siapa itu," Chika melirik tajam ke arah Al.
"hahaha,tuan muda sangat mengenalinya Chika,jadi kalau kamu bersikap manis kepada tuan muda,bukan tidak mungkin untuk bertemu dengannya," ucap David tersenyum menahan tawa.
"sungguh? Benarkah? Ahh tuan muda yang tampan dan baik hati ini benar benar sesuatu," Chika sudah melangkah untuk mengelus pipi Al yang membuat Al terbelalak.
" baiklah Chika,kami permisi dulu,silahkan nikmati akhir pekan anda," ucap David melihat Al yang mematunv dengan sentuhan tangan Chika di pipinya, karena tubuh Chika yang kecil membuatnya harus berjinjit untuk meraih pipi Al yang tinggi menjulang.
"ahh,baiklah,hati hati di perjalanan,senang berbisnis dengan anda tuan muda," Chika membungkukkan badannya.
"cih..." Al mendesah kesal dengan perangai Chika yang beruba ubah.
Sambil melangkah keluar kamar dengan David.