
Menurut Diana, lebih baik Anthony marah padanya daripada di diamkan seperti ini.
Sejak kemarin lusa, Anthony memang tidak lagi pergi kerja ke perusahaannya. Tapi, dia mengurung dirinya seharian di ruang kerjanya. Ia tidak akan keluar jika tidak untuk hal-hal penting lainnya. Jelas sekali bahwa Anthony menghindari Diana.
"Apa Anthony tidak mau makan bersamaku?" Tanya Diana saat Forest berlalu sehabis menghidangkan makan malam nya
Forest menunduk, "Tuan ingin makan malamnya diantar ke ruang kerjanya," jawab nya mengiba
Mendengar itu Diana menghela napasnya. Percuma saja ia berusaha makan agar cepat sembuh, toh Anthony tetap tidak ingin menemuinya.
Saat Diana kembali melihat Forest keluar dari dapur membawa nampan, sebersit ide terlintas di kepalanya.
"Forest! Tunggu," Diana segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Forest ditengah perjalanannya.
Ia mengambil nampan dari tangan Forest dan menggantikan pelayan nya itu untuk mengantar makanan ke ruang kerja Anthony.
Ketukannya pada pintu oak ruang kerja suaminya itu bergema seisi mansion, lalu saat ia mendengar suara suaminya yang menyuruhnya masuk, Diana menghirup napas dalam-dalam.
Sesaat Anthony tak peduli siapa gerangan yang mengantarkan makan malamnya namun, saat ia melihat wanita itu tidak kunjung keluar dari ruangannya, ia mendongak.
Dan saat itu juga lah, dirinya terdiam. Hatinya tiba-tiba menghangat melihat wajah Diana yang berseri-seri. Senyum Diana mengembang begitu saja menampakkan deretan gigi putihnya.
Demi Tuhan, Anthony merasa lemah sekarang.
"Aku membawakanmu makan malam," kata Diana yang sukses membuyarkan semua pikiran liar Anthony
Pria itu berdehem. Menetralkan semua perasaan nya ketika melihat Diana. Ia tidak boleh lupa kalau dirinya bukanlah pria yang wanita itu cintai
"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Tanya Diana begitu polosnya membuat Anthony mau tak mau menatapnya kembali.
Anthony benar-benar tak percaya dengan Diana. Mengapa ia begitu santai berbicara padanya seakan kejadian dua minggu yang lalu bukanlah hal besar dalam hubungan rumah tangga mereka?
"Aku akan menganggap itu sebagai belum," lanjut Diana ketika melihat ekspresi dingin Anthony
Diana bergerak menyusuri rak-rak penuh buku dan dokumen-dokumen yang berada di dinding ruang kerja suaminya itu. Sebenarnya jantungnya berdegub kencang. Diana tak tau darimana semua nyalinya itu datang, ia benar-benar ingin melihat wajah Anthony saja tapi kenapa kakinya tidak mau pergi dari sana?
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" Suara dingin Anthony yang berada di belakangnya membuat punggung Diana menegang. Apa yang harus ia lakukan?
"Oh ya, baru-baru ini aku sedang mempelajari resep cranberry muffin kesukaanmu, jadi aku perlu mencari beberapa buku referensi," jawabnya asal-asalan.
Diana terus menyibukkan dirinya mencari buku resep itu sampai ia mati kutu karena Anthony tiba-tiba telah berada di belakangnya dan mem-bloking pandangannya dengan tangan kekarnya itu.
"Sejak kapan pengusaha real estate menyimpan buku resep di ruang kerjanya?" Ujar Anthony sarkastik.
Diana segera membalikkan badannya hendak berkilah namun, alih-alih berdiksi, mulutnya malah terkesiap karena mendapati wajah Anthony hanya berjarak hanya beberapa centi saja darinya itu.
Diana mencoba mengucapkan berbagai alasan dan berapa kali pun ia mencoba, dirinya selalu digagalkan oleh hembusan napas Anthony yang mengenai wajahnya.
