Lady Affair

Lady Affair
VI: Piknik


Edmund terbangun dari tidurnya saat ia menyadari bahwa wajah tersipu malu Diana menghampiri nya di dalam mimpi.


Pria berumur dua puluh lima tahun itu segera bangkit dari kasur dan mengambil segelas air di nakas.


Lagi-lagi, Diana berada di mimpinya. Wajah wanita itu benar-benar menghantui nya sejak hari itu. Hari dimana dia terlalu mabuk dan melupakan jalan ke rumahnya karena dia diantar oleh salah seorang kolega nya.


Edmund ingat wajah tidur Diana yang menungguinya bangun, ia ingat pemandangan itu adalah hal paling luar biasa yang ia dapati saat membuka matanya.


Edmund juga merasa rasa asing setiap kali ia berusaha melupakan Diana. Anehnya, selalu saja ia muncul wajah Diana di benaknya. Diana yang tersipu malu, Diana tersenyum kepadanya, juga wajah sendu Diana.


Ia rindu.


Rindu aroma manis Diana, rindu dengan ucapan ketus Diana, rindu suara merdu Diana saat memanggil namanya.


Dia rindu Diana, dan segala hal tentang Diana.


Sebulan berada di kota memang tidak bisa membantunya melupakan sosok Diana. Bahkan keingin untuk menyentuh wanita-wanita seksi yang ia temui di bar menghilang begitu saja. Ia ingin kembali lagi merasakan hangatnya tangan kurus Diana saat bersentuhan dengannya.


Edmund tersenyum. Diana benar-benar mengisi pikirannya dalam waktu singkat.


Ia juga bingung, pria macam apa yang tega meninggalkan seorang wanita berparas bak dewi dengan hati yang selaras dengan tampangnya, demi pekerjaan?


Edmund menegak habis air putih di tangannya. Ia sudah membulatkan tekad. Persetan dengan apa kata Pak Tua itu. Dia tidak akan menyianyiakan hari-hari nya tanpa Diana.


Ya, dia tidak akan melakukan hal yang sama dengan apa yang telah dilakukan Maxwell. Dia tidak akan meninggalkan Diana sendirian. Dia akan menemani Diana, melindunginya, dan membuat Diana kembali tersenyum.


Edmund segera mengenakan setelan nya, kemudian ia segera keluar dari apartemen nya. Malam ini juga, dia akan kembali ke sisi Diana.


***


Pagi hari yang cerah membantu Diana untuk melupakan semua kejadian bersama Edmund yang sempat membuatnya gelisah.


Jejak butiran salju yang beberapa minggu lalu menutupi halaman mansion mereka telah menghilang, berganti dengan pepohonan hijau. Tapi rasa sepi itu masih sama, malah jauh lebih terasa sekarang karena teman yang selama ini menemaninya pergi.


Ya, Edmund pergi tanpa mengucapkan apa-apa. Carlos mengatakan kalau Edmund ada urusan di luar negeri. Mendengar itu rasanya nafsu makan Diana hilang. Dia merasa kesepian juga menyedihkan.


Menyedihkan kenapa dia sekarang senang akan kehadiran Edmund yang selalu menemukan berbagai cara guna berbicara padanya.


Diana merasa telah melanggar semua janjinya pada Lord Maxwell, suaminya. Ia berbicara pada orang asing, menghadiri jamuan makan malam dengan pria itu, dan tanpa memikirkan resiko membiarkan Edmund mengambil kesempatan untuk mendekatinya.


Dengan sangat tidak bermartabat, membiarkan dirinya menjadi goyah akan semua tingkah lembut pria itu kepadanya.


Diana seharusnya menyesal atas semua hal yang ia lakukan. Bagaimana bisa ia membiarkan seseorang masuk ke hatinya disaat suaminya masih berjuang mencari penghidupan di luar sana?


Diana kembali menangis saat ia menyadari bawa ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Dia tidak menyesal. Ia tidak menyesal bertemu dengan Edmund, ia tidak menyesal mengenal pria itu. Sedikitpun tidak.


Pantaskah dirinya disebut seorang istri bangsawan? Pantaskah ia saat dirinya sendiri malah merindukan orang lain?


Seperti kemarin-kemarin. Diana memutuskan mengurung dirinya sendiri di kamar sampai ia bisa menjernihkan kepalanya dan menenangkan hatinya yang gelisah.


Ketukan pintu yang terdengar, membuat Diana langsung sigap menghapus semua air matanya. Ia membenahi suaranya sebelum mengatakan, "tinggalkan aku sendiri," ujarnya, lalu terdengar langkah kaki yang menjauhi kamarnya. Tidak ada yang akan berani untuk mengganggunya


Mereka meninggalkannya sendiri di dalam kamar yang dingin seperti ini, selayaknya seorang pelayan, bukan keluarga. Diana merengkuh kakinya dan menenggelamkan kepalanya diantara kakinya yang di tekuk.


