My Annoying CEO

My Annoying CEO
ibu sambung Al 2


Semenjak kepergian sang ibu,


Al menjadi semakin terpuruk,


Ia menyalahkan dirinya sendiri untuk itu,


Bahkan syndrom haphephobianya sudah menjadi akut.


Ia terobsesi dengan kebersihan dan kerapian.


Melakukan semua dengan teliti dan tepat.


Bahkan sudah tidak ingin peduli dengan orang lain di sekitarnya.


Ia menjadi pribadi yang tertutup dan tidak ingin mengenal orang lain.


Sang ayah yang juga ikut kehilangan istri sangat sibuk dengan perusahaan yang sedang meningkat.


Kakak perempuannya yang juga telah pindah ke luar negeri bersama suami.


Beruntungnya, ia bertemu dengan sahabat ibunya yang merupakan dokter pribadi keluarga yang akhirnya menikah dengan ayahnya,El Daviandra.


Sosok yang sangat menyayanginya seperti ibu kandungnya.


***


Mansion Keluarga Daviandra.


" cari tahu tentang calon tunangan Al!" perintah nyonya Rita Daviandra pada asisten pribadinya.


Sang asisten segera keluar dari ruangan.


Kini nyonya Rita sedang duduk di meja makan sambil menunggu sarapan.


"sudah mau berangkat nak?" tanya maminya.


"ia Mi," Al menarik kursi lalu duduk meraih segelas susu di hadapannya.


"ingat, kamu harus membantu Chika di kampus," mami Al meraih roti di hadapannya.


" mi, apa mami serius perhatian kepada orang asing," Al menatap ibunya kesal.


" kenapa? Chika, sejak pertama bertemu langsung bisa mengenal dia anak yang baik," nyonya Rita masih sibuk memakan roti.


" baik apanya, anak tengil itu tidak tahu sopan santun," Al mencibir.


" sejak kapan kamu mengenalnya?" nyonya Rita mulai antusias.


"sudahlah mi, lakukan saja kegiatan mami,jangan mengurus hal hal yang tidak penting," Al mengalihkan pembicaraan.


"selamat pagi nyonya,tuan muda," David muncul di ruang makan hendak menjemput Al.


"selamat pagi Vid,ayo ikut sarapan," ajak nyonya Rita.


"saya sudah sarapan nyonya," David tersenyum ramah.


" bagaimana persiapan pertunangannya?" Al meraih roti di hadapannya.


"semua sudah saya atur tuan, anda hanya perlu menyiapkan fisik anda," David menjawab dengan sempurna.


"David, apa kamu juga mengenal Chika?" nyonya Rita rupanya benar benar tertarik dengan Chika.


" apa nyonya juga mengenal Chika?" David menatap ke arah Al yang pura pura tidak mendengar.


"ia, katakan bagaimana Chika menurutmu?" nyonya berusaha mencari tahu.


" Chika,anak yang baik nyonya, dia dari pulau ikan dan belajar di EA collage,dia juga pekerja keras, dan juga dia anak yang jujur," jelas David.


Nyonya Rita tersenyum puas.


"nyonya, ada apa?" David masih tidak paham.


"kalian kenapa bisa mengurus hal tidak penting seperti itu?" Al mulai kesal.


"apa yang kamu tahu, Chika entah mengapa saat pertama kali melihatnnya saya merasa seperti sudah dekat dengannya," nyonya Rita membayangkan kembali wajah manis Rita.


" apa? kenapa kamu tidak memberitahu mami hal penting ini, ohh Tuhan ini adalah sebuah doa yang di kabulkan," Nyonya Rita tersentak kemudian menatap Al kesal.


" ada yang aneh dengan kepribadian anak itu mi," Al mencari alasan.


" nyonya, Chika anak yang baik dan polos,saya telah menyelidiki latar belakangnya,dan sekarang dia tinggal di tempat sepupu nyonya," David melaporkan pengintaianya selamah ini.


" apa kamu kurang kerjaan?" Al beranjak,nafsu makannya seketika hilang saat David dan ibunya hanya membahas mengenai Chika.


Ia bergegas,


"David tunggu,apa yang kamu pikirkan tentang calon tunangan Reyhan?" nyonya Rita menatap David yang hendak beranjak mengejar Al.


"nyonya, saya masih melakukan penyelidikan,namun informasi dari pihak Silver Steel group sangat susah,saya bahkan menemukan informasi calon tunangan tuan muda sangat positif," David mengerutkan kening.


"baiklah,kamu harus berhati hati, di luar sana banyak yang ingin melihat Al jatuh," nyonya Rita sudah mewanti wanti David.


David segera pamit dan mengejar Al.


***


Sementara di dalam mobil.


"apa anda akan ke kantor tuan?" tanya David memegang kemudi.


"saya ada urusan ke kampus dulu," Al menatap ke luar kaca mobil.


Ia mengingat pesan sang ibu untuk membantu Chika, entah perasaan apa yang muncul sehingga ia juga ikut penasaran dengan Chika.


"tuan,apa anda tidak ingin mencoba Chika membantu anda dalam pengobatan anda?" David masih fokus ke depan.


" tidak, aku sudah bilang ada yang salah dengan otaknya," Al mendengus kesal.


Mereka tiba di kampus.


"selamat pagi direktur,apa yang membawa anda datang pagi ini?" tanya ketua jurusan.


"berikan informasi mengenai Chika," ucap Al duduk di kursinya.


"maksud direktur Meyriska?" ketua jurusan mencoba menebaknya.


"ah benar pak," David ikut menimpali.


Al menatap David.


"namanya Meyriska tuan," jawab David seolah tahu pertanyaan Al.


Al dengan daya ingat supernya segera mengingat puisi yang dulu ia baca.


Jadi itu buatannya?lumayan juga.


Ketua jurusan membawa beberapa berkas ke meja Al.


"Meyriska ini anak yang rajin,dia punya bakat,namun pengetahuan dasarnya masih sangat buruk," ketua jurusan menjelaskan panjang lebar.


Al tertawa sinis mendengar tentang novel yang membuat dosen sastranya benar benar kesal.


David ikut tersenyum.


Ia menatap Al yang tertawa, baru kali ini Tuan Muda Al tertawa seperti itu,


"kamu dengar, dia benar benar gadis bodoh," Al menepuk nepuk punggung David sambil menahan perutnya yang sakit karena kebanyakan tertawa.


"saya akan memberikan materi hari ini," Al sepertinya mulai tertarik dengan kehidupan kamois Chika.


David mengerutkan kening,


"baik direktur ini sebuah kehormatan untuk kelas saya," Bu Kurni membungkuk dengan hormat,


"siapkan materinya," Al menatap ke arah David.


Mereka akhirnya keluar dari ruangan.