Lady Affair

Lady Affair
III: Undangan


Sehari setelah kejadian di kota, Diana tak bisa melupakan wajah pria yang menabraknya. Wajah itu mengingatkannya akan kata-kata sang suami sebelum pergi.


"Jangan bicara pada orang asing,"


Tapi, bukan kata-kata nya lah yang membuatnya tak bisa melupakan wajah pria itu. Tapi, kelakuannya yang tak membalas ucapan maaf pria itu dan meninggalkan orang yang meminta maaf kepadanya tanpa seucap kata pun. Ia tak pernah bertingkah seperti ini. Dirinya tak pernah diajarkan berlaku dingin seperti itu.


"Apa yang sudah kulakukan?" Erang Diana diatas tempat tidurnya sambil menelungkupkan wajahnya di balik bantalnya.


"Semoga saja pria itu melupakanku," do'a Diana sebelum beranjak dan memulai aktivitas paginya.


***


Ketika matahari mulai akan terbenam. Florest dan Diana beranjak pergi dari taman dan masuk ke dalam rumah. Acara minum teh mereka terpaksa berhenti karena ada seseorang yang datang ke rumah mereka.


Baru saja Diana mencapai pintu depan, orang itu tidak ada, menyisakan Carlos dan Maria.


"Siapa yang datang?" Tanya Diana penasaran. Sangat jarang mereka menerima tamu selain keluarga dan rekan bisnis. Namun, yang menjadi titik permasalahannya, untuk pertama kalinya, setelah suaminya pergi, ada tamu yang datang ke mansion ini.


Maria yang memegangi pipinya sambil terkikik lalu berputar-putar semakin membuat Diana mengerutkan dahinya. Siapa yang membuat Maria seperti itu?


Carlos mengabaikan anak remaja yang sedang kasmaran itu dan memberikan surat kepada Sang majikan. "Tetangga baru kita mengundang anda untuk makan malam di rumahnya, Nyonya Maxwell,"


Diana menerima surat itu lalu membacanya. Isi surat itu sangat singkat, hanya begini isinya.


Saya sedang menunggu kehadiran anda. Malam ini. Jam 8 tepat. Pakailah pakaian seperti kau hendak pergi ke pesta.


Dari: tetanggamu. D. Barrymore


Sejenak Diana memijit pelipisntmya. Barrymore? Apa tetangga mereka dari keluarga Barrymore? Konglomerat yang memiliki kurang lebih seper-empat tanah di Inggris? Bagaimana bisa dia memilih tinggal di pinggir kota kecil seperti ini?


"Ada apa nyonya? Anda tampak tak senang," komentar Florest melihat mimik wajah Diana. Maria yang semula ribut langsung terdiam, ia ikut penasaran dan memperhatikan majikannya.


Diana menggeleng. Ia menepis semua prasangka di kepalanya lalu menatap semua pelayannya satu per satu, "mari kita bersiap-siap. Makan malam tinggal satu jam lagi, kita tidak mau memberi kesan yang buruk kepada tetangga baru kita kan?"


Maria otomatis mengangguk dengan penuh semangat, "aku tidak sabar bertemu Sang pangeran tampan!" Ucapnya sebelum melesat pergi


Carlos menunjuk dirinya dan istrinya bergantian, "kami juga?"


Diana mengangguk, "semuanya! Tuan Barrymore mengundang kita, dan kita semua adalah penghuni mansion ini. Tidak mungkin aku hanya sendirian, oh jangan lupa ajak Paul juga,"


"Paul tampaknya mendapat giliran menjaga rumah," ujar Carlos sebelum mengundurkan diri bersama isterinya


Dua puluh menit kemudian, mereka telah siap dengan gaun dan setelan terbaik mereka.


"Baiklah, tuan dan nyonya, mari jalan," ujar Diana memberi komando sebelum berjalan menuju mansion yang sudah dihias dengan lampu-lampu jalan yang memanjakan mata serta tanaman-tanaman yang dibentuk beraneka ragam menambah kesan ekslusif mansion tetangga itu.