"Maafkan aku..." gumam Diana sambil menyeka air matanya merasa bertanggung jawab atas semua yang terjadi di rumah ini


Ntah sudah berapa lama ia berdiam diri di kamar hingga ia tidak menyadari bahwa dibalik tirai gorden yang menutupi semua jendela kamarnya, matahari telah condong ke ufuk Baratp.


Tok.. Tok.. Tok!


Ketukan nyaring di pintu kamarnya membuat Diana seketika terjaga. "Aku bilang tinggalkan aku sendiri," ucap Diana tak bersemangat, ia lelah, ia ingin sendiri.


Tok.. Tok.. Tok!


Diana menghela napas sebelum bangkit dari tidurnya dan mengambil langkah cepat untuk membuka pintu kamarnya, "Florest, aku tidak mau makan, sudah berapa kali aku bilang kalau—"


"Kejutan!"


Diana terdiam di tempat saat melihat sosok pria berambut brunetta yang terlihat sangat segar seakan ia habis mandi. Diana menelan ludahnya saat beberapa air yang jatuh dari pelipis Edmund membuat pria itu dua kali lipat lebih memikat dari biasanya.


"Edmund?" Ucapnya setengah senang setengah kaget


"Ya, terakhir kali aku mengeceknya, itu namaku," canda Edmund


Diana mengerutkan alisnya, "kenapa-kenapa kau bisa disini? Bukankah kau bilang kau sudah pindah ke luar negeri?"


Sekarang giliran Edmund yang mengerutkan alisnya, "siapa yang mengatakannya padamu?"


"Bukan begitu caranya menjawab pertanyaan, Mr. Ed," jawab Diana jengkel


Edmund tertawa saat Diana mengguruinya, imut sekali. "Baiklah, kau bisa menjawab pertanyaanku terlebih dahulu," ucapnya lembut, merayu Diana agar tidak jengkel lagi


Diana tampak menimang-nimang sebelum membuka mulutnya, "Yang memberitahukan kabar itu adalah Mr. Carlos," jawab Diana sengaja membuat suaranya se-ketus mungkin.


Edmund mengangguk paham. Tentu saja pria tua itu. Siapa lagi yang akan menghalangi mereka kalau bukan dia?


Diana menghentikkan perangainya yang berpura-pura jengkel pada Edmund saat ia mengingat janji suaminya.


"Mr. Ed, bolehkah aku bertanya padamu suatu hal?"


Edmund terdiam saat melihat wajah serius Diana. Hatinya berdebar Memikirkan skenario terburuk jima Diana tau motifnya selama ini.


Saat didapatinya Edmund hanya diam, Diana melanjutkan, "kenapa anda bersikap seperti ini pada seorang wanita sepertiku?"


Sambung Diana penasaran. Walaupun hatinya senang, dia tetap tidak boleh membiarkan segala perlakuan baik Edmund menggoyahkan hatinya. Tidak untuk kedua kalinya.


Sejenak Edmund berpikir, lalu ia mulai berbicara, "Aku mendengar bahwa kau tidak mau keluar dari kamarmu dua hari belakangan ini,"


Edmund mengambil napas panjang sebelum melanjutkan, "Kau sudah dewasa, Diana. Cara seperti ini bukanlah cara seorang lady dalam menyikapi masalahnya. Para pelayan sangat khawatir akan kesehatanmu. Sebab itulah Florest memintaku membujukmu untuk makan,"


"Dan kalau kau merindukanku, jangan membuatku khawatir dengan sikapmu seperti ini. Buatlah aku tenang dengan keadaanmu yang baik-baik saja,"


Diana berkedip tak percaya mendengar ucapan Edmund. "Bagaimana kau—"


"Sebelum kau salah paham, aku akan mempertegas posisiku sebagai tetangga mu. Bukankah sesama tetangga kita harus saling peduli dan membantu dalam kesulitan?" potong Edmund membuat Diana menghela napas lega. Ternyata Edmund memang berlaku peduli antar sesama tetangga.


Merasa tidak ada respon dari Diana, Edmund kembali berucap "Ngomong-ngomong, apakah kau pernah pergi piknik?"


Diana menggeleng, "aku belum pernah melakukannya sejak pindah kemari,"


Edmund menaikkan kedua alisnya, "benarkah? Kalau begitu ini hari yang tepat untuk pergi piknik di awal panas!" Ujar Edmund penuh keceriaan sambil mengangkat keranjang piknik yang ia simpan di balik punggungnya tinggi-tinggi


Diana tertawa pelan melihat antusiasme pria di depannya, "apa ini caramu memasukkan karbohidrat ke dalam tubuhku?"


