
Mentari telah bersinar terik dan sembunyi-sembunyi masuk diantara celah tirai jendela menuju kamar Anthony.
Diana mengerjapkan matanya lalu menghalau sinar mentari pagi yang mengenai matanya sementara sebelah tangannya sibuk mencari sesuatu di sebelah nya.
Diana segera bangun saat dirasakannya kasur di sebelahnya dingin. "Dimana Anthony?" Gumamnya menelisik seisi kamar
Tak lama kemudian, Anthony keluar dari kamar mandi dengan wajah segarnya dan telah siap untuk pergi.
Diana mendadak tersipu malu saat melihat tubuh sang suami yang berada di depannya.
Anthony tersenyum melihat Diana yang masih malu-malu seperti itu, ia mendekati Diana yang mengenggam erat selimut di tubuhnya lalu mengecup dahi sang istri, "Selamat pagi, sayang," sapanya lembut
"Bersiap-siaplah, my Lady, kita akan pergi jalan-jalan hari ini," sambung Anthony lalu tersenyum sebelum meninggalkan Diana di dalam kamar dan keluar
Diana merebahkan dirinya kembali ke ranjang, matanya menatap pemandangan di luar jendela yang menyugihkan hamparan rumput hijau dengan labirin mini serta kebun bunga di sisinya.
"Hari yang indah untuk jalan-jalan," gumamnya sebelum bersiap-siap untuk mandi dan memakai dress buatannya sendiri
Tiga puluh menit kemudian, Diana telah siap dengan topi dan dress musim seminya. Di patut nya kembali dirinya di depan cermin besar di kamar Anthony, lalu memasang riasan. Ia ingin terlihat cantik di depan Anthony.
Saat dirasanya riasan itu sudah sempurna, Diana berjalan keluar kamarnya dan menemui keluarga besar Maxwell di pendopo mini yang sedang mengobrol sambil minum teh.
"Selamat pagi, sayang. Apakah tidurmu nyenyak semalam?" sapa Ibu mertua nya yang penuh nada menggoda
Dalam hati Diana membenarkan darimana sikap Anthony yang suka menggoda itu.
Diana tersenyum membalas ucapan Elizabeth, lalu menunduk memberi hormat kepada Ayah dan Ibu mertua nya.
"Selamat pagi Ayah dan Ibu," sapanya lalu membungkuk sedikit menyapa Anthony layaknya seorang wanita bangsawan
Arthur mengangguk membalas salam dari menantunya, "silahkan duduk anakku, kau sudah bagin dari keluarga ini, jangan sungkan," ucapnya
Anthony tersenyum mendengar Ayahanda nya yang terkenal dingin itu sekarang memperlakukan Diana sebagai bagian dari keluarga mereka.
"Terima kasih Ayahanda," ucap Diana sebelum bergabung di meja makan bersama mereka
Tak butuh waktu lama sampai isi percakapan di meja itu berubah haluan ke bisnis. Anthony dan Arthur layaknya berada di dunia mereka sendiri saat membicarakan pengalaman serta tambangnya di Mesir, sementara Diana dan Elizabeth memilih membicarakan tentang hobi Diana yang senang menjahit.
Saat akhirnya percakapan bisnis nya selesai, Anthony mendekati Diana dan membisikkan sesuatu di telinga Diana. "Apa kau sengaja berdandan untuk melanjutkan kegiatan kita malam kemarin?"
Mendengar itu Diana langsung memegang pipinya yang memanas, ia menepuk pelan paha Anthony yang disambut kedipan matanya.
Semua gerak gerik Anthony dan Diana tak luput dari pandangan Arthur dan Elizabeth, mereka saling tersenyum melihat kedekatan anaknya itu.
"Oh aku iri sekali melihat pengantin baru, rasanya ingin kembali ke masa-masa itu ya, Honey?" Ujar Elizabeth sambil menggaet lengan suaminya dengan manja.
"Kau benar. Tapi rasanya kau tidak berubah, istriku. Kau masih membuatku tergila-gila padamu,"
Diana menaikkan alisnya melihat pemandangan di depannya saat Arthur mencium pipi Elizabeth, sementara Anthony mengelap wajahnya. "Orang tua ku memang biasanya seperti itu, maklumi saja," katanya sarkastik
Alih-alih merasa malu, Diana malah mengagumi pasangan di depannya itu. Cinta mereka begitu awet hingga berumur tua seperti ini. Kalian bisa melihat betapa mereka saling mencintai dari cara mereka saling membagi senyum.
Mendadak Diana merasa sedih tatkala membayangkan wajah sedih mereka saat tau tentang hubungannya dengan Edmund. Ketakutan Diana semakin bertambah saat membayangkan kalah dirinya akan menghancurkan keluarga kecil ini apabila Anthony tau tentang Edmund.
Tiba-tiba sepasang tangan hangat menggemgam tangan nya yang berada di bawah meja, Diana mengalihkan tatapannya pada Anthony yang menatapnya dengan wajah cemas.
"Ada apa? Apa kau merasa tidak enak badan?" Bisiknya
"My dear, ada apa sayang? Apa sarapannya tidak enak?" Ujar Elizabeth yang juga menyadari wajah Diana yang berubah pucat
Diana mendongak menatap satu persatu orang di sekitarnya, dan menyungging senyum terbaiknya. "Aku baik-baik saja. Terima kasih telah mengkhawatirkanku, Ibu Mertua," jawabnya
Anthony yang tau ada yang tidak beres pun berinisiatif bangkit dari duduknya, "aku mohon undur diri, Ayah dan Ibu. Diana dan aku ingin menghabiskan waktu berdua, selamat pagi," katanya lalu menarik tangan Diana dengan lembut dan menuntun istrinya itu untuk keluar dari rumah mereka
"Ki-kita mau kemana, Anthony?" Tanya Diana yang hanya dibalas dengan senyum tipis Anthony
Saat mereka telah sampai di teras depan rumah keluarga Maxwell, Anthony membawa Diana tuk masuk ke dalam kereta kuda mereka.