"Ah, senangnya punya tetangga. Sudah lama rasanya tidak bertetangga," komentar Florest sambil mengusap jemari sang suami


"Semoga saja Mr. Barrymore menyambut kita dengan baik," balas Carlos


Dalam hati, Diana juga ikut meng-amin kan sampai ketika mereka sampai di teras depan mansion, seorang kepala pelayan yang mengenakan tuxedo dan dasi hitam rapi, menyambut mereka.


"Selamat datang, tuan-tuan dan nyonya-nyonya. Perkenalkan, nama saya William Rendolv malam ini saya akan melayani anda sekalian, mari, silahkan masuk," ujar William sambil membungkuk dan mempersilahkan mereka masuk


Florest tersanjung dan tersenyum bahagia kepada sang suami, sementara Maria sibuk mengagumi interior mansion Barrymore itu.


"Indah sekali," puji Maria dengan mata berbinar saat melihat sofa-sofa serta jejeran guci-guci mahal yang terpajang.


Diana dalam hati setuju. Pemilik nya memang pintar dalam memilih perabotan. Lihat saja, aula mansion ini terasa megah layaknya istana Buckingham. Diana yakin, Barrymore bukanlah orang sembarangan, pastilah ia orang yang memiliki jiwa seni.


Saat mereka sudah mencapai ruang makan, Maria lagi-lagi dibuat terpukau. Peralatan makan dari perak yang tertata rapi diatas meja juga candle light yang ada di tengah meja, serta aroma mawar yang lembut menghiasi meja panjang itu.


"Benar-benar sambutan yang meriah," batin Diana


"Sangat indah! Luar biasa!" Puji Maria yang langsung mendapatkan teguran dari Florest.


William kemudian menarik kursi dan mempersilahkan Diana tuk duduk, di ikuti Florest dan lainnya. "Selagi menunggu tuan Barrymore datang, saya akan menyiapkan hidangan pembukanya, saya mohon undur diri, tuan-tuan dan nyonya-nyonya," ujar William lalu pergi meninggalkan mereka seorang


Melihat itu, Diana berucap, "jangan terlalu keras kepadanya, Florest, dia masih muda," ucap Diana sambil mengelus puncuk kepala jagung Maria


Maria mengangguk tanpa mengangkan kepalanya. Sementara Florest yang mendapat sanggahan Diana segera meminta maaf, "maafkan saya, nyonya. Tapi, saya tidak ingin dia membuat anda malu,"


Mendengar itu Diana tertawa pelan. "Astaga, itu tidak perlu. Aku tidak malu membawa kalian bersamaku, kalian keluargaku," ucap Dania


"Apa aku ketinggalan momen serunya?" Tiba-tiba suara bariton seorang pria meng-interupsi percakapan mereka. Sontak, semua pasang mata itu menatap sang pemilik suara.


Pandangan memuja terpancar jelas di wajah Maria, sedangkan Florest segera membetulkan posisi duduknya, begitu pula Carlos yang langsung berdiri untul menyambut tuan rumah.


Dan dari semua pasang mata, hanya wajah Diana lah yang paling terlihat kaget saat mata biru milik pria itu bertubrukan dengannya.


Sejenak, mereka meneliti penampilan mereka masing-masing, dan detik selanjutnya sepasang mata biru itu menatapnya penuh pesona.


Hal yang sama terjadi pada Diana, namun, alih-alih terpesona, ia mendadak menjadi canggung. Do'a nya tampaknya tidak terkabul.


"Perkenalkan, saya Archduke Edmund Charles Arthur Barrymore, tetangga baru kalian," Edmund menjabat satu persatu tamu yang ada di ruang makannya dan terakhir, ia menduga, wanita cantik yang kemarin lusa sempat membuat jantungnya berdetak tak karuan itu sebagai sang nyonya. Lantas ia mengambil tangan wanita itu dan menciumnya sekilas, sebelum memberikan nya senyum dan mempersilahkan nya untuk duduk.


Saat mendengar percakapan yang terjadi diatas meja tadi, Edmund semakin yakin bahwa wanita itu berbeda. Paras dan hatinya memiliki kesamaan. Sama-sama cantik. Tipikal wanita yang tidak pernah ditemuinya.


