
Selama dalam perjalanan menuju rumah orang tua Anthony, rasanya dunia ini hanya milik mereka berdua.
Genggaman tangan Anthony tak kunjung lepas dari jemari Diana. Malam panjang mereka kemarin masih menyisakan kebahagiaan pada Anthony.
Pria itu kembali memandang Diana yang memainkan cincin di jari manisnya.
Anthony mendongak menatap wajah Diana yang bersinar terkena pancaran mentari pagi. "Cantik, istriku sangat cantik," puji nya membuat Diana tersipu malu
"Kau membuatku malu," ucap Diana sambil menunduk menyembunyikan semburat merah di pipinya
Manis sekali istrinya ini. Pikir Anthony lalu dengan nekad Anthony mencuri cium bibir Diana. Bibir ranum Diana sekarang benar-benar menjadi candu baginya.
"Oh ya? Tapi semakin aku melihatmu semakin cantik dirimu," jawabnya dengan nada menggoda
Diana mengadahkan kepalanya dan betemu mata dengan sang suami. Manik gelap Anthony yang menatapnya penuh rasa sayang mendadak menimbulkan rasa bersalah yang sudah ia coba hapuskan.
Diana benar-benar tidak bisa melupakan semua tentang Edmund begitu saja tanpa bilang apapun pada Anthony.
"Ada apa dengan wajah sedih itu lagi? Apa aku melakukan kesalahan?" Anthony mengikis jarak diantara mereka dan mengusap pipi Diana agar wanita yang ia cintai itu tidak lagi menangis
Diana menggeleng, ia mengambil tangan Anthony dari pipinya dan mengenggam tangan suaminya itu. "Aku khawatir dengan keadaan Ibu, sudah lama rasanya aku tidak melihat beliau," ucap Diana tanpa sadar sudah berdusta
Anthony tersenyum bahagia melihat istrinya yang ternyata peduli dengan Elizabeth, ibunya.
"Kau memiliki hati yang baik, istriku," pujinya lalu mengecup dahi Diana
"Mau kuceritakan sedikit tentang Ayah dan Ibu?"
Diana mengangguk, kalau dipikir-dipikir, sejauh ini, ia belum terlalu mengenal keluarga suaminya itu.
"Jadi, dulu, waktu aku masih kecil, aku paling suka bermain bola. Pernah waktu hujan lebat mengguyur kota London, aku tidak pulang ke rumah,"
Diana meletakkan kepalanya di sisi tangan Anthony, mendengar suaminya bercerita dengan nada lembut dan penuh irama, sejenak membuat Diana merasa nyaman. Ia tidak pernah melihat sisi Anthony yang seperti ini
"Lalu Ibu panik sekali. Karena terlalu khawatir denganku, Ibu bahkan sampai menerobos hujan untuk mencariku bersama Ayah. Alhasil, setelah ia menemukanku bermain di lapangan dekat rumahku, Ibu menghukumku dan melarangku menggunakan bahasa lain kecuali bahasa Perancis selama di rumah,"
Diana tertawa, "Benarkah? Hukumanmu berbicara bahasa Perancis?"
Anthony mengangguk, senyumnya mengembang. Akhirnya ia mendengar tawa merdu Diana
"Hebat sekali suamiku! Kau telah fasih berbahasa Perancis sedari kecil," puji Diana tulus yang malah mendapat tawaan dari Anthony
"Aku juga berharap bisa lancar berbahasa Perancis dulu. Namun, sayangnya, aku tidak tau apa-apa,"
Diana mengerutkan alisnya, ekspresinya berubah amat lucu hingga Anthony tak kuasa menawan tawanya
"Jadi apa yang kau lakukan selama sebulan?" Tanya Diana serius
Anthony membelai rambut Diana sebelum menjawab, "aku tidak berbicara dengan Ibu sama sekali. Aku hanya menggunakan bahasa isyarat, hingga pada akhirnya Ibu menyerah meladeniku,"
Kali ini tawa Diana lah yang lepas. Baru kali ini ia mendengar suaminya, bangsawan terpandang itu ternyata hanyalah manusia biasa.
Sisa perjalanan mereka pun di isi dengan cerita-cerita masa kecil Anthony, kejadian memalukannya, sampai cerita bagaimana Ayah dan Ibu saling mencintai satu sama lain. Yang secara tak sadar membuat hati Diana meringis.
Hari telah malam saat mereka akhirnya sampai di gerbang depan berukiran Maxwell Family.
Dari kejauhan, Diana bisa melihat sosok Ibu mertua nya yang sudah berdiri di perkarangan rumah, bersiap menyambut mereka.
Diana mengambil napas dalam-dalam sebelum keluar dari kereta kuda mereka dan menyambut pelukan hangat Elizabeth.
"Oh, betapa aku merindukan kalian," ucap Elizabeth sebelum mengurai pelukan mereka
"Kenapa kau semakin kurus, anakku? Apa Anthony semalam membuatmu kelelahan?"
Sontak Diana membelalakkan matanya mendengar pertanyaan Elizabeth sedangkan Anthony berdehem.
"Ibu, apa Ibu tidak merindukanku?" Ujar Anthony mengalihkan topik saat melihat wajah istrinya yang syok
"Jangan mencoba merayuku. Aku tau kau tidak mau mengunjungiku lagi dan sibuk membuatkanku cucuk,"
Kali ini Anthony lah yang dibuat kaget dengan penuturan Ibunya, benar-benar di luar konteks.
Elizabeth tertawa lalu memeluk anak semata wayangnya, "bagaimana kabarmu anakku? Apa kau sudah makan?"