Tanpa pikir panjang Diana mengangguk dan segera menutup pintunya lalu berganti baju. Ia segera mandi dengan air hangat, kemudian memakai dress pilihannya sendiri.


Setengah jam kemudian, Diana keluar dengan suasana hati yang tenang, dengan perlahan ia berjalan menuju lantai bawah.


"Aku sudah siap," katanya mencuri perhatian Edmund dan para pelayan.


Edmund terperangah, dulu ia tak pernah percaya bahwa bidadari itu ada. Bahkan rasanya semua cerita itu hanya mitos belaka. Tapi, sekarang. Dia percaya mereka benar-benar ada.


Wanita yang mengenakan gaun berlengan tiga per-empat berwarna sehijau daun yang bermekaran di musim semi, kemudian rambut coklat panjangnya yang ia ikat sedikit dibelakang dan sisanya berada di sisi wajahnya membingkai wajah cantik Diana dengan pas, bahkan tanpa riasan tebal ia sudah jauh lebih cantik daripada bidadari. Edmund akui itu.


"Ekhem!" Paul berdehem membuat perhatian Edmund terbuyarkan


Edmund membenahi dasi kupu-kupu yang ia pakai, lalu memberikan tangannya kepada Diana, "anda tampak amat memukau, my lady," ujar Edmund lalu mengecup jemari Diana.


Dirinya menggemgam tangan itu lebih lama saat ia tidak mendapati cincin berlian yang biasanya terpantri di jari manis Diana.


Hatinya berbunga, apakah ini pertanda Diana mulai membuka pintu hati untuknya?


Edmund menatap manik hazel Diana dalam-dalam, manik itu terlihat berbeda dari sebelumnya. Diana terlihat sangat..


"Tuan dan Nyonya, beberapa jam lagi matahari akan tenggelam. Sebaiknya kita bergerak cepat jika ingin mengejar waktu," tegur Maria pelan sambil menundukkan wajahnya. Ia tidak tahan melihat pancaran kasih sayang yang Edmund berikan pada Nyonya besarnya itu.


Diana segera menarik tangannya dari Edmund lalu berjalan mendahului mereka dan masuk ke dalam kereta.


Edmund memberikan tatapan sinisnya pada Maria membuat pelayan wanita itu semakin menundukkan kepalanya. "Terima kasih atas teguranmu, Maria." Ujarnya sarkastik lalu menyusul Diana dan menaiki kuda yang sudah pelayan mereka siapkan


Lima belas menit kemudian, mereka sudah sampai di pinggir danau yang memiliki hamparan rumput hijau dan pohon maple di sekitarnya.


"Kita sudah sampai," ujar Edmund yang menjadi penunjuk jalan, lalu ia turun dari kudanya


Paul segera mengambil perlengkapan piknik di belakang kereta, sedangkan Maria segera menggelar tikar katun di bawah salah satu pohon Maple disana


Saat Paul dan Maria sedang sibuk menata tempat pinknik mereka, Diana memilih menikmati semilir angin musim semi dan pemandangan danau dari tempat duduknya


Diam-diam, Edmund mendekati Diana dan mengambil tempat di sebelah Diana.


"Apa kau memikirkan ku?" Goda Edmund yang dibalas dengan senyum tipis Diana


"Ngomong-ngomong, kenapa kau menangis saat itu?"


Diana membuang napasnya, ia tau cepat atau lambat Edmund akan mempertanyakan sikap anehnya waktu itu.


"Jika kau memberitahuku maka aku akan memberitahukan mu rahasia terbesarku,"


Diana menatap Edmund yang berjarak satu meter darinya dengan menaikkan sebelah alisnya


"Ada apa dengan wajahmu itu? Oh Ya Tuhan! Tega sekali kau meragukanku!"


Diana mengerucutkan bibirnya, malas menjawab. Melihat ekspresi itu Edmund tertawa. "Astaga, untuk apa aku menjahili wanita garang sepertimu?"


Mendengar penuturan Edmund, Diana tak bisa menahan tawanya melihat tingkah pria yang berpura-pura takut dengannya itu


"Aku hanya bercanda. Baiklah, aku akan memberitahumu,"


Edmund mengubah posisi duduknya hanya agar ia bisa melihat Diana seutuhnya.


"Waktu itu,saat kau memanggilku dengan lembut. Kau mengingatkanku dengan Ayahku. Beliau selalu menegurku dengan cara yang sama di pagi hari," jelas Diana dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya


Semua perubahan ekspresi Diana tak luput dari perhatian Edmund. Pesona Diana yang bersikap tenang seperti itu benar-benar memukau.


Dia yang tenang menahan segala rasa kesepian, dia yang diam-dian merindukan kedua orang tuanya, merupakan sesuatu yang pernah ia temui pada seorang wanita bangsawan.


