Lady Affair

Lady Affair
XIV: Kalung Safir


Sehari setelah kedatangan Anthony, segala lika liku kehidupan di mansion itu berubah.


Mr. Carlos menyibukkan dirinya membenahi barang-barang Anthony sedangkan Florest sibuk memasakkan berbagai hidangan favorite Tuannya yang hampir saja ia lupakan jika ia tidak mencatat resep nya.


Sedangkan Maria sudah dari pagi bergerak kesana kemari menyikat lantai hingga tangga agar marmer itu mengkilat. Paul yang biasanya bangun siang, sedari subuh telah disibukkan pulang pergi ke kota untuk mengantarkan berkas-berkas milik Anthony.


Pagi ini, saat jam telah menunjukkan pukul sembilan pagi, Anthony masih berada di kasurnya. Ia enggan beranjak dan memilih menikmati pemandangan sang Istri yang sedang membaca buku di sebelahnya.


Ia baru menyadari betapa ia amat merindukan Diana. Kulit putih susu nya, alis tebal nya, mata hazelnya, dan terutama bibir ranum nya yang membuat Anthony rela tinggal lebih lama hanya untuk mengecapnya.


"Aku cemburu dengan buku itu," goda Anthony, ia senang melihat Diana tersipu malu.


"K-kenapa?" Tanya Diana tanpa mengalihkan matanya dari kertas kuning novel terbaru yang dihadiahkan Anthony kepadanya, ia takut Anthony akan mendengar degub jantungnya jika ia menatap manik Sang Suami


"Karena dia memiliki semua perhatianmu,"


Melihat wajah Diana yang bersemu merah, Anthony semakin tersenyum lebar. Manis sekali.


Anthony tak membiarkan Diana tersipu malu lebih lama karena ia segera menarik pergelangan tangan Diana yang membuat Istrinya itu jatuh menimpanya.


"Aku merindukanmu," bisik Anthony sebelum mendekatkan bibirnya pada bibir Diana


***


Suasana di meja makan begitu berbeda saat ini. Ungkapan beribu syukur Florest dan Carlos ucapkan atas kedatangan Tuannya yang membawakan banyak sekali oleh-oleh untuk mereka.


"Anda begitu murah hati, Tuanku, beribu ucapan terima kasih kami lanturkan kepada anda," ucap Carlos sambil memberi hormat yang diikuti sederet pelayan di mansion itu


Anthony tertawa lalu menggemgam tangan Diana yang berada di atas meja.


"Aku yang harusnya berterima kasih pada kalian karena telah menjaga Diana selama aku tidak disini," ujar Anthony sambil menatap Diana yang duduk di sampingnya dengan lembut


Carlos, Paul, serta para pelayan saling memandang satu sama lain. Mendadak rasanya jantung mereka terhenti mendengar ucapan Tuannya. Seandainya Tuan mereka tau apa yang telah terjadi, pasti mereka sekarang telah digantung oleh algojo kerajaan Inggris karena telah ikut berpartisipasi dalam skandal besar.


Diana yang melihat para pelayan memucat, segera berdehem dan memberi kode untuk pergi dari ruang makan.


Kemudian Diana mengalihkan tatapannya kepada Sang Suami yang telah sibuk dengan makan malamnya.


Dalam hati, Diana ingin mengatakan sejujurnya tentang Edmund. Namun, ntah kenapa, lidahnya kelu saat melihat kedalam manik hazel Anthony yang menatapnya penuh kasih sayang.


"Oh ya, bagaimana kalau besok kita mengunjungi Ayah dan Ibu?" Ucapan Anthony seketika membuyarkan pikiran Diana


"Ide yang bagus, suamiku," jawabnya dan tersenyum. Cepat atau lambat, ia harus memberitahukan Anthony atau ia akan dihantui perasaan bersalah seumur hidup.


Anthony membalas senyum Diana dengan mengecup sudut bibir Diana, "aku punya sesuatu untukmu,"


Diana mengangkat alisnya, penasaran. "Lagi? Apakah buku-buku novel serta gaun pesta itu belum semuanya?"


Anthony menggeleng tanpa melepaskan senyumannya, "habiskan makan malammu dahulu,"


Diana mulai berdebar-debar membayangkan hadiah apa yang akan ia terima dari suaminya yang telah pergi berbulan-bulan itu. Saking cepatnya ia melahap makan malamnya, ia tak sadar telah mengigit dinding mulutnya sendiri.


