
Kesepian itu perasaan yang menyakitkan. Sungguh. Saat dirimu mempunyai segalanya tapi tak memiliki seseorang pun di-sisi mu, rasanya hampa. Dan lama-kelamaan, kamu akan jenuh dengan keadaan ini dan mencari pelarian.
Hampir lebih dari setengah tahun, Anthony belum kunjung pulang dari ekspedisi nya ke tanah yang jauh itu. Sementara Diana harus hidup sendiri dalam mansion megah tanpa satu pun orang yang ia kenal.
Untungnya saja, ada Maria, Paul, Mr. Carlos, dan Florest yang menemani Diana tinggal di mansion megah ini.
Tapi, mereka hanya pelayan Diana saja, bukan temannya. Diana tidak bisa mengeluarkan isi hati yang selama ini ia pendam seorang diri. Ia merindukan teman bicara, ia merindukan ibunya.
Diana tidak pernah bertemu Ibunya sejak ia menikah dengan Anthony. Ia harus pindah ke kediaman Anthony secepatnya setelah mereka menikah, meninggalkan kampung halamanya, meninggalkan Ibu, Ayah, kakak dan teman-temannya.
Diana rasanya amat merindukan mereka. Diana rindu berjalan-jalan di taman yang terletak dekat dengan rumahnya bersama Huda danVanessa.
Ia rindu tingkah cerewet Huda dan lelucon ala Vanessa.
Mengingat semua itu, Diana tersenyum sendiri. Ia senang ternyata ia memiliki teman baru yang ternyata lebih kesepian dari dirinya, Ia senang ada seseorang yang bisa mendengarkan keluh kesahnya.
"Diana, apa kau siap?"
Suara Edmund yang sudah berdiri dengan baju kemeja kebesarannya dan sepatu boots lusuhnya.
Diana tersenyum sebelum mensejajarkan langkahnya dengan Edmund, mereka berjalan bersisiran menyusuri padang rumput yang mulai bermekaran bunga-bunganya. Diana mulai suka aktivitasnya dua minggu belakangan ini. Semenjak Edmund kembali, ia selalu mengajak Diana kemana saja. Memetik apel di kebun Edmund, menemani Edmund melukis, bahkan juga berkuda.
Diana mulai mahir menaiki salah satu kuda Edmund seorang diri, semua itu berkat Edmund yang setia mengajarinya.
"Apakah kau tau kenapa bunga itu indah?"
Diana mengerutkan alisnya, menatap Edmund yang berjarak dua meter darinya. Berjalan-jalan sehabis minum teh menjadi hal yang mereka lakukan selain berkuda.
"Bunga itu indah karena ia ingin kau tersenyum saat melihat keindahannya," ucap Edmund lalu memberikan sebatang bunga Lili pada Diana yang baru di petiknya
Matahari sore yang membiasi udara sore itu, mendukung atmosfer kedekatan mereka. Walaupun sekarang sudah musim semi namun, udara musim dingin yang berhembus cukup membuat seorang anak kecil masuk angin.
Mengambil inisiatif, Edmund melepaskan jas kulitnya dan menutupi bahu Diana yang terkena angin musim dingin.
Diana terlonjak kaget saat ia merasakan tangan Edmund menyentuh bahunya yang hanya di lindungi oleh kain tipis dress miliknya. Dilain hal, mereka tidak menyadari bahwa mereka berdua telah berhenti berjalan dan malah saling bertatapan dengan jarak yang hampir membuat kening mereka bersentuhan.
Edmund menatap manik hazel Diana yang berbinar terpantul cahaya matahari sore, mata itu begitu memikat hingga ia terbuai.
Edmund perlahan menahan napasnya saat matanya turun melihat bibir ranum Diana bak mengundang nya untuk merasakan rasa bibir itu.
"Edmund," bisik Diana berhasil mengontrol suaranya yang sempat tertahan oleh hasrat membara
Mengabaikan teguran Diana, Edmund perlahan memangkas jarak diantara keduanya, perlahan tangannya meraih leher Diana, mendorong tubuh Diana mendekatinya hingga kening mereka bersentuhan.
Semua terasa begitu cepat saat Edmund pun menutup matanya dan mendekatkan bibirnya. Edmund segera membuka matanya saat ia merasakan pipi mulus Diana yang ia cium.
Diana melepaskan diri dari pelukan Edmund dan berlari kembali ke mansionnya.
"Diana!" Edmund segera mengejar Diana yang menjatuhkan jas miliknya begitu saja ke tanah
Berantakan. Semua nya berantakan. Semua rencananya untuk membuat Diana bahagia kini hancur karena sikap gegabahnya.
Edmund mengacak rambutnya kesal.
***
TBC