Selama ini, semua wanita bangsawan selalu bersifat manja dan boros. Baru kali ini ia bertemu seseorang seperti Diana.


"Kau sungguh wanita yang luar biasa, Diana," batin Edmund, diam-diam mengagumi Diana.


Melihat Diana yang mencoba tersenyum walau Edmund tau dia hanya berusaha menutupi kesedihannya.


Ia menjentikkan jarinya dan berhasil mengalihkan perhatian Diana. "Sekarang giliranku, sebaiknya kau mendengarkan nya dengan benar karena aku tidak akan mengulangi nya,"


Diana mengangguk, ia mulai memperhatikan bibir tipis Edmund di sebelahnya. Tanpa Diana bisa tahan, dadanya berdesir. Apakah bibir itu yang berada di mimpinya di malam badai salju kemarin?


"Aku akui aku memang tampan, kau hanya perlu mengatakan itu dan aku akan memberimu izin sepenuhnya untuk memperhatikan wajahku," Goda Edmund


Diana segera mengerjapkan matanya, lalu memalingkan wajahnya yang menghangat. "Kau terlalu percaya diri, Mr. Ed," kilah Diana menutupi wajah nya yang bersemu merah


Edmund tertawa lalu memutuskan untuk berbaring, dan menumpukan kepalanya dengan tangan kirinya.


"Dulu, ada seorang bocah lelaki yang kesepian. Ayahnya seorang Duke yang terhormat dan Ibunya, bisa dibilang, seorang istri tak sah. Semua orang mengenal keluarganya yang kaya raya. Karena mengetahui status Ibunya lah, bocah lelaki itu dikucilkan di sekolah. Teman-teman sebaya nya berkata bahwa mereka tidak mau bermain dengan anak haram,"


Edmund menghirup napas panjang, melempar tatapannya ke segala arah kecuali mata Diana. Ia butuh waktu sebelum melanjutkan bagian paling menyakitkan dari ceritanya.


Dan selama beberapa menit Edmund terdiam, Diana tidak bertanya atau bersuara sedikit pun. Wanita itu hanya memperhatikan Edmund dalam diamnya. Ia tau bagaimana kesepiannya bocah lelaki itu.


"Bocah polos itu hanya memiliki Sang Ibu di sisinya. Walaupun hampir di setiap kesempatan, Sang Ibu berusaha menggunakan dirinya untuk mendapatkan perhatian dari Ayah nya. Saat bocah itu mulai beranjak dewasa, Ayah nya mengirimkan nya ke sekolah asrama di luar negeri. Dan aturan di asrama itu m hanya memperbolehkan muridnya pulang saat libur natal,"


"Setahun kemudian, saat dirinya pulang ke rumah. Ia menemukan kabar duka bahwa wanita yang selalu menggunakan dirinya untuk mendapatkan perhatian Sang Ayah telah meninggal. Semua orang bilang Ibunya sakit, tapi, bocah itu tau, Ibunya menghabisi nyawanya sendiri,"


"Dari kejadian naas itu, Ayah bocah itu mulai memperhatikannya dan memberi kan semua hal yang ia punya hanya agar bocah itu tidak membuka mulut menghacurkan nama baik keluarga mereka,"


Edmund menutup matanya. Melupakan semua kenangan menyakitkan yang telah lama berdiam di sudut pikirannya. Kejadian pahit itu tidak pernah terlupakan, seberapa keras pun ia mencoba, ingatan itu enggan menghilang.


Diana menatap Edmund yang tersenyum dengan senyum palsunya agar ia terlihat baik-baik saja.


Melihat itu, Diana dengan penuh rasa empati mengambil tangan Edmund dan mengenggamnya.


"Semuanya akan baik-baik saja sekarang. Aku tau rasanya kesepian, rasanya sendirian saat kau sedang membutuh orang lain. Aku tau rasanya, maka dari itu, jangan biarkan masa lalu mu menghantuimu lagi. Maafkan mereka, cobalah mencari kebahagianmu kembali," ucap Diana menyemangati Edmund


Mata Diana yang berbinar serta kata-kata lembutnya seketika menggetarkan hati Edmund. Wanita ini tidak membencinya saat tau semua masa lalu pahitnya itu, ia bahkan tidak memberinya pandangan kasihan sama sekali. Dan itu semua sudah cukup untuk membuat Edmund jatuh cinta.


"Terima kasih, Diana," ucap Edmund lalu mencium tangan Diana begitu lembut


"Sama-sama," balas Diana memberikan senyum tulusnya pada Edmund


Demi Tuhan, jika bukan karena ada Paul dan Maria yang daritadi memperhatikan mereka, Edmund yakin dirinya sudah mencium bibir ranum Diana sekarang.


***


TBC