Lady Affair

Lady Affair
Extra Part


Tak terasa Victoria telah menginjak usia dua tahun. Dan Diana, merasa hari-harinya di mansion tak lagi sepi.


Ia bermimpi bahwa Victoria menjadi seorang gadis cantik jelita yang senang berpetualang di alam bebas. Pada saat anaknya itu bermain di rumah pohonnya, ia bertemu dengan seorang pria. Dan mendadak Diana terbangun dari tidurnya. Ia segera beranjak dan hendak mengambil Victoria dari tempat tidur yang khusus dibuat untuk bayi.


Bagaikan kerbau yang terkejut oleh gung,


jantung Diana bergemuruh kencang ketika ia tidak mendapati bayi mungilnya disana


"Bayiku Victoria! Dimana kau?"


Adrenalin Diana terpacu laju. Malapetaka apa ini? Kenapa bayinya hilang?


Perasaan Diana ia hanya terlelap tidur sebentar saat membacakan buku cerita anak-anak sebagai pengantar tidur sang buah hati.


Diana segera mencari di seluruh penjuru ruangan. Siapa tau, bayinya itu sedang bermain-main. Di menit setelah dirinya menyusuri seluruh sudut kamar, ia tak dapat menemukan Victoria dimanapun.


Air mata mulai menggenangi pelupuk mata Diana tak dapat membayangkan jika Victoria menghilang dalam penjagaannya membuat dadanya sesak. Bagaimana kalau sampai anaknya diculik?


Diana terisak, sampai sebuah suara tawa khas bayi mengagetkannya. Ia mengenal suara itu. Suara bagaikan lonceng suci malaikat di pagi hari.


Dengan segera, ia membuka pintu kamarnya. Pemandangan di depannya membuat segala kekalutan serta kegundahan hatinya sirna.


"Kejutan!" Ucap Anthony yang sedang menggendong Victoria balita di tangannya


Diana mengusap air matanya lalu memeluk anak dan suaminya itu. "Jangan bercanda seperti itu, kau membuatku takut,"


Anthony tersenyum sedikit merasa bersalah kala melihat reaksi Diana yang panik sekali.


Tak ingin momen haru ini terlewatkan begitu saja, Anthony mengeluarkan sebuket bunga dari belakang punggungnya.


Wajah Diana yang terkejut dan suaranya yang memekik kaget membuat Anthony tersenyum penuh kemenangan


Diana tak dapat menahan tawanya melihat tingkah kedua orang yang ia sayangi itu lalu menerima buket bunga yang diberikan keduanya dengan tawa bahagia


"Ayah punya ide, Victoria," ucap Anthony menyita perhatian


Diana yang sedang menghirup aroma harum bunga segar di dalam buket itu menatap sang suami dengan penasaran.


"Victoria ingin punya adik, Ibu," ucap Anthony merubah suaranya bak anak kecil sambil menggerakkan kedua tangan mungil anak mereka


Mendengar ide sang suami, Diana memukul pelan lengan Anthony.


"Ayolah Ibu, Victoria mau punya teman main selain Ibu dan Ayah,"


Diana menutup wajahnya yang tersipu malu. Sementara itu, Anthony sudah memberikan Victoria kecil kedalam pelukan Maria yang sedari tadi berada di belakang tubuhnya.


“Tolong bekerjasama hari ini ya, anakku,” bisik Anthony membuat siapapun yang mendengar suara lantangnya tersipu malu


Maria mengangguk lalu membawa Victoria kecil menuruni tangga bersamaan dengan suara pintu tertutup.


Maria yang melihat kedua tuannya seperti di mabuk cinta tak dapat menahan senyumnya untuk mengembang. Ia mengambil tangan mungil Victoria di dalam pelukannya sebelum mencium tangan itu.


“Kamu beruntung sekali, wahai nona muda. Saya tidak sabar menghabiskan waktu bersama anda hari ini,”


Tawa Victoria setelahnya membuat Maria muda tak dapat menahan rasa sayangnya. Ya, mulai sekarang, dia akan mengabdi kan jiwa dan raganya untuk mengasuh Victoria. Bayi ini sudah lebih dari cukup untuk membawa kebahagiaan di hidupnya. Biarlah cinta Maria kandas seiring kepergian Edmund hari itu. Namun, ia tidak akan membuat bayi tak berdosa ini mengalami nasib malang terlibat cinta terlarang. Ia akan membesarkan Victoria hingga menikah dan hidup bahagia selamanya.


Sampai saat itu tiba.


•••


-The End-