
Diana tak yakin ini sudah berapa bulan semenjak awal ia mengetahui dirinya hamil, tapi yang pasti, Diana jauh lebih bahagia sekarang
Sekarang ia memiliki rutinitas baru yang lebih padat dari sebelumnya. Di pagi hari, Diana akan mengikuti instruktur olahraga untuk Ibu hamil di dekat rumahnya. Setelah itu, saat menjelang siang, dia akan menyibukkan diri di perpustakaan yang menyatu dengan ruang menjahitnya.
Biasanya dia akan menjahit pakaian lucu untuk anak nya, lalu kemeja Anthony, dan terakhir jikalau sempat, ia akan membuat gaun-gaun untuknya, yang tentu saja berukuran extra
Lalu sorenya, Diana akan pergi ke paviliun di taman, dan menunggu Anthony pulang dari kantornya. Layaknya hari ini, seharusnya Anthony telah pulang sedari tadi. Namun, anehnya, suara kaki kuda tidak kian terdengar
"Maria, apa suamiku sudah pulang?" Tanyanya pada gadis muda yang berjarak lima meter di belakangnya itu
"Tidak Nyonya, saya tidak mendengar suara kereta kuda Tuan Maxwell,"
Diana mengangguk paham lalu melanjutkan kegiatannya membaca buku sambil mengusap perutnya. "Yang sabar ya, nak, Ayahmu bentar lagi sampai," bisik Diana
Saat Diana tengah menikmati tehnya tiba-tiba ia merasakan sakit yang luar biaasa pada perutnya.
Diana mengerang kesakitan, sementara Maria sudah memegangi sang Nyonya dengan wajah kebingungan.
"Nyonya? Ada apa Nyonya?"
Diana tak menggubris, rasa sakit di perutnya membuat kepalanya berdenging hebat.
"Nyonya! Ya Tuhan! Tolong! Tolong!"
Saat tak kunjung bantuan datang, Maria melepaskan pegangannya pada Diana, "saya akan memanggil orang, tunggu se-sebentar, Nyonya,"
Diana menahan sakit di perutnya sementara ia melihat darah ada dimana-mana
"Anthony! Anthony!" Panggil Diana dengan sekuat tenaga. Demi Tuhan, ia butuh suaminya saat ini
Bersamaan dengan kesadarannya yang hampir hilang, Maria datang dengan Paul dan Florest.
"Bertahanlah Nyonya! Sebentar lagi dokter akan datang," ujar Florest panik
Carlos segera menyuruh Maria membawakan alat-alat persalinan, sementara Paul telah pergi terlebih dahulu untuk membawa dokter yang memang bertempat tinggal satu kilometer dari mansion mereka.
Detik demi detik berjalan terasa begitu lambat sampai Anthony telah tiba dengan Elizabeth dan Arthur.
"Maafkan aku karena datang terlambat. Bertahanlah My Love, aku tau kau pasti bisa," ucap Anthony yang segera memegang tangan Diana
Proses persalinan terasa amat lama bagi Anthony maupun Diana. Melihat sang Istri berteriak kesakitan karena konstraksi pada tubuhnya.
Anthony terus merapal do'a melihat Sang Istri menahan sakit. Jujur, ia benar-benar tegang saat ini.
Ia tidak pernah melihat Diana begitu kesakitan sebelumnya. Dilain hal, Anthony ingin sekali merasakan rasa sakit Diana agar istrinya itu tidak lagi mengerang.
Saat peluh-peluh yang menyucur dari dahi Diana terjatuh, Anthony akan cepat-cepat menyeka keringat Diana. Sebisa mungkin meringankan kesakitan Sang Istri. Setelah tiga jam lamanya, akhirnya, bayi yang mereka tunggu-tunggu pun berhasil keluar dan ia menangis kencang.
"Bayi perempuan yang sehat!" Deklar sang Dokter yang disambut tangis haru
Anthony segera beranjak dan mengambil anaknya dari gendongan dokter. "Terima kasih Dokter, terima kasih," ucap Anthony begitu bersyukur melihat sang buah hati
"Selamat bergabung di keluarga kita, Victoria,"
Diana yang melihat Anthony menangis ikut menangis bahagia, "Victoria anakku," panggil Diana waktu melihat anaknya yang di letakkan Anthony ke sisinya
Sontak suasana disana berubah haru dan penuh suka cita. Puji-pujian dilanturkan para pelayan, sementara keluarga mereka pun diberkati dengan keberadaan sang buah hati.
***
THE END