Lady Affair

Lady Affair
IX: Jatuh Sakit


Di malam hari yang begitu tenang, dua insan sedang dilanda keriuhan badai yang bergemuruh hebat. Keduanya tak bisa menutupkan matanya tanpa bayang-bayang kejadian tadi menghiasi benak mereka.


Si tukang dilema yang tak bisa menetralkan perasaannya sedang diam-diam mengintip di balik tirai berharap dapat melihat orang yang membuat tidurnya terganggu.


Sementara si tukang khayal sedang merutuki dirinya sendiri memikirkan betapa cerobohnya ia mengatakan perasaannya tanpa memastikan jika wanita yang ia cintai memiliki rasa yang sama sepertinya.


Keduanya sama-sama tak berani membuka tirai penghalang dari balik pintu balkon yang terbuka. Keduanya sama-sama tak bisa melangkah lebih jauh ketika mereka sadar dimana mereka berpijak.


Sampai matahari malu-malu mengintip dari balik tumpukan cumulus, keduanya tak dapat menutup mata mereka hingga satu diantaranya jatuh sakit karena berada di balkon semalaman suntuk


"Sarapan anda sudah siap, my lady," ucap Florest sebelum membuka pintu kamar Diana


Florest begitu terkejut ketika mendapati Nyonya mudanya itu sudah siap dengan gaun cantiknya


"Selamat pagi, Florest!" Sapanya girang sebelum duduk di sisi tempat tidur dan mengambil potongan buah apel di atas nampan


"Selamat pagi, Nyonya! Apa hari ini ada pesta?" Tanyanya penasaran


Diana tersenyum lebar sebelum menggeleng, "aku rasa aku ingin pergi ke pesta hari ini," jawabnya sambil tersenyum lebar


Florest membalas senyum Diana walaupun dalam hatinya bertanya-tanya apa yang sedang terjadi pada Nyonya nya itu.


"Apel ini sangat enak! Kau harus mecobanya!" ujar Diana sambil menyodorkan potongan Apel pada Florest yang berdiri di sisinya


"Oh Florest, kenapa kau sangat kurus? Kemari, makanlah. Kau perlu banyak energi untuk mengurus rumah sebesar ini,"


Florest menatap baki besar yang berisi sarapan lengkap dengan soup Ayam yang masih hangat serta buah-buahan segar lalu menggeleng, "Tapi, ini—"


"Oh aku punya sesuatu yang sepertinya cocok untukmu," ujar Diana sambil mencari-cari pakaian di dalam lemari pakaiannya


Florest tak bisa berkata apa-apa ketika ia melihat gaun satin cantik yang disodorkan Diana kepadanya


"Aku tidak akan memberitahu hal ini pada siapapun," ucap Diana sambil pura-pura mengunci bibirnya


Florest tak dapat mengungkapkan kebahagiaannya ketika mendapatkan hadiah yang tidak terduga


"Terima kasih banyak Madam,"


Diana tersenyum sebelum berjalan keluar dari kamarnya, "hari ini aku akan diluar seharian. Aku akan pulang saat makan malam,"


Florest mengangguk paham walaupun ia bertanya-tanya dalam hati, "hati-hati di jalan,"


Diana berjalan cepat menuruni anak tangga sambil memperhatikan kakinya yang di hiasi sepatu tinggi kulit baru dari dalam lemarinya.


Hari ini Diana membayangkan dirinya dan Edmund pergi berjalan-jalan menyisiri pantai Plage de l'Impérial sambil bergandengan tangan dan menikmati waktu bersama.


"Indah sekali," gumam Diana sesaat kakinya menyentuh rumput hijau di halaman samping mansion nya.


Ia berjalan sambil bersenandung menuju pintu depan mansion Edmund, usai mengetuk pintu dan dibukakan oleh pelayan setia pria pengisi hatinya itu


"Selamat pagi, Madam,"


"Selamat pagi, William. Apa Edmund sudah bangun?"


