
Perasaan Diana selalu tak tenang semenjak ia melakukan hal yang diluar kendalinya itu.
Yang ia ingat hanya saat ia meminum semua anggur di gelasnya, lalu ia pergi ke kamar mandi karena merasa mual, dan saat ia melihat wajahnya setelah memuntahkan semua makan siangnya. Diana merasa amat sangat menyedihkan.
Wajahnya sembab, lipstick yang ia sengaja pakai agar Anthony senang melihatnya sudah hilang berlepotan di sana.
Ah, bibir itu. Diana mengusap bibirnya kesal. Ia masih mengingat jelas bagaimana rasanya dicium dengan paksa dan sangat kasar oleh Edmund.
"Dasar wanita menjijikkan!" Makinya pada pantulan dirinya di cermin.
"Apa kau puas sekarang? Apa kau puas melihat betapa menyedihkan nya kau di mata suamimu?" Ucapnya lagi mulai kehilangan kendali pada dirinya sendiri karena perasaan nya yang meluap
"Dia tidak mau menyentuhmu! Kau menjijikkan! Kau wanita murahan! Kau tidak layak menjadi seorang istri," makinya lalu menangis terisak
Diana merasakan hatinya sakit sekali sewaktu Anthony yang biasanya memperlakukannya dengan lembut kini menjauh.
Diana rasanya mau gila saat Anthony pergi begitu saja ketika tau akan semua dosanya. Dan setelah pria itu tau dirinya terluka, ia masih memperlakukannya seakan-akan dirinya bukan siapa-siapa.
Apa kau tau bagaimana rasanya jika kau berada di posisinya?
Diana ingin menghilang saja. Ya, Diana tidak lagi berharga di mata Anthony. Dirinya hanya wanita murahan yang mencintai pria lain.
"Anthony, maafkan aku," lirihnya sebelum mengambil pisau cukur diatas meja dan berjalan menuju bath tub yang telah ia persiapkan untuk suaminya mandi namun, Anthony tak pernah masuk ke kamar mereka.
Diana masuk ke dalam bath tub itu lalu mengiris pergelangan tangan kirinya.
Diana heran, kenapa rasanya tidak sakit?
Ia kembali mengiris pergelangan tangannya lalu berhenti saat matanya mulai berkunang-kunang, dan hal yang ia tau selanjutnya adalah saat ia terbaring di kasurnya.
***
"Apa kau mau berjalan-jalan di taman? Bunga-bunga sedang bermekaran di luar, sayang,"
Diana menatap mata Anthony yang berada di sebelahnya dengan heran. Kenapa Anthony masih saja berbicara seakan-akan tidak terjadi apapun?
"Kenapa? Apa kau perlu sesuatu?"
Diana menunduk, ia merasakan sesuatu di perutnya. Ia mengelus perutnya yang rasanya tidak sedatar sebelumnya.
"Apa aku hamil?" Tanya Diana
Anthony berlutut di sebelah istrinya yang baring di punggung kasur, lalu mengusap perut Diana
"Sudah dua bulan,"
Diana menatap suaminya tak percaya.
"Aku tidak sabar jagoan kecil kita ini lahir, pasti dia mirip sepertimu. Pintar dan tangguh,"
Diana menatap suaminya dengan nanar. Ia merasa menyedihkan
"Diana. Sayang. Ada apa? Kenapa kau menangis?"
Diana menggeleng lalu merengkuh Anthony dalam pelukannya. "Maafkan aku karena membahayakan nyawa bayi kita, aku Ibu yang buruk," gumamnya
Anthony melerai pelukan mereka lalu mengusap air mata Diana dari pipinya, "tidak, kau bukanlah Ibu yang buruk Diana. Kau adalah Ibu terbaik yang pernah mereka miliki," ujar Anthony menenangkan istrinya yang mulai panik
Diana yang segukukan tetap tak mau melepas pelukannya pada Anthony, "aku Ibu yang baik karena membiarkan hatiku goyah saat Ayah mereka tidak ada,"
"Aku istri yang buruk karena membiarkan Edmund menciumku, aku—"
Diana terhenyak kaget saat dirinya dibungkam dengan bibir Anthony yang menciumnya dengan lembut.
Begitu tenang dan tidak penuh paksaan, perlahan ia merasakan tangan Anthony yang menarik pinggangnya lalu ciuman mereka berubah intens.
Setelah hampir kehabisan napas Anthony melepas tautan bibirnya pada Diana dan menatap istrinya yang hanya berjarak satu centi darinya itu
"Semua itu bukan salahmu. Jadi, jangan mengungkit hal itu, apalagi menyebut namanya, paham?"
Diana menggigit bibir bawahnya lalu menjawab dengan sisa napasnya, "paham,"
Lalu Anthony kembali melanjutkan ciuman mereka hingga ciuman itu tidak diperlukan lagi karena sekarang keduanya ingin lebih dari sekedar ciuman
Tiga jam kemudian, ketika mereka sudah terlalu lelah, mereka memutuskan untuk saling berbicara, membahas apa saja sambil berpelukan.
