Lady Affair

Lady Affair
XII: Terlambat


Sebelum bertemu dengan Diana, Edmund tak pernah percaya dengan cinta.


Sedari kecil, ia sudah hidup mandiri. Ia sudah terbiasa ditinggalkan ibunya di pasar hanya agar Ibunya dapat mengatakan pada semua orang bahwa dia hilang dan mendapatkan perhatian Ayah yang menjadi kepala inspektur polisi agar mencari nya.


Edmund juga sudah biasa di kunci kan di dalam lemari oleh kedua saudara tirinya dan baru di buka saat malam tiba.


Apalagi diperlakukan buruk. Jangan di tanya lagi bagaimana masa kecil Edmund jika kalian tidak mau menitikkan air mata kalian. Maka dari itu lah Edmund tidak pernah mempercayai orang lain. Hatinya sudah terlalu banyak tersakiti hingga karakternya terbentuk sedemikian rupa agar ia dapat membentengi dirinya


Namun baru kali ini ada orang lain yang begitu baik padanya. Orang yang menyelamatkannya dari kematian, orang yang tersenyum padanya, bahkan dengan tulus memberikannya kue buatan rumah yang dahulu tidak pernah ia rasakan.


Seseorang yang tidak pernah menatap dirinya dengan wajah kasihan, tidak menjauhinya saat tau masa lalunya, orang yang bahkan tidak pernah ia bayangkan. Ia tidak mau hartanya, ia melakukan semua kebaikan itu tulus tanpa imbalan.


Lalu apa salah jika Edmund ingin dicintai oleh orang yang ia cintai? Apa salah pria kesepian ini sekali saja menjadi egois dan menyimpan hati Diana untuk dirinya saja?


Edmund menghela napasnya dan menyapu pikiran nya. Setelah beberapa hari mereka menghabiskan waktu kemarin, dirinya yakin, Diana sudah mencintainya.


Aku mencintaimu, kemarin, hari ini, dan selamanya.


February 13 1890


-E. B


Tulis Edmund dibelakang lukisannya. Sore itu, Edmund berencana memberikan kejutan untuk Diana saat nanti mereka jalan-jalan di taman. Tidak lupa ia bungkus rapi lukisannya tuk ia berikan sebagai hadiah pada wanita yang ia cintai itu


Edmund merapikan penampilannya di cermin sekali lagi, ia ingin Diana terkesan dengan penampilannya, maka dari itu ia memakai jas kesayangannya.


Edmund duduk di depan pagar mansion Diana, menunggu agar wanitanya itu keluar. Sengaja menunggu agar Diana keluar dan memberikannya secara langsung.


Lima belas menit menunggu di sana, Edmund merasakan ada yang tidak beres. Tidak biasanya Diana tidak keluar. Wanita itu tidak pernah telat untuk berjalan-jalan dengannya.


Edmund segera beranjak dari tempatnya menunggu, ia membawa lukisannya dan berjalan masuk ke dalam kawasan mansion keluarga Maxwell.


Aneh rasanya tidak melihat Paul yang biasanya sibuk memoles kereta kuda maupun si Pak Tua yang selalu berlagak sedang memangkas rumput di halaman.


Kemana semua orang? Batin Edmund terheran


Ketukan pintu Edmund menggema seisi mansion, tak berapa lama kemudian, Maria membukakan pintu dengan wajah yang seakan melihat hantu di siang bolong.


Edmund mengabaikan Maria dan segera masuk ke dalam, "Diana, dimana kau?" Panggil Edmund dari bawah dan suaranya seketika menggema seisi ruangan


Merasa tak ada sahutan, Edmund menoleh pada Maria yang berdiri di belakangnya, "apa kau melihat Diana? Janggal sekali rasanya tidak melihat dia keluar rumah hari ini,"


Maria menggeleng, takut-takut ia melirik kearah Edmund sebelum membuka mulutnya, "Mr. Ed sepertinya hari ini bukan hari yang tepat un-untuk pergi jalan-jalan bersama Lady Diana," ujar Maria dengan napas yang turun naik


Maria menggeleng, "Tuan—"


Belum rampung Maria berujar, Edmund telah lebih dahulu berlari menaiki tangga menuju kamar Diana, ia meninggalkan begitu saja lukisan nya di lantai marmer yang dingin.


"Mr. Ed!"


Panggilan Maria dari balik punggung pria itu tak digubris. Langkah kecil Maria sudah jauh tertinggal dengan langkah lebar Edmund di depannya


Maria menghela napasnya. Tamat sudah riwayat pria pujaannya itu. Walaupun jelas-jelas Maria bisa tau bahwa pria itu mencintai Nyonya Diana, Maria hanya berharap kecil agar Mr. Edmund meliriknya. Sayangnya, selama ini, ia tidak pernah sekalipun di lirik, mata pria itu hanya tertuju pada Lady Diana dan selalu Diana.


Selama ini Maria sudah bersusah payah membantu Edmund untuk bisa bertemu dengan Diana, bahkan dialah orang yang memberitahu Edmund segala kabar Diana setiap hari. Tapi, Maria harus menerima tempatnya yang hanya sebagai kurir pengantar kabar.


Edmund berhenti di jalannya. Kakinya membeku saat ia melihat Diana yang sedang berpelukan dengan seorang pria


"Siapa kau?"


Suara bariton milik pria yang membuat telinganya panas seketika menyadarkan dirinya bahwa ia terlambat. Ia terlambat merebut wanita yang ia cinta sebelum sang pemiliknya kembali.


"Anthony, mari masuk ke dalam, dia-dia bukan siapa-siapa," tegur Diana menyentuh pipi Sang suami guna mengalihkan perhatian nya


Anthony menatap pemuda yang terlihat seumuran dengannya itu, ntah kenapa perasaan tak nyaman tiba-tiba menyergap Anthony saat ia melihat cara pria itu menatap istrinya.


"Siapa kau sampai bisa kemari?" Tanya Anthony lagi membuat keadaan berubah mencekam.


Diana akhirnya terpaksa membalas tatapan Edmund yang tak kunjung lepas darinya, ia memberi isyarat agar Edmund segera pergi dari sini


Melihat wanita pujaannya hampir menangis karena takut ketahun oleh suaminya seketika Edmund dilanda perasaan kesal yang menjadi-jadi.


Wanita yang ia cintai menganggapnya bukan siapa-siapa, dan Edmund tak bisa melakukan apapun untuk mengambil Diana dari pelukan Anthony.


"Oh rupanya kau disini!" Tiba-tiba Florest sudah berada di sisi Edmund dan menarik pria itu, "maafkan saya, Sir. Pria ini salah jalan saat akan mengantarkan lukisan pesanan saya. Saya mohon undur diri, Sir! Selamat sore," ucap Florest lalu menarik Edmund yang tak mau melepaskan tatapannya pada Diana


Anthony yang melihat betapa terlukanya pria di depannya membuat alisnya berkerut bingung. Sebenarnya ada apa disini? Siapa dia? Kenapa dia melihat Diana seperti itu?


"Anthony, aku mohon, masuklah ke kamar," ujar Diana memohon seakan ia amat tersakiti saat ini


Anthony menatap wajah istrinya yang di poles make up dan gaun yang memperlihatkan bahunya itu dengan heran, namun ia memutuskan untuk menepis perasaan itu dan tersenyum pada istrinya.


***


TBC