
Segalanya terlihat amat sangat indah pagi ini. Kicauan burung gereja di luar sana bagaikan lonceng cinta yang membangunkan Edmund dari tidurnya. Ia masih enggan bergerak kala membayangkan Diana dan dirinya tidur bersama kemarin malam.
Edmund tersenyum. Tidak pernah sekalipun ia bangun tidur dan merasa sangat bersemangat seperti saat ini. Dengan perlahan, tangan Edmund bergerak ke sisi kanan nya dan hendak memeluk pinggang ramping milik Diana. Namun, matanya langsung terbuka lebar ketika ia tidak mendapati seorang pun di sisinya.
"Diana! Dimana kau?" Ujar Edmund panik dan langsung bergegas keluar dari kamarnya, kepanikannya berbuah hasil ketika ia jatuh terjerembab di lantai marmer yang dingin ketika kakinya tak sengaja menabrak tiang tempat tidur
"Sial!" Maki Edmund sembari memegang ujung jari kakinya.
"Edmund? Apa kau tidak apa-apa?" Suara Diana yang khawatir sontak membuat pemuda dua puluh lima tahun itu segera bangun dari lantai dan memeluk Diana yang berjalan ke arahnya
"Jangan tinggalkan aku lagi," ucapnya lirih membayangkan ketika Diana tidak ada di sisinya pagi ini rasanya ia hampir kehilangan akal saking takutnya
Diana mengusap kepala Edmund dengan lembut sebelum menenangkan pria itu, "aku ingin membuatkanmu sarapan, karena itu aku bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkannya,"
Edmund menggeleng, ia mengeratkan pelukannya dan berkata, "kau membuatku hampir terkena serangan jantung,"
Diana tersenyum sebelum mengurai pelukan mereka, "aku akan membawakanmu sarapan, tunggulah disini,"
Edmund menatap wajah Diana yang berseri-seri lalu dengan terpaksa ia mengangguk. "Jangan lama-lama,"
Diana tertawa, "tentu saja,"
Edmund melihat kepergian Diana dengan hati yang lega, setidaknya Diana tidak meninggalkannya seorang diri.
Edmund hampir tak percaya dengan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dia bisa sangat ketakutan karena seorang wanita yang tidur dengannya pergi? Demi Tuhan, mereka bahkan belum berhubungan badan namun, kenapa dia sangat takut seperti sekarang?
"Kau pasti telah gila," gumam Edmund kepada dirinya sendiri
Tak berselang lama, Diana datang membawakan nampan berisi roti gandum yang mengepul hangan beserta mentega, selai, dan segelas susu sapi.
Melihat itu, Edmund tak dapat menghentikkan dirinya untuk tidak tersentuh. Apakah ini rasanya memiliki istri?
"Ap yang sedang kau pikirkan? Ayo segera di makan! Roti ini baru saja aku panggang, kau pasti akan suka kalau mencobanya,"
Edmund tersenyum mendengar celotehan Diana yang terlihat bagaikan seorang istri sungguhan. Ah, betapa bahagia nya ia ketika setiap pagi Diana ada di sisinya seperti ini
"Uhuk! Sepertinya tanganku sakit, aku tidak dapat menggerakkannya,"
Diana menatap Edmund tak percaya, "benarkah? Rasanya tadi baik-baik saja,"
"Aw!" Tiba-tiba Edmund berteriak sambil memegang lengannya dari balik bulu matanya, ia dapat melihat wajah Diana yang panik
"Itu terlihat sangat menyakitkan, yasudah, kemarilah, aku akan menyuapimu,"
Edmund mengulum senyumnya sebelum duduk lebih dekat dengan Diana dan menunggu tangan Diana untuk mengoleskan selai stoberi diatas rotinya sebelum mengarahkan roti gandum itu ke mulutnya.
Edmund menutup matanya dan menggigit roti itu dengan lahap. Benar sekali apa kata Diana, roti ini sangat enak!
"Lagi,"
Diana memandangnya sebelum mengambil selembar roti tawar lagi dan mengoleskan selai stoberi diatasnya
Dengan sabar, Diana mengambil gelas tersebut lalu mendekatkan ke bibirnya agar Edmund dapat meminumnya perlahan
Hanya dalam waktu sekejap, semua hidangan diatas nampan itu habis tak tersisa kecuali se-toples selai stoberi
"Enak sekali! Kau benar-benar berbakat dalam memasak,"
Diana membalas ucapannya dengan senyum sekenanya sebelum mengelap bibir Edmund dengan lap kecil. Jarak keduanya yang amat dekat membuat hati Edmund berdetak kencang, dengan secepat kilat, ia segera menganbil kesempatan untuk mencium bibir Diana
Manisnya stoberi langsung menyeruak ke dalam rongga mulut Edmund kala bibir mereka bersatu. Rasa ini membuat Edmund ketagihan dan memperdalam ciuman mereka
Ketika akhirnya mereka kehabisan napas, Edmund menempatkan ciuman penutup yang membakar bibir mereka sebelum mematahkan ciuman mereka
"A-aku akan membawa ini ke dapur,"
Edmund mengangguk sebelum berdehem dan mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Diana benar-benar rekan berciuman yang handal.
***
Hari telah menjelang sore ketika Diana akhirnya pulang ke rumah dan mandi di kamar mandinya lagi. Ia tertawa membayangkan waktu yang ia lewati bersama Edmund berkuda tadi.
Rasanya menyenangkan dan ia tidak ingin keseruan mereka berakhir. Namun, apa daya, gaun nya kotor terkena cipratan lumpur di halaman dan Edmund tidak memiliki baju seorang wanita pun di mansion nya
Alhasil, mereka dengan berat hati berpisah untuk sementara dan berjanji agar saling bertemu besok.
Usai mengeringkan tubuhnya, Diana berjalan menuju lemari pakaiannya dan mengenakan gaun tidurnya. Ia berjalan menuju balkon lalu bersandar disana sambil memperhatikan balkon tetangga yang masih tertutup tirai.
"Edmund!" Teriak Diana berharap pria yang menciumnya dengan penuh hasrst tadi itu mendengarnya
Diana kembali berteriak memanggil pria itu namun, apadaya, jarak ratusan meter diantara mereka membuat suaranya bagaikan cicitan tikus kebanding teriakan pelaut
Diana menghela napasnya sambil mengusap lengannya yang kedinginan, ia berbalik dan hendak tidur ketika ia mendengar suara Edmund memanggilnya
Diana segera berbalik dan mendapati Edmund sedang berdiri di balkon sambil menampilkan tubuh bagian atasnya yang tidak terbalut sehelai kainpun
Diana berusaha bersikap biasa saja karena ia sudah melihat tubuh itu semalaman namun, hatinya tidak dapat berkompromi karena sekarang pipinya memanas
"Kau boleh berfantasi apa saja tentang tubuhku karena cepat atau lambat fantasimu akan terjadi!" Teriak Edmund dengan nyaring dari ujung sana membuat Diana kalang kabut jika pelayan nya mendengar
"Sst! Jangan keras-keras!" Seru Diana berharap pria itu mendengar suaranya
"Apa? Bokongku seksi?"
Diana langsung melonggo mendengar ucapan Edmund, ia menggeleng lalu menutup wajahnya dan segera masuk ke dalam kamarnya
Di lain sisi, Edmund tak dapat menahan tawanya melihat reaksi Diana yang polos. Ah, Diana. Dia benar-benar berhasil membuat pria playboy ini tergila-gila kepadanya. Batin Edmund sebelum masuk ke dalam.
***
TBC