Lady Affair

Lady Affair
V: Badai Salju


Pagi ini Edmund bersemangat untuk pergi berkuda bersama teman-teman lamanya di salah satu lintasan berkuda di Perancis.


Sudah berhari-hari ia belum mengunjungi pusat kota, padahal, biasanya, ia paling tidak betah tinggal di rumah.


Edmund menata penampilannya kembali di depan cermin, untuk ukuran pria sebaya nya, Edmund bisa dikatakan pria paling tampan di Perancis.


Dia akui, banyak sekali Nyonya dan Tuan bangsawan yang ingin anaknya menjadi pendamping hidupnya. Bahkan temannya, The Duke of Cornwall sering mencarikan dirinya wanita-wanita bangsawan yang layak untuknya. Oleh karena berbagai macam alasan diatas, kehidupan asmara Edmund tidak pernah berjalan mulus. Edmund sering kali ganti pasangan. Ia tipikal pria yang mudah bosan menjalin suatu hubungan dengan wanita yang sama.


Namun, kali ini, dia heran dengan dirinya sendiri. Kenapa dia bisa betah memandang wanita yang lebih suka membaca sembari duduk di pinggir jendela daripada tidur dengannya?


Kenapa dirinya selalu saja membuat alasan untuk pergi menemui Diana? Kenapa dia terus saja memperhatikan toples kaca pemberian Diana yang ia bahkan tidak berani sentuh karena takut bentuk kue itu akan hancur?


Kenapa seorang pria playboy sepertinya tidak lagi tidur dengan sembarang wanita? Kenapa malah senyum Diana yang terus menghantui mimpinya?


Untuk semua alasan yang ia sendiri bahkan tidak bisa jelaskan, Edmund memutuskan menjernihkan kepalanya dan bertemu teman-temannya. Mungkin seharian bersama orang lain lebih baik untuknya.


Saat Edmund berjalan menaiki kereta kencana, ia sempatkan untuk melihat ke arah jendela yang biasa Diana tempati. Dan benar saja, Diana disana, menatapnya.


Edmund mengedipkan matanya saat tau mata mereka bertubrukkan. Diam seperti itu sampai Diana melepaskan kontak mata mereka dan pergi menghilang dari jendela.


Ada rasa tak nyaman yang Edmund rasakan saat melihat raut sedih Diana, apakah ia harus pergi mengecek keadaan Diana?


"Sir! Apa kau baik-baik saja?" Suara William tiba-tiba menghentakkan Edmund kembali dari pikirannya. Ia menatap William lalu mengangguk


"Aku baik-baik saja. William, jika ada yang mencariku, bilang kalau aku pergi bertemu teman-temanku," titah Edmund lalu masuk ke dalam kereta nya


***


Badai salju yang mengguyur daerah sekitar Perancis membuat cuaca semakin membeku. Jendela-jendela yang bergemeletuk serta lantai porselen yang dingin menjadi teman Diana malam ini.


Usai mandi air hangat, Diana keluar dari kamar mandi dan segera mengenakan gaun tidurnya.


Wanita muda itu memastikan penghangat di kamarnya stabil lalu beranjak tidur, tak lupa ia sempatkan membaca buku dongeng yang menjadi kebiasaannya sedari kecil.


Saat Diana sudah tenggelam dalam kumpulan kata yang mengisahkan seorang gadis desa yang berlari meninggalkan sepatu kacanya, matanya telah mengerjap beberapa kali, dan ia memutuskan untuk berhenti membaca dan meniup lentera lalu baru saja ia berniat menarik selimutnya, terdengar bunyi ketukan di pintu


"My lady, ini aku, Maria,"


"Ada apa?" Tanya Diana bangkit dari posisinya dan berjalan membukakan pintu. Tidak pernah sekalipun ada orang yang mengganggu jam tidurnya, pasti ada sesuatu yang terjadi sampai Maria berani menganggunya.


Saat ia membuka pintu kamarnya, Maria sedang berdiri sambil membawa lilin dengan keadaan basah kuyup.


"Apa yang terjadi padamu, wahai gadis muda?" Tanya Diana khawatir


Maria menggeleng, "bukan aku, my lady. Tapi-tapi Sir Edmund yang terbaring membeku di bawah sana!"


"Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?"


Maria tiba-tiba mulai menangis. Ia menggigit jemarinya, terlihat begitu gelisah.


"Aku baru saja hendak mematikan lilin di ruang depan namun, aku mendengar ada suara ketukan pintu, lalu saat itu aku membukanya, dan menemukan Sir Edmund yang mengigil,"


Mendengar itu, Diana langsung mengambil tindakan, ia segera menutup pintu kamarnya dan menuruni tangga "Dimana Ed sekarang?"