Namun, sayangnya, lagi-lagi ia menemukan wajah sendu nya. Walaupun sudah ditutupi wanita itu dengan senyumnya, tapi, Edmund tau, senyum itu tak menyentuh matanya.


Merasa di tatap, Diana segera menoleh, dan benar saja pria bermata biru itu menatapnya terang-terangan.


Ditatap seperti itu, Diana tak bisa menghindar untuk tidak berpikir negatif.


Oh tidak, pasti dia menunggu ucapan maaf. Kalau tidak, dia pasti akan melapor ke suami ku kalau aku adalah istri yang berkelakuan buruk dan nanti pada akhirnya, aku.. aku akan.. tidak! Itu tidak boleh terjadi. Batin Diana.


Sekonyong-konyong Diana berdiri dari kursinya, dan gerakan itu membuat ruangan yang tadi ramai oleh bisik-bisik menjadi hening seketika.


Diana menutup matanya sejenak, menahan malu, sebelum membuka mulutnya, "betapa lancangnya saya tidak memperkenalkan diri. Salam kenal, saya Grand Duchess Diana Rose Maxwell, senang bisa mengenalmu Sir Barrymore," ucap Diana sambil menundukkan kepalanya sepempat dan duduk kembali.


Pria itu-Edmund yang duduk di kepala meja tampak terperangah di tempatnya. Detik selanjutnya, tawa kecil lolos dari bibirnya.


Diana menatap tak percaya. Dia ditertawai! Dia baru saja memperkenalkan diri dan ditertawai! Tidak sopan. Batinnya menggerutu. Sementara hal yang bisa Diana lakukan untuk menutupi rasa malunya hanyalah dengan mengalihkan tatapannya pada tembok.


Menit berikutnya makanan datang. Mereka mulai menyantap hidangan itu diselingi dengan percakapan ringan antara Edmund, Carlos, Maria, dam Flores sementara Diana enggan ikut membicarakan apa menu makanan mereka sehari-hari, langganan pakaian mereka, dan hal-hal lain. Diana memilih fokus dengan makanannya. Ia tidak punya keberanian untuk mengangkat kepalanya dan menatap manik biru Edmund.


Satu jam kemudian, akhirnya acara makan malam itu usai. Diana dan ketiga nya pamit. Sementara Edmund tampak memaksa ingin mengantar kepergian mereka sampai kembali ke tempat nya.


"Kau benar-benar tidak perlu melakukannya, Sir," ujar Diana tampak keberatan


"Panggil aku Edmund atau Ed, aku lebih nyaman dipanggil seperti itu tanpa embel-embel Sir atau pun the duke," sanggahnya tampak mulai nyaman berinteraksi dengan ketiganya


"Oh tentu saja, jika anda memaksa, Mr. Ed," ujar Maria dengan mata menggoda


Ed tersenyum tipis lalu mensejajarkan langkahnya dengan Diana. "Jadi, apa kau lajang, madam?" Tanya Edmund sepelan mungkin agar ketiga pelayan yang berjalan dibelakang mereka tidak mendengarnya.


Diana menoleh, ingin memprotes pria itu. Tapi, alih-alih marah, jarak wajah mereka yang begitu dekat membuatnya kehilangan kata-kata.


Sekilas, ia bisa melihat mata Edmund terpancar api membara sebelum Diana memalingkan wajahnya dan berjalan cepat.


"Apa dia selalu seperti itu?" Tanya Edmund kepada ketiga pelayan di belakangnya


Florest menggeleng lalu tersenyum, "akhir-akhir ini malah nyonya terlihat lebih berwarna dari biasanya,"


Ucapan Florest membuat Edmund bertanya-tanya. Ada gerangan apa? Tapi, saat ia mau bertanya, mereka sudah sampai di halaman mansion Maxwell. Dengan berat hati, Edmund berpamitan, lalu melangkah kembali ke mansion nya.


Ini suatu kebetulan yang luar biasa. Tampaknya, musim dingin akan segera berubah hangat apabila ada si Diana. Batin Edmund.


***


TBC