
Tak terasa seminggu sudah mereka berada di kediaman Maxwell. Akhirnya mereka pun kembali ke rumah mereka.
Selama berada di sana, hubungan mereka menjadi lebih dekat dari sebelumnya. Kalau dahulu Diana tak akan berani mengatakan Anthony manja namun, sekarang ia berani bersumpah bahwa Anthony benar-benar tidak mau lepas dari sisinya.
Kalau dahulu ia begitu takut dengan cinta, sekarang dia berani untuk mengatakan pada Tuhan kalau Anthony lah yang ia cintai. Ya, ia mencintai Anthony, suami yang telah meninggalkannya hampir setahun lamanya.
"Apa kau lelah, My Love?" Ucap Anthony yang sedari tadi baring di paha istrinya itu.
Diana tersenyum lalu membelai pipi Anthony, "aku tidak merasakan lelah sedikitpun, My Lord. Aku hanya merindukan masakan Florest," jawabnya lembut
Anthony tersenyum lalu bangkit dari posisinya, "seberapa jauh lagi Paul?" Tanya Anthony yang membuka sekat kecil yang langsung mengarah pada kusirnya itu
"Sebentar lagi sampai, Sir!" Jawab Paul setengah berteriak
Anthony mengangguk lalu menutup sekat itu dan kembali ke sisi Diana. Baru saja ia hendak kembali tiduran di paha istrinya, ia berhenti waktu melihat perkarangan depan mansion nya.
"Sayang sekali, kita sudah sampai," ucap Anthony setengah kecewa, padahal ia masih mau berduaan dengan istrinya di kereta
Diana tersenyum lembut pada Anthony, "tunggu aku di kamar," katanya membuat bibir tipis pria itu terangkat naik
"Aku akan segera mandi!" Katanya lalu keluar dari kereta, membantu Diana turun dari kereta, dan berjalan duluan agar ia bisa cepat-cepat mandi
"Selamat datang kembali Tuan dan Nyonya Maxwell," sapa para pelayan yang melihat Tuan nya berlari masuk ke dalam mansion
Diana tertawa pelan melihat tingkah Anthony yang seperti seorang remaja. Ia mengalihkan perhatiannya pada Florest dan Maria yang berdiri di sampingnya.
Wajah mereka tampak kusut saat Diana menghampiri mereka, membuat Diana bertanya-tanya dalam hati.
"Ada apa? Kenapa wajah kalian tampak gelisah seperti itu?"
Maria hendak mengucapkan sesuatu namun, berhenti saat sebuah suara menginterupsinya.
"Diana!"
Mendengar suara itu, sekujur tubuh Diana mendadak merinding. Diana benar-benar telah melupakan seseorang yang dahulu menghantui pikirannya itu.
"Diana, my love, apa kau mendengarku? Aku sangat merindukanmu sampai rasanya aku akan gila," sambungnya menghampiri Diana dan menggemgam tangan kurus Diana
"Aku mendengar bahwa kau pergi dengan pria itu. Maafkan aku karena tidak berani mengatakan betapa aku mencintaimu di depannya. Maafkan aku karena menghilang begitu saja, kau pasti cemas kan?"
Katanya lalu memeluk Diana. Melihat itu Florest dan Maria segera menundukkan pandangan mereka dan berharap cemas agar Tuan Muda mereka tidak melihatnya.
"Diana? Kenapa kau tidak mengatakan apapun? Diana, apa kau marah padaku?"
Edmund kembali menggoyangkan tubuh wanita yang ia cintai itu, namun, yang ada Diana hanya diam saja.
"Diana? Katakan sesuatu, My Love! Tolonglah, jangan buat aku gila seperti ini, aku mohon!"
"Diana.." panggil Edmund frustasi, ia mengurai pelukannya dan menatap wajah Diana yang kosong
"Baiklah tidak apa-apa, bagaimana kalau kita pergi dari sini? Kita pindah ke luar kota, aku akan membeli rumah di Irlandia. Hanya kita berdua, kita bisa bebas berkuda kemanapun yang kita mau, kita bisa piknik sepanjang hari, kita bisa—"
"Edmund, maafkan aku," potong Diana kini membalas tatapan pria yang tampak amat berantakan. Jenggot dan kumis yang biasanya ia cukur kini ia biarkan begitu saja, kantung matanya yang hitam, serta bau alkohol yang tercium dari pakaiannya membuat Diana merasa bersalah.