Mereka berdiri begitu saja tanpa ada satupun yang berani membunuh jarak tersebut. Diana yang menunggu Anthony untuk mengambil langkah itu sedangkan Anthony yang menahan diri. Keduanya berada amat dekat tapi terasa begitu jauh, rasanya ada tembok raksasa yang menghalangi kedua nya untuk bersatu.
Dengan segenap kekuatannya, Anthony melepaskan pegangannya pada rak diatas kepala Diana lalu berbalik. Jika dia berada di posisi itu lebih lama, dirinya tau, dia akan kehilangan kendali.
"Apa kau mempermainkanku?"
Suara Diana menghentikkan Anthony dari langkah nya menuju kursi kerjanya. Ia berbalik dan mendapati Diana yang menangis
"Aku.. aku tau ini semua salahku. Aku tau aku menyakitimu. Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf karena tidak mengatakan apapun kepadamu,"
Diana mengambil napas dalam-dalam sebelum menyeka air matanya.
"Saat kau pergi ke luar sana untuk melakukan ekspedisimu. Apa kau tau setiap hari aku menulis surat padamu? Apa kau tau betapa kesepiannya hatiku seorang diri di mansion ini?"
Diana menggeleng, "benar, aku melanggat janjiku. Aku berbicara dengan orang asing yang menyelamatkan ku saat aku hampir saja mencelakai diriku sendiri,"
Diana mengusap kembali air matanya, dia benar-benar lelah dengan semua ini, "ini juga salahku saat surat-suratku kembali lagi padaku. Ini juga salahku saat aku berteman dengan tetangga kita, ini juga salahku karena membiarkan pria lain menemaniku saat aku kesepian,"
"Aku tidak peduli kalau kau mengatakanku wanita murahan. Aku tau kau tidak mau menyentuhku. Aku tau betapa kotor nya aku,"
Diana menyeka kembali air mata yang tak mau berhenti keluar itu, ia benar-benar capek sekarang, ia ingin semua ini berakhir.
"Ini semua salahku karena telah goyah, aku tau aku tidak pantas menjadi istrimu. Aku tidak pantas menerima semua kebaikanmu, aku tidak pantas bersanding denganmu, aku tidak pantas mencintaimu,"
Rasanya dunia ini runtuh saat mendengar semua perkataan Diana. Kepergiannya selama ini tanpa sadar membuat wanita yang ia cintai itu terluka. Wanita yang ia cintai berhari-hari, bahkan berbulan-bulan seorang diri di mansion ini.
Dan semua amarahnya pada Diana hanyalah karena dirinya cemburu. Dia cemburu dan tidak menyadari bahwa semua ini juga karena salahnya.
"Diana—"
Diana segera berjalan keluar ruang kerjanya. Melihat itu, Anthony terduduk di kursinya lalu mengusap wajahnya. Diana mencintainya. Wanita yang ia kira mencintai pria itu ternyata mencintainya.
Dan demi Tuhan ia telah membuat Diana menangis hanya karena cemburu butanya itu. Anthony segera beranjak dari duduknya dan menyusul Diana yang telah lebih dahulu masuk ke kamar.
Malam ini, mereka akan baikkan. Ya, perang dingin ini haruslah berakhir.
Tok! Tok! Tok!
Tak ada sahutan, Anthony membuka knop pintu namun, terkunci.
Ia segera turun ke bawah dan menuju laci tempat ia menyimpan kunci cadangan.
"Sir, ada yang bisa saya bantu?"
Anthony melirik sekilas Carlos di sisinya, "carikan aku kunci serep kamarku, sekarang!" Titahnya
"Laksanakan, Sir!" Carlos segera membuka laci-laci di rak di sebelah perapian
Lima belas menit kemudian, mereka mendapatkan kunci yang mereka cari lalu Anthony segera berlari ke kamarnya dan masuk ke dalam.
Keadaan kamar telah hancur berantakan, vas bunga pecah, buku-buku berserakan di lantai, dan terdapat banyak bekas robekan baju dimana-mana
"Diana!" Panggil Anthony karena tidak menemukan istrinya dimanapun
Anthony yang mulai panik segera membuka pintu kamar mandi dan benar saja, ketakutan terburuknya terjadi.
Ia menemukan Diana yang tidur di dalam bath tub dengan genangan darah dimana-mana
***
TBC