
Hari-hari di dalam perjalanan menuju Benua Paman Sam memang terasa sangat lama. Walaupun ia ditemani oleh Letkol. Ambrose ia masih merindukan istri yang baru ia nikahi seminggu yang lalu.
Rasanya memang cepat sekali mereka menikah. Tapi Anthony yakin Diana lah wanita yang tepat untuknya, ya dialah the one.
"Sir, makan malam sudah siap," ujar salah satu kru kapal menegur Anthony yang sedang duduk di tepian dek kapal. Ia terlihat damai menikmati semilir lembut angin laut yang mengenai wajahnya.
Pengusaha muda itu membuka matanya, dengan penuh ketegasan, ia menginteruksi kru kapalnya untuk pergi dengan tangannya. Anthony kemudian memilih menatap Sang Surya yang sebentar lagi hendak tenggelam di ufuk Barat.
Suasana damai seperti ini mengingatkan Anthony akan pertemuan pertamanya dengan Diana. Berawal ketika dirinya enggan menghadiri pesta salah satu teman saat ia duduk di bangku sekolah. Tepatnya, lima bulan yang lalu.
"Apa kau tega membuat ibumu yang malang ini bersedih?" Rengek Elizabeth yang baru menjejakkan kaki di dalam ruangan berukuran 5x10 meter persegi yang biasa dipakai kerja oleh anak semata wayang nya itu
Anthony tau maksud Sang Ibu yang telah mengambil kuda duduk di depannya itu. Apalagi kalau bukan ingin menjodohi dirinya dengan para wanita 'pilihan'.
"Kita sudah membicarakan ini, Ibu. Aku tidak tertarik untuk menikahi mereka," jawab Anthony dengan nada bosan
Mendengar jawaban Anthony, seketika Elizabeth segera memegang dadanya. Ekspresinya berubah dramatis, "Ibu sudah tua, anakku. Setidaknya sebelum aku meninggal, aku ingin memeluk bayi mungil yang akan kupanggil cucuku,"
"Apakah kau tidak pernah memikirkan perasaan ku? Setidaknya walaupun semua wanita bangsawan yang aku jodohkan untukmu tidak sesuai dengan pilihanmu, pilihlah seorang wanita dan menikahlah dengan nya! Aku takut jika semakin lama kau membujang, kau akan berakhir dengan menyukai jenismu sendiri,"
Anthony membelalakkan matanya mendengar penuturan Ibunya. Darimana Ibunya mendapat pikiran seperti itu?
Anthony memejamkan matanya, mengurut dahi nya, sambil menyusun kata-kata dalam benaknya. Jika wanita yang ia sayangi itu mulai mendramatisir keadaan, sudah pasti dia akan kalah.
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi, berjanji lah Ibu tak akan mempermalukan ku lagi dengan menyuruhku berdansa bersama para wanita lajang seperti seorang bujang lapuk," ujar Anthony dengan nada final
Elizabeth seketika tak percaya dengan pendengarannya. Siasatnya kali ini berhasil! Tanpa sadar ia bertepuk tangan dengan penuh suka cita. Hari ini anak semata wayang nya akan pergi ke pesta!
Dalam hati, Elizabeth terus merapali do'a agar Anthony bertemu dengan belahan jiwanya dan memperkenalkan wanita itu padanya. "Tenang saja, my dear son. Kali ini Ibu tidak akan pergi denganmu. Ibu akan menghabisi malam ini berpesta bersama Ayahmu,"
Anthony mengangguk paham lalu kembali sibuk dengan kertasnya.
"Tapi, biarkan Ibu menyiapkan setelan terbaik untukmu. Oh kau tidak tau betapa bahagia nya kami mendengar keputusan yang kau buat," ucap Elizabeth sebelum melesat pergi dari ruang kerja Anthony bagaikan seorang remaja kegirangan
Tiga jam kemudian, Anthony menyesali keputusannya. Seharusnya ia menolak saja permintaan Ibunda nya daripada sekarang harus berada di kerumunan orang asing yang baru ia temui.
Untuk kesekian kalinya, Anthony mengambil gelas wine dari nampan pramusaji yang berlalu lalang di sepanjang ball room keluarga Moonrose.
Dirinya sudah lelah berbicara dengan para koleganya hanya sekedar untuk membahas pembangunan pabrik barunya. Kerongkongannya terasa kembali segar ketika ia menyesap gelas wine nya itu.
Ia melihat keadaan sekitar sebelum memutuskan untuk pergi dari sana.
Brak!
Baru saja Anthony membalikkan badannya, ia tak sadar sudah menabrak seorang wanita hingga mengakibatkan wanita itu jatuh terjerembab di lantai.
Bagaikan melihat manusia terbang, seluruh tamu undangan yang berada di sekeliling mereka terkesiap dan di detik selanjutnya, suara musik berhenti. Semua orang memandangi nya atau yang lebih tepatnya lagi Sang korban yang sekarang terlihat mengenaskan dengan tumpahan wine di gaun pestanya.