Anthony tersenyum sebelum melepas pelukan mereka, "aku merindukan masakan Ibu," ucapnya
Elizabeth bertepuk tangan riang, wanita yang sudah berkepala lima itu tampak seperti masih muda dengan wajahnya yang tidak menampakkan adanya keriput layaknya wanita di usianya
"Mari, mari anakku, masuklah, kalian pasti laparkan? Ibu telah menyiapkan makan malam untuk kalian," ujar Elizabeth lalu berbalik dan masuk ke rumah mewah kekuarga Maxwell
Anthony menatap sang istri yang masih berdiri di tempatnya, Anthony segera menggemgam tangan Diana dan menuntun istrinya untuk masuk
Setelah melewati dua ruang tamu, sampailah mereka di ruang makan yang memiliki meja panjang yang muat untuk dua belas orang.
Lampu kristal besar yang tergantung di langit-langit serta deretan alat makan yang terbuat dari perak seakan berteriak bahwa mereka antik nan mahal. Diana tak luput memandang kertas dinding ruang makan yang telah diubah dengan motif floral berwarna hijau tua serta kursi-kursi berbantal putih berornamen emas yang menambah kesan elegant.
Sejenak Diana merasa asing dengan tempat ini, tempat yang baru dua kali ia datangi.
"Diana sayang, duduklah," ujar Anthony yang telah menarik kursi Diana yang berada tepat di sebelahnya
Diana tersenyum pada Anthony dan segera duduk di tempatnya, bersamaan dengan duduknya Diana, satu persatu menu makan malam mereka di hidangkan
"Oh ya Bu, dimana Ayah?" Tanya Anthony sambil mencicipi makanan pembuka mereka
"Ayahmu sedang di perjalanan pulang dari kegiatannya memancing dengan Paman William. Mungkin sebentar lagi akan pulang," jawab Elizabeth
Mata Elizabeth terus mengikuti gerak gerik menantunya yang tampaknya amat lahap memakan makan malam mereka, "apakah masakanku enak, anakku?"
Diana mendongak, ia tak sadar sudah mengabaikan orang di sekitarnya, "maafkan aku tidak memperhatikan obrolan, steak ini terlalu enak untuk tidak lahap segera," ujar Diana polos membuat Elizabeth dan Anthony tersenyum
"Ah, aku rindu sekali denganmu anakku. Kau pasti kesepian di mansion tua itu ya? Maafkan aku yang tidak bisa kesana karena kondisi kesehatanku yang memburuk beberapa bulan terakhir ini,"
Diana sejenak merasa bersalah mendengar betapa menyesal ibu mertua nya karena tidak bisa menemaninya di mansion itu, "tidak, tidak! Anda tidak melakukan kesalahan apapun, Ibu mertua, lagipula disana aku memiliki teman yang menemaniku sehari-hari,"
Tanpa sadar Diana telah membicarakan Edmund dengan begitu leluasa, membuat Anthony yang menatapnya heran.
"Teman? Apakah Huda dan Victoria mengunjungimu? Ah! Harusnya aku membawakan oleh-oleh lebih untuk mereka karena telah amat peduli dengan kebahagiaan istriku," ujar Anthony yang disambut anggukan Elizabeth dari sebrang meja
Diana memaksakan senyum mendengar penuturan Anthony, hatinya mendadak berdetak kencang, ia hampir saja ketahuan tadi.
"Ngomong-ngomong, Ibu bilang tadi Ibu sakit? Ibu sakit apa? Kenapa tidak memberi kabar selama ini? Apa itu penyakit serius?" Tanya Anthony dengan nada amat sangat khawatir
Elizabeth melambaikan tangannya, "tidak perlu dipikirkan, itu hanya flu akibat musim dingin. Bukan lah penyakit serius," jawab Elizabeth dengan lembut
Makan malam mereka pun dihabiskan dengan rentetan kehidupan Elizabeth yang kini menyukai tanaman hias.
"Ibu senang sekali dengan kedatangan kalian kemari. Lain kali datanglah membawa cucuk ya? Rumah ini merindukan tangisan bayi," goda Elizabet membuat pipi Diana bersemu merah
Anthony mengangguk paham lalu mengantarkan Ibunya sampai ke depan pintu kamar tidurnya, "sebaiknya Ibu jangan banyak gerak sekarang, Ibu harus banyak istirahat ya biar nanti bisa gendong cucuk Ibu, gimana?"
Elizabeth menggemgam tangan anak semata wayangnya dengan lembut, "jangan khawatirkan Ibu, khawatirkan saja istri mu itu, kenapa dia begitu kurus?" Ujar Elizabeth yang mendapat senyum pasti Anthony
Tak lama setelah Elizabeth beristirahat di dalam kamarnya, Anthony mengenggam tangan Diana lalu menuntuk istrinya itu menuju kamarnya yang berada di lantai atas bersebelahan dengan ruang kerja mini nya
"Ada yang harus kita bicarakan malam ini," ucap Anthony setelah mereka masuk ke dalam kamar
Sesaat jantung Diana kembali berdetak kencang, apakah Anthony tau? Ya tentu saja suaminya itu tau.
Dia adalah pengusaha ulung, pembisnis handal, dan pria paling pintar yang ia kenal.
Dengan pasrah Diana duduk di pinggir kasur Anthony yang telah diganti seprai. Ini saatnya.
Anthony mendekati Diana lalu memegang pundak Diana, matanya menatap istrinya itu dengan tajam sebelum berucap
"Aku mau empat anak,"
***
TBC