William mengernyitkan dahinya ketika melihat wajah Diana yang berseri-seri. Ia memutuskan untuk mempersilahkan wanita muda yang menjadi teman spesial tuannya untuk masuk


"Saya takutkan ia tidak bisa ditemui saat ini, Madam," ujar William ketika melihat Diana berjalan masuk ke dalam mansion mereka


"Ada apa dengan Edmund? Apa dia sakit?" Diana langsung panik saat mendengar itu, ia tak menduga pria yang kemarin sangat percaya diri menyatakan cintanya kini jatuh sakit


Dilain pihak, William terkejut mendengar panggilan wanita muda itu kepada Tuan mudanya. Belum pernah ada satu wanita pun yang berani memanggil nya seperti itu


"Kamar tidur Mr. Edmund ada disebelah kanan, kamar terakhir," seru William sambil tersenyum dan berbalik menuju ke dapur


Ketika Diana membuka pintu kamar Edmund, alangkah terkejutnya ketika Edmund sedang terbaring lemas di ranjangnya.


"Edmund," panggil Diana sambil berlutut di lantai dan memegang telapak tangan Edmund yang dingin


Edmund tersentak kaget ketika merasakan tangan seseorang menggemgamnya, Edmund tak dapat mempercayai matanya kala melihat Diana duduk di hadapannya


"Apa aku bermimpi?" Ucap Edmund sambil berusaha memegang wajah cantik Diana


Dan hatinya berdesir ketika Diana mendekatkan wajahnya ke tangan Edmund sehingga Edmund dapat menyentuh pipi lembut Diana


"Kau tidak bermimpi, aku disini,"


Edmund segera bangkit dan memeluk Diana, ia tak dapat membendung betapa bahagianya ketika membuka mata dan wajah Diana lah yang pertama kali ia lihat


"Apa kau sangat merindukanku?" Goda Diana tak dapat menahan tawanya melihat betapa eratnya Edmund memeluk tubuhnya


Edmund terkekeh sebelum melepas pelukan mereka dan menatap wajah Diana dalam jarak yang begitu dekat, "sekarang kau membuatku tidak ingin sembuh," ucap Edmund


"Kenapa?" Tanya Diana polos sambil memperhatikan wajah Edmund mencari-cari jawaban


Edmund tersenyum sebelum menjawab, "agar bisa melihatmu setiap pagi,"


Sontak Diana merasa pipinya memanas dan ingin menyembunyikan wajahnya dari pandangan Edmund. Bagaimana bisa pria itu membuat jantungnya berdebar hanya dengan kata-kata manisnya?


Edmund semakin jatuh cinta ketika melihat Diana tersipu malu. Ia ingin sekali mencium bibir Diana saat ini


"K-kau harus istirahat," ucap Diana sambil mendorong tubuh Edmund agar pria itu kembali berbaring di tempat tidurnya


Edmund terkekeh sambil memegang tangan Diana sebelum ia memiliki ide jahil. Edmund sengaja mengeraskan bahunya agar Diana memberi tenaga lebih saat mendorongnya, dan ketika Diana berhasil mendorongnya jatuh ke tempat tidur, Edmund segera menarik kedua tangan Diana hingga wanita itu jatuh diatas tubuhnya


Suara pekikan Diana terdengar hingga keluar kamar membuat Edmund tak dapat menahan tawanya.


"Edmund! Apa yang kau lakukan?" Ucap Diana sambil membuang muka karena ia dapat merasakan keras nya otot perut Edmund saat ini dan jika ia semakin memikirkan badan Edmund, wajahnya akan semakin memerah


Edmund lagi-lagi dibuat kasmaran ketika melihat reaksi Diana yang begitu polos. Edmund yakin Diana masih polos saat ini, dan fakta itu semakin membuatnya ingin menggoda Diana


"Diana, lihat aku," titahnya


Diana menggeleng, ia tak berani memandang wajah Edmund dan membiarkan pria itu tau bahwa hatinya berdebar-debar saat ini


"Diana," panggil Edmund lagi kini lebih menekan suaranya


Diana mau tak mau menoleh dan saat itu juga ia melotot kaget ketika merasakan sesuatu menyentuh bibirnya dengan lembut.


Seakan tak ada hentinya, bibir mereka berbenturan seperti keduanya bergulat untuk mengendalikan dan mengabaikan fakta bahwa mereka membutuhkan udara.


Bibir Diana terasa lebih manis dari cokelat yang mencair di lidahmu, begitu memabukkan siapapun yang berhasil menjelajahinya.


Hingga mereka akhirnya kehabisan nafas, dan betapa terkejutnya Diana ketika ia melepaskan cengkaraman tangannya dari rambut Edmund.


Saat itulah suara pecahan bernada tinggi dari arah pintu masuk menembus udara


***


TBC