"Di-dia berbaring di sofa depan," ujar Maria sambil segukukan


Diana segera berjalan cepat saat melihat Edmund terbaring dengan keadaan basah dan menggigil.


"Panggilkan Carlos dan Paul! Tambahkan kayu bakar kedalam penghangat ruangan. Ambilkan aku kain yang direndam air hangat, cepat!" Titah Diana mulai panik saat mendapati wajah pucat Edmund


"Apa yang terjadi Ed?" Tanya Diana cemas saat dirinya menyentuh tangan Edmund yang membeku


Ia menggemgam tangan itu berharap agar Edmund tidak kehilangan kesadaran. "Ed, apa kau bisa mendengarku?" Tanya Diana namun, nihil, satu suara pun tak terdengar keluar dari bibir pucat pria itu


Beberapa derap langkah kaki terdengar cepat mendekati Diana, Carlos yang membawa kayu bakar segera memasukkan kayu-kayu itu kedalam penghangat ruangan, sementara Paul yang sudah menyiapkan handuk segera mengelap tubuh Edmund.


"Biarkan kami mengurusnya, Nyonya," ujar Maria yang sudah tiba dengan air hangat


Di belakang Maria, terlihat Florest yang juga membawakan selimut dan pakaian ganti.


"Apakah itu pakaian suamiku?" Tanya Diana saat melihat kemeja putih dan celana wol hitam yang biasanya dipakai Mr. Maxwell


"Maafkan atas kelancangan saya, nyonya. Tapi, sepertinya tubuh besar Paul dan tubuh pendek suami saya tidak pas untuk ukuran tubuh pria muda seperti Sir Edmund," terang Florest


Diana mengangguk paham, "aku hanya kurang nyaman melihat pakaian miliknya," ujar Diana menutupi rasa rindunya


Satu jam kemudian, Edmund yang telah berganti pakaian di pindahkan ke kamar tamu di lantai bawah. Pria itu tidak lagi menggigil dan kini berubah menjadi dengkuran halus.


Diana bernapas lega, akhirnya hipotermia Edmund bisa di tangani dengan baik. Jujur, ini baru pertama kalinya ia melihat orang yang tak sadarkan diri akibat kedinginan.


"Maria, sudahlah. Jangan memaksakan diri, kau bisa tidur di kamarmu," ujar Diana kasihan


Maria segera membetulkan posisi berdirinya dan menggeleng, "saya tidak bisa meninggalkan anda begitu saja, my lady, ini sudah menjadi tugas saya untuk selalu berada di sisi anda,"


Diana menghela napas nya lalu tersenyum tipis, "apa kau tega membuatku khawatir dengan berdiri seperti tentara istana dan mengenakan baju lembab seperti itu?"


Maria segera menatap pakaiannya yang tadi basah akibat terkena badai salju saat membuka pintu. Ia sendiri bahkan sudah lupa dengan fakta itu.


"Saya.." Maria rasanya tak mampu berkata-kata. Ia terharu Lady Diana memperhatikan pelayan rendahan seperti nya yang bahkan dirinya sendiri saja malu dengan keadaannya


"Sudahlah, pergi ganti bajumu dan istirahatlah, aku akan membangunkanmu saat Sir Edmund sudah sadar,"


Mendengar penuturan Sang Nyonya, Maria menurut. Ia berjalan keluar kamar dan meninggalkan Diana serta Edmund yang terbaring tak sadarkan diri


Sayup-sayup Diana dapat merasakan ada seseorang yang mencium dahinya, ia ingin sekali membuka matanya tapi kedua matanya seakan menolak untuk menurut.


***


Sinar mentari pagi membangunkan Diana dari tidurnya. Ia mengerjap dan menemukan kasur yang kosong melompong ditinggal empunya.


Diana segera beranjak dari posisi duduknya, tiba-tiba ada yang jatuh merosot dari gaun tidurnya.


"Selimut?" Gumannya heran. Apakah Edmund yang menyelimutinya?


Diana berjalan keluar dari kamar dan menemukan Carlos, Paul, serta Edmund yang duduk bersama sambil menyantap sarapan mereka di meja makan


Diana tersenyum lega melihat punggung Edmund yang naik turun karena tertawa mendengar candaan Carlos


"Oh, selamat pagi, nyonya!" Carlos menyapa dan sigap berdiri menyambut nyonya rumah mereka. Paul yang melihat Diana pun segera berdiri kikuk.