"Aw!" Diana segera menyentuh pipinya yang tergigit dan mengeluarkan darah


"Apa kau tidak apa-apa?" Anthony segera berdiri dari duduknya dan mengambil sapu tangannya lalu menyeka darah yang keluar dari bibir Diana


"Tidak, tidak, ini bukan apa-apa, lanjutkan saja makanmu, My Lord," ucapnya saat melihat betapa khawatirnya Anthony


Suara tawa yang ia rindukan itu membuat Diana tersenyum dan menyadari bahwa ini bukanlah mimpi. Suaminya memang telah kembali.


"Baiklah kalau begitu, mari, ikut aku,"


Diana segera menerima tangan Anthony lalu mengikuti suaminya menuju ruang kerjanya. Di setiap langkah mereka, Diana memperhatikan tangannya yang digenggam Anthony dengan lembut seolah-olah jika pria itu menekan tangannya sedikit saja, tangan Diana akan memar.


Saat sampai di ruang kerja Anthony, Diana diduduki di sofa panjang yang biasanya di gunakan oleh untuk menyambut rekan bisnis Anthony.


Anthony mengambil sesuatu dari dalam laci meja nya lalu kemudian berlutut di depan Diana.


Diana berjingkat kaget. "Apa yang kau lakukan, My Lord? Lantai itu pasti dingin, bangkitlah!" seru Diana melihat suaminya tiba-tiba berlutut


Anthony tersenyum memegang tangan kanan Diana yang berada di lengannya, ia mengecup jemari Diana lalu menempatkan tangan Sang Istri di sisi sofa.


"Aku bukanlah orang yang bisa meng-ekspresikan perasaanku dengan kata-kata, maka dari itu, terimalah ini sebagai kata maaf karena telah meninggalkanmu sendirian," ucap Anthony sambil mengeluarkan kotak beludru dari balik punggungnya


Diana tak dapat membendung perasaannya melihat seuntai kalung berbandol sapphiere dari dalam kotak itu.


Ia terharu juga merasa amat sangat menyesal atas segala hal yang ia lakukan selama ini. Ia menyesal telah goyah dengan perasaannya. Ia menyesal membiarkan Edmund masuk ke dalam hatinya.


Ia begitu menyesal hingga tak sadar air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya.


"Apa kau begitu bahagia dengan hadiah kecilku ini?" ujar Anthony sambil terkekeh lalu memakaikan kalung itu ke leher Diana lalu merengkuh Diana ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku.. Maafkan aku, Anthony," ujar Diana dengan suara nya yang begetar di dalam pelukan Anthony


"Sst.. kau tidak salah apapun. Aku lah yang salah karena telah meninggalkanmu sendirian di mansion ini," ucap Anthony sambil mengusap rambut istrinya


Diana menggeleng. "Maafkan aku, aku mohon, maafkan aku," ulangnya sambil memegang erat kalung pemberian Anthony


"Diana, lihat aku,"


Diana menggeleng, ia tak berani membuka matanya dan melihat sang suami.


Anthony memegang kedua pundak Diana membuat Diana mendongak dan terpaksa menatap Anthony dan menahan air matanya.


Anthony menatap sang istri lebih lama lalu tersenyum.


"Kalau begini, kau jauh terlihat lebih muda," ujarnya berhasil membuat wanitanya tersenyum


"Aku mencintaimu, Diana,"  Anthony akhirnya mendeklarasikan perasaannya yang telah lama ia pendam.


Diana tak dapat mengatakan apapun, mendengar pernyataan cinta dalam waktu dekat benar-benar membuatnya gusar.


Karena tak mendapat balasan apapun, Anthony segera melumat bibir Diana


"Lupakan apapun dan balas aku," ucap Anthony di sela-sela ciuman mereka.


Diana menatap kedua manik sang suami, sejujurnya, sesaat sebelum Anthony menciumnya, ia masih terngiang-ngiang wajah Edmund. Namun, saat bibir itu menyentuh bibirnya, Diana tau hatinya milik siapa.


Tak menunggu aba-aba, Diana merengkuh kepala Anthony di depannya dan mencium suaminya sepanjang sisa malam mereka.


***


TBC