Sejenak Anthony berpikir, kemudian setelah mendapati apa yang ia ingin utarakan. Anthony mulai bercerita, "Dulu, aku tidak pernah ingin pergi ke pesta pernikahan kolega ku karena Ibu selalu menyuruhku membawa wanita pilihannya,"
Matahari yang mulai perlahan tenggelam menandakan hari telah menjelang malam dan mereka memilih untuk duduk di balkon dan saling berpelukan dengan selimut yang menghangatkan tubuh mereka yang tidak mengenakan seutas benang pun
Diana menatap Anthony penuh rasa penasaran karena pria itu tampak tenang-tenang saja akan reaksinya, "Lalu kau pergi sendirian ke pesta pernikahan itu?"
Detik selanjutnya, Diana tertawa membayangkan suaminya berada di tengah-tengah pesta dan tidak mempunyai pasangan
Anthony yang melihat istrinya tertawa merengkuh Diana ke dalam pelukannya, ia melingkari tangannya di pinggang kecil Diana sambil menatap langit malam yang ditaburi ribuan bintang.
"Walaupun aku pergi seorang diri, tapi aku pulang dengan calon istri,"
Suara Anthony yang begitu dekat dengan tengkuk leher Diana membuat wanita itu merinding merasakan hembusan napas hangat Anthony yang mengenai kulitnya.
"Kau merayuku ya?"
Anthony tertawa. Istrinya ini benar-benar naif.
Diana mengerucutkan bibirnya tak terima di tertawakan, ia berbalik, lalu menunjuk wajah Anthony. "Jangan tertawa, karena nanti bintang-bintang itu akan mendengarnya,"
Anthony mengangkat sebelah alisnya, "lalu kenapa kalau bintang-bintang itu mendengarnya?"
Diana tetap menatap suaminya dengan wajah seriusnya sebelum berucap, "karena nanti mereka akan jatuh cinta padamu,"
Mendengar itu Anthony tak bisa menahan tawanya. Darimana gadis itu belajar menggodanya?
"Kau membuatku ingin menciummu sekarang juga," bisik Anthony di daun telinga Diana
Diana menggeleng, ia menutup bibirnya, lalu berlari masuk ke dalam kamar.
"Oh jadi ada yang mau bermain kejar-kejaran ya?"
Lalu selanjutnya, Anthony menyusul Diana dan berpura-pura mengejar istrinya itu
"Kalau aku mendapatkanmu, kau tidak akan kemana-mana besok dan seharian di kamar bersamaku,"
Diana tertawa lalu pura-pura berteriak saat Anthony hampir menggapai tubuhnya, "kalau dalam satu menit kau tidak bisa menangkapku, maka besok kau tidur di sofa!" Canda Diana
Anthony yang mendengar itu tersenyum dan pandangan matanya berubah seakan-akan sedang berburu rusa di hutan
Ia tidak lagi mengejar, kini ia mendekati Diana selangkah demi selangkah seperti singa yang hendak menerkam mangsanya
"Ap-apa yang kau lakukan?" Ujar Diana saat menatap wajah Anthony yang berubah penuh hasrat
Anthony tak menggubris dan tetap mendekati Diana hingga istrinya itu tak lagi dapat berjalan dan terjebak di tembok dengan kedua tangan Anthony di sisinya
"Haha.. Aku hanya bercanda tadi, lucu kan?"
Anthony masih saja menatapnya dengan 'lapar' dan membunuh jarak diantara keduanya
"Coba kau dengar! Florest memanggil kita, katanya makan malam sudah—WAA!!"
Diana memekik saat dirasanya tangan Anthony menelusup ke belakang pinggangnya dan dengan kecepatan kilat mengangkat tubuhnya ke atas
"Anthony!! Turunkan aku!" Titah Diana saat dirinya merasakan kedua kakinya melayang di udara
Anthony menyeringai menikmati wajah istrinya yang panik
"Baiklah, baiklah! Aku kalah! Turunkan aku sekarang," ujar Diana
Namun, Anthony tidak dengan begitu saja menurunkan Diana. Ia berputar-putar sebelum meletakkan Diana diatas kasur
"Dasar cu—hmm!"
Anthony mencuri cium Diana
"Tidak adil! Kau mencuri cium dari—hmm!"
"Apa? Aku tidak mendengarmu,"
Diana mengerucutkan bibirnya. Lalu ia menangkup wajah Anthony dengan kedua tangannya, "aku bilang kau—"
Diana kembali dibungkam dengan bibir Anthony. Membuat wanita yang berusia 20 tahun itu tak habis pikir
Anthony tertawa, "yang penting besok kau tidak akan kemana-mana,"
lalu sebelum Diana dapat mengatakan apapun, dengan cepat ia mencuri ciuman dari Diana.
***
TBC