Sedangkan Edmund hanya berbalik dan menatap Diana sambil tersenyum, "selamat pagi, Diana," sapanya lembut


Diana mendadak merasakan hatinya menghangat mendengar suara Edmund. Suara lembut yang menyapanya di pagi hari terasa sangat familiar, ia merindukan hal ini. Dahulu, Ibunya lah yang selalu menyambutnya dan membelai lembut saat ia sedang kesepian. Bahkan beliau tak pernah absen menyapanya di pagi hari.


Tanpa Diana sadari, setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Mengingat semua ini membuat sisi sentimentalnya tersentil. Diana segera berbalik dan mengusap air mata yang membanjiri wajahnya.


"Diana? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Edmund sembari bangkit dari kursinya dan menghampiri Diana, ia dengan hati-hati menangkup kedua tangan Diana yang menutupi wajah cantiknya itu


"Sstt.. tidak apa-apa, ada aku disini," bisik Edmund lembut lalu mencari kemana mata Diana agar manik hazelnya bertemu dengannya


Edmund perlahan menghapus air mata Diana yang kembali keluar dengan hati-hati. Keduanya tak sadar bahwasanya jarak diantara mereka sudah terkikis dan hanya menyisakan ruang untuk bernapas saja.


Edmund dengan sekuat tenaga menahan napasnya yang menyatu dengan napas Diana, mencoba untuk menahan hasrat dalam dirinya agar tidak mengambil langkah yang akan ia sesali nanti.


Melihat wajah Diana yang memerah rasanya Edmund tidak bisa menahan bibirnya untuk menyungging seutas senyuman. Wanita di depannya ini benar-benar tidak tau apa resiko menggoda seorang pria muda seperti dirinya.


Untuk beberapa detik saja Edmund bisa menikmati aroma mawar yang keluar dari tubuh Diana karena di detik selanjutnya, seseorang berdehem menginterupsi mereka.


Diana segera melepas tangannya dari genggaman Edmund lalu berbalik pergi. Langkah kaki wanita itu begitu mantap saat menaiki anak tangga hingga sekejap saja Diana telah menghilang dari pandangan Edmund.


Edmund menghela napasnya, lalu berbalik menemui Carlos dan Paul yang sedari tadi mencuri-curi pandang kearahnya. Rasanya nafsu makannya hilang.


"Apa kau menyukai nyonya kami?" Tanya Paul yang tertawa geli tak bisa menahan keingintahuannya


Mendapati pertanyaan tersebut, Edmund terdiam. Ia juga bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apa benar dirinya menyukai Diana?


"Oh ayolah bung! Jujur saja, aku bisa mengetahuinya dari caramu menatap Nyonya ku," tambah Paul menggodanya


Edmund menggeleng, "itu hanya halusinasimu saja. Aku hanya peduli padanya karena dia itu orang yang menyelamatkanku," Edmund beralasan, otaknya sudah buntu untuk memikirkan alasan apa yang sebaiknya ia gunakan agar Paul tidak curiga, dan tampaknya pria Afrika itu percaya dengan alasannya.


Carlos yang mendengar penuturan Edmund seketika menggeleng tak suka. "Jangan pernah menggoda seorang wanita yang sudah menjadi istri orang lain, Sir Edmund. Sebagai pelayan Mr. Maxwell yang setia, saya anjurkan supaya anda menjauhi Nyonya Diana sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi," tegur Carlos dengan nada serius


Edmund menelan salivanya. Istri orang? Ya memang benar, Diana adalah istri Maxwell. Seorang pembisnis yang mempunyai perusaahan multinasional, juga pria yang menjadi orang paling ia benci di dunia ini.


Ntah darimana perasaan ini muncul tapi yang pasti Edmund tak suka akan kehadirsn Maxwell karena pria itulah yang menikahi Diana. Dia benci akan fakta bahwa Maxwell lah yang bertemu dengan Diana terlebih dahulu.


Ya, dia benci semua itu karena dia tidak bisa mengubahnya, walaupun hartanya digadaikan.


"Baiklah, tampaknya anda sudah sehat, dan saya yakin anda sudah mampu untuk berjalan pulang kembali ke rumah anda," sambung Carlos sembari membukakan pintu depan mansion keluarga Maxwell


Edmund menatap Carlos sekilas lalu berjalan keluar dari rumah Diana. Dari belakang ia bisa mendengar suara Carlos yang mengatakan "semoga anda tidak lagi lupa dimana letak rumah anda, Sir Edmund," penuh nada sarkastik


Edmund ingin sekali memarahi Carlos dengan keberaniannya mengusir bangsawan seperti dirinya. Tapi, ia menahan rasa itu karena dia tau, Diana tak akan senang jika ia mengusir Carlos dari sini.


***


TBC