Tak ingin membuat wanita itu menahan malu lebih lama, Anthony segera berlutut dan membantu wanita itu untuk berdiri. "Maafkan atas kecerobohanku, nona," bisik Anthony.
Sesaat ketika wanita itu telah beridir sempurna, gelak tawa terdengar di sekitar mereka, hingga Sang empunya pesta datang menghampiri mereka
"Diana, apa kau tidak apa-apa?" Tanya seorang wanita yang memiliki guratan tegas di wajahnya. Melihat kemiripan wajah keduanya, Anthony yakin mereka sekeluarga.
"Ya Tuhan! Apa yang terjadi pada gaunmu!? Itu adalah gaun yang kau jahit sendiri selama musim panas hingga kau mendekam di dalam kamarmu! Katakan pada ku, siapa yang tega melakukan ini padamu?"
Mendadak semua pasang mata menatap Anthony dengan tatapan beraninya-kau-mengotori-gaun-gadis-polos-itu
Anthony menelan ludahnya. Apa yang harus dilakukannya sekarang?
Ketika wanita beraut wajah tegas itu berakhir menatapnya. Anthony yang hanya mematung diselamatkan saat tiba-tiba lampu padam.
Seluruh hadirin di pesta itu riuh bertanya-tanya apa yang terjadi, namun, tak lama kemudian, terdengar suara alunan musik dengan tempo pelan terdengar. Ketika itulah lampu chandelier di tengah ruangan hidup kembali
"Ladies and gentleman! Mari, kita akhiri malam berbahagia ini dengan berdansa bersama!" Deklar sang mempelai laki-laki menyita semua perhatian di ruangan ini
Anthony mengambil kesempatan itu dengan mengendap-ngendap melewati wanita garang yang tak segan-segan memarahinya di depan umum dan mensejajarkan posisinya pada wanita cantik yang teguyur wine nya
"Permisi, dengan penuh hormat, maukah kau berdansa denganku?" Ucap Anthony ntah ada kenapa, ia tidak lagi ingin pergi dari sana dan memutuskan untuk mengambil resiko
"Aku mohon, berdansa lah sekali saja denganku. Aku tak ingin membuat malam mu hancur karena kesalahanku,"
Ketika matanya menelusi wajah rupawan milik wanita berambut coklat itu. Anthony merasakan perasaan asing di dadanya. Rasa itu semakin menjadi-jadi ketika akhirnya wanita itu menerima ajakannya dan mengenggam tangannya.
Dalam sekejap, ketika ia tersenyum kepada Anthony. Pria itu langsung melupakan segala ucapan nya yang tidak ingin menikah.
Momen dimana tangan mereka menyatu, ia yakin. Wanita inilah belahan jiwanya. Dia lah wanita yang selama ini ia cari.
Alunan musik klasik di sudut ruangan mengalir merdu menemani keduanya berdansa. Pegangan tangan Anthony yang semula hanya formalitas berubah begitu posesif. Ia tak tau kenapa dirinya tidak ingin melepas tangan wanita yang ia bahkan tidak tau namanya itu.
Pandangan matanya seakan terkunci pada manik hazel di depannya, aroma parfum yang manis yang keluar lembut dari tubuh wanita itu perlahan dan dengan pasti membuat batin Anthony berteriak ingin menyecapnya.
Dan dari situlah semua kisah mereka dimulai. Waktu terasa begitu cepat ketika Anthony berkunjung ke kediaman keluarga Campbell bersama Ayah dan Ibunya.
Lalu dilanjutkan dengan pesta pertunangan ia dan Diana, dan sebulan kemudian, mereka menikah lalu pindah ke mansion keluarga di tepi kota Prancis.
Ia masih ingat perasaan gugupnya dan haru yang menyelimutinya ketika melihat calon istri nya turun mengenakan gaun putih sederhana yang terlihat begitu memukau di matanya. Ya, Diana berhasil membuat degub jantungnya berdetak tak karuan.
Sayang seribu sayang, pekerjaan Anthony tidak bisa membuat pria berumur dua puluh empat tahun itu berdiam diri di rumah.
Banyak hal yang harus ia tangani seorang diri, maka dari itu ia terpaksa meninggalkan Diana. Awalnya ia berencana hanya akan pergi untuk dua minggu lamanya. Namun, nasib berkata lain.
Ketika Anthony dan anak buah nya ingin membangun pabrik, mereka tak sengaja menemukan tambang emas besar-besaran di dekat tanahnya.
Ekspedisi yang semula hanya satu bulan berlangsung lebih lama daripada yang ia kira. Tidak ada alat komunikasi apapun yang bisa ia gunakan, bahkan surat-surat yang ia kirim kembali lagi padanya.
Sampai setelah emas ini berhasil di bawa kembali ke Prancis dan musim badai laut reda, akhirnya Anthony dapat kembali ke rumahnya, kembali pada Diana.
***
TBC