Namun, ia tidak bisa melakukan hal yang sama seperti dulu. Ia tidak bisa mengkhawatirkan pria lain seperti ini. Tidak saat sekarang Anthony berada di sisinya.
"Tidak Diana, kau tidak bisa memperlakukan ku seperti ini," ujar Edmund yang matanya berubah merah menahan kesedihannya. Tidak, Diana mencintainya. Diana tidak mencintai pria itu.
"Aku tidak bisa ikut denganmu, aku mencintai—"
"Edmund, aku—"
Belum sempat Diana mengatakan sesuatu Edmund telah lebih dahulu menciumnya. Ciuman penuh amarah, begitu kasar, benar-benar implementasi dari hati nya yang telah hancur. Ya, Edmund ingin Diana merasakan betapa sakit hatinya.
Diana membelalak kan matanya, tangannya memberontak, ia hendak melepaskan diri, namun, tangan Edmund yang memegang pinggangnya begitu kuat.
"Nyonya!" Maria dan Florest sontak berlari kearah mereka, namun kalah telak dengan sesosok dari belakangnya.
"Aaa!!" Pekik Maria saat ia melihat Tuan nya menarik bahu Mr. Ed dari Diana lalu meninju wajah tampan pria itu dengan brutal.
Anthony tidak berhenti memukuli Edmund, ia tidak memperdulikan tangisan Diana serta teriakan Maria yang histeris melihatnya, hingga Paul dan Carlos datang dan melerai mereka.
"Demi Tuhan, Mr. Ed, anda sebaiknya pergi dari sini,"
Anthony tampak mengatur napasnya yang naik turun, ia ingin membunuh pria itu saat ini juga.
"Tidak! Aku—"
"Jika kau berani mengatakan kalau kau mencintai istriku, kau akan mati saat ini juga, keparat!" Potong Anthony yang hendak menghujam Edmund dengan tinjunya namun, berhasil ditahan oleh Paul
Edmund membuang ludahnya yang berisi darah kental ke lantai marmer mansion Anthony lalu beranjak pergi, ia tak lupa melihat sekilas wanita yang ia cintai sebelum pergi dari sana.
Setelah kepergian Edmund, Diana yang syok segera menguasai dirinya dan menghampiri suaminya yang tampak amat sangat murka itu.
"Anthony aku—"
Tangan Diana yang berusaha menggapai jemari Anthony di tepis begitu saja olehnya, lalu, untuk pertama kalinya, Diana tak melihat tatapan lembut Anthony melainkan tatapan tajam nan sinis dari suaminya itu.
Lalu Anthony membalikkan badannya dan kembali ke kamar mereka. Diana yang masih berdiri disana tak dapat menahan air matanya.
Florest segera mendekati Diana lalu mendekapnya, lalu membawanya masuk ke dalam.
"Anthony membenciku, Florest. Ia membenciku. Aku benar-benar istri yang buruk!" Ucap Diana dengan suara paraunya
Florest terus mengusap bahu Diana, menenangkan wanita muda itu, "sst.. kau bukanlah istri yang buruk, My Lady, kau wanita yang kuat," ujar Florest
Diana mengusap air matanya, lalu menatap Florest dalam-dalam, "apa yang harus kulakukan Florest? Aku tidak mau pernikahan ini hancur,"
Florest mengusap air mata yang jatuh ke pipi Diana, ia sudah mengganggap Diana sebagai anaknya. Karena itu, melihat Diana menangis seperti ini, rasanya hatinya remuk. Layaknya seorang Ibu yang melihat anaknya bersedih
"Temuilah suamimu, dan katakan padanya kau mencintainya," ucap Florest
Diana menundukkan wajahnya, "aku takut, Florest. Aku takut Anthony tidak akan memaafkanku,"
"Dia pasti akan memaafkan wanita yang ia cintai. Setiap rumah tangga pasti akan mengalami masalah, My Lady. Tapi ingat, setelah badai, pasti akan ada pelangi. Tidak ada masalah yang tidak terpecahkan," ujar Florest sambil menggemgam tangan Diana yang bergetar
"Sekarang, bangkit dan tegarkan hatimu, pergilah menemui suamimu,"
Diana mengangguk, ia menghapus kembali air matanya yang tumpah, lalu berjalan perlahan menaiki tangga yang membawanya ke lantai dua.
Ia berjalan penuh kehati-hatian sebelum membuka pintu besar bercat putih tempat kamar mereka berada.
***
TBC