Anthony mengetuk atap kereta dengan tongkatnya, "Paul, ayo berangkat!" Titah Anthony
"Apa kau benar-benar tidak berencana memberitahuku?" Tanya Diana lagi, melihat jalanan aspal yang telah berubah menjadi tanah kering, menandakan mereka telah keluar dari kota London
Anthony yang membaca koran pun menatap istrinya lalu menggeleng. Melihat jawaban suaminya, Diana merasa jengkel. Mau dibawa kemana dirinya? Ini bukan jalan kembali ke Paris
Diana memangku tangan dan memutuskan untuk menatap jalanan dari jendela kereta kudanya. Ia tidak mau berbicara dengan Anthony, biarlah.
Lama-kelamaan memandang pemandangan di luar jendela, Diana merasa kelopak matanya amat berat, ia benar-benar mengantuk sekarang.
***
Diana terbangun dari tidurnya saat merasa dirinya sedang digendong oleh seseorang. Matanya mengerjap saat mendapati wajah Anthony yang berada amat dekat dengan wajahnya. Dari sini, ia bisa melihat rahang tegas Anthony yang ditumbuhi jenggot tipis, dirinya juga bisa mencium aroma parfum suaminya, serta puas memandang wajah sang suami dari bawah.
Belum puas dirinya mengagumi wajah sang suami, tiba-tiba Anthony melepaskan gendongannya pada Diana yang membuat Diana mau tak mau harus merasakan sesuatu yang basah di bawahnya.
Diana menatap kakinya yang basah terkena ombak laut, dengan sigap ia memandang sekelilingnya. Hamparan pasir, batu karang, aroma air asin, serta kerang-kerang kecil di sekelilingnya. Mereka di pantai, dan Diana tidak pernah ke pantai. Buku-buku novel yang ia baca di perpustakaan mini Anthony dan ternyata memang benar, pantai itu indah!
"Apa kau masih marah padaku?" Ujar Anthony tersenyum manis
Diana membalas senyum Anthony dan langsung memeluk suaminya itu, "aku senang sekali, terima kasih! Terima kasih Anthony!" Ucap Diana girang
Anthony mempererat pelukan mereka lalu mencium dahi Diana, "apapun untukmu, My Queen," ucapnya lalu mengurai pelukannya
Sore itu, Diana merasa menjadi orang paling bebas di dunia ini. Ia bisa berlari kesana kemari sambil menikmati angin pantai yang berhembus, ia juga bisa mengumpulkan kerang, lalu menikmati air laut yang mengenai nya.
Diana tak pernah melepas tangan Anthony dan membawa suaminya itu untuk pergi menjelajahi pesisir pantai itu, mereka menemukan Mr. Kepiting di balik batu karang, lalu ada bintang laut, bahkan sekumpulan bayi penyu yang baru menetas dan berjalan kembali ke laut.
"Lihat, lihat! Lucu sekali mereka," ucap Diana begitu senang
Anthony yang melihat Diana begitu bersemangat pun rasanya amat bahagia. Asalkan Diana bahagia, dia rela melakukan apapun.
"Maukah kau membantu mereka bertemu ibunya kembali?"
Diana menatap Anthony dengan mata berbinar, "bolehkah?"
Anthony mengangguk, "tentu saja,"
Kedua sejoli itu pun membantu satu persatu hewan kecil itu kembali ke laut, hingga tak sadar mentari telah bersiap-siap untuk menghilang, tenggelam di ujung pandang.
"Diana," panggil Anthony saat mereka telah duduk di tempat beralaskan kain yang telah disiapkan Paul sebelumnya
Diana menoleh, memperhatikan wajah suaminya dari samping, "iya, sayang?"
Untuk pertama kalinya, jantung Anthony berdegub kencang hanya karena satu panggilan. Anthony menatap wajah Diana yang hanya berjarak beberapa centi dari nya itu, manik hazel yang berbinar penuh kebahagiaan, serta senyum manisnya.
"Apa kau tau kau adalah wanita yang luar biasa?" Ujar Anthony terpesona oleh kecantikan wajah istrinya
Diana tertawa, ia mengusap wajah Anthony, "benarkah?" Godanya
Sekarang giliran Anthony yang tertawa dibuatnya, "oh ternyata gadis muda ini sudah dewasa. Diana sekarang sudah pandai menggoda pria,"
Diana mengerucutkan bibirnya, pura-pura marah, "aku tidak pandai menggoda pria, aku hanya pandai menggoda suamiku," goda Diana lagi kini semakin membuat jantung Anthony tak karuan
Tatapan Anthony yang semula menatapnya penuh cinta sesaat berubah, kini ia menatap Diana penuh gairah. Didekatinya wajah Diana hingga napas mereka bersentuhan.
Diana menutup matanya, bersiap-siap. Namun, semakin lama ia menunggu, bibir mereka tak kunjung menyatu.
Akhirnya, dengan perlahan, Diana membuka matanya dan mendapati wajah Anthony yang menertawainya. Dia dikerjai!
Tak kuasa menahan malu, Diana langsung menarik tangannya dari genggaman Anthony, hendak beranjak dari sisi suaminya itu.
Melihat Diana yang merajuk, Anthony dengan cepat menarik tangan Diana sebelum wanita itu sukses berdiri yang mengakibatkan Diana jatuh di badannya.
Diana hendak membuka mulut untuk protes namun, Anthony telah lebih dahulu mendominasi bibirnya.
***
TBC