Lady Affair

Lady Affair
IV: Makan Malam


Hari-hari berjalan seperti biasa di dalam mansion keluarga Maxwell. Florest yang sibuk di dapur sambil bersenandung riang, Mariam yang memoles kaca-kaca jendela sambil mengambil kesempatan mengintip jikalau ada Sir Edmund keluar dari mansion nya. Carlos yang sedang fokus merawat bunga di dalam rumah kaca, dan Paul yang sibuk memberi makan kuda di kandang.


Mereka semua menjalani rutinitas harian mereka sambil bersenandung riang, hati mereka sedang senang-senangnya karena baru-baru ini, banyak sekali peti-peti berisi bahan makanan, pakaian, perlengkapan berkuda, hingga perhiasan di kirim ke mansion ini.


Mereka hanya menunggu titah sang Nyonya sebelum membuka satu per satu isi peti tersebut.


Dilain hal, Diana tampak gusar walau sedang membaca buku di dalam perpustakaan mini suaminya. Ia terus menatap lukisan Sang suami dan berharap cemas.


Kapan kah suaminya itu akan pulang? Apakah ia akan bahagia menemukan tetangga yang baik hati yang sebulan terakhir ini mengirimi mereka berbagai hadiah?


Diana membuang napasnya pelan, ia menutup buku novel di tangannya dan memutuskan menikmati memandang hamparan laut putih di luar sana.


Apa yang harus di lakukannya dengan semua peti-peti besar yang dikirim Edmund? Apa balasan yang tepat atas semua kebaikan bangsawan itu?


Pikir Diana sambil melamun. Walaupun penghangat di ruangan ini sudah mati sedari tadi, tapi rasanya kebaikan Edmund membuat hatinya menghangat.


Tanpa Diana sadari, seorang pria yang sedang berkuda di luar sana, sedang memandanginya diam-diam. Ia tersenyum mendapati Diana duduk di tempat yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Wanita itu benar-benar cantik, pikir pria itu.


Rasanya baru ini dia tidak pernah puas memandang wajah seorang wanita, setiap harinya, dia akan keluar ke balkon atau berkuda seperti ini hanya untuk menemukan Diana membaca buku dan duduk di pinggir jendela.


Saat tiba-tiba wanita itu menutup bukunya dan menghadap keluar jendela, pria itu langsung kalang kabut jikalau Diana mendapatinya memandang Diana seperti ini, dengan cepat Edmund melompat dari atas kudanya dan bersembunyi di balik semak-semak.


Memandang wajah sendu Diana benar-benar membuat Edmund ingin segera pergi kesana dan merengkuh Diana kedalam dekapannya. Edmund yakin wanita itu butuh seseorang yang dapat menemaninya, dia butuh seorang pria untuk menghapus kesedihan dari wajahnya, dia perlu sosok suami di sisinya, tapi pria itu tidak ada.


***


Setelah menyiapkan semua makanan dan menata meja makan, Diana menyuruh Paul untuk pergi ke mansion tetangga dan mengundang Edmund untuk makan malam bersama. Tentu saja sebagai ucapan terima kasih atas semua hadiah yang pria itu berikan kepada keluarga mereka.


Walaupun hati Diana awalnya sedikit bimbang, Diana sudah memutuskan untuk melakukan hal yang sama seperti Ed kemarin. Diana harus bertemu dan bicara dengan Ed sebelum pria itu membanjiri rumah mereka dengan beragam hadiahnya.


Tak berapa lama setelah Paul kembali, Carlos mengumumkan kedatangan Edmund.


Diana beranjak dari duduknya dan menghampiri pria yang berjalan kearahnya. Sejenak, Diana berhenti bernapas ketika matanya mendarat ke arah pria yang mengenakan tuxedo dengan rambut yang disisir rapi itu.


Senyum Edmund mengembang saat mendapati penampilan Diana dengan dress yang menampilkan leher mulusnya dan rambut coklat panjangnya yang digerai begitu saja.


Sungguh penampilan wanita itu benar-benar menggoyahkan jiwa muda nya. Diana benar-benar cantik sekali malam ini.


"Kau begitu cantik hingga aku lupa caranya untuk berkedip, Lady Diana," puji Edmund sambil mengecup punggung tangan kanan Diana.


Diana berdehem kala mendengar suara kikikan geli Maria yang berada di belakang mereka sebelum melepas tangannya, "terima kasih, Sir Edmund, anda juga terlihat rapi dengan setelan jas merah anda," puji Diana tidak lupa dengan lady manner resmi kala menyambut tamu seperti yang sudah ia pelajari sedari kecil dulu.


Edmund tak menghilangkan senyum dari bibirnya kala ia mengikuti Diana menuju meja makan. Ia terus memperhatikan gerak gerik Diana yang gemulai hingga wanita itu duduk di posisi kepala meja di seberang sana.


"Silahkan duduk, Mr. Ed,"


Edmund mengerjapkan matanya ketika mendengar arahan Diana, kemudian ia duduk di kursi kosong yang berada di sebelah kanan Diana.


"Apa yang sedang anda lakukan, Mr. Ed?" Tanya Diana seketika saat pria itu duduk di sebelahnya


"Mengisu kursi kosong?" Jawabnya sarkastis


Tanpa sepengetahuan pria lajang tersebut sikapnya telah membuat Diana berdebar-debar mengingat tidak ada jarak panjang deretan kursi dikala mereka hanya berdua di meja makan itu. Diana bahkan dapat merasakan ujung gaunnya bersentuhan dengan kaki Edmund.


"Santai saja, Diana. Aku bukan orang jahat, aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat,"


Diana bergerak tak nyaman di tempat duduknya. Ia berusaha menetralkan degup jantungnya saat matanya bertemu dengan tatapan intens dari Edmund.


“Jika aku di hukum mati karena memandangmu, kuyakin aku akan mati dengan bahagia,” goda Edmund secara tiba-tiba


Mendengar nya, Diana berusaha menetralkan degub jantungnya dengan cara menghirup dalam-dalam udara yang dia perlukan lalu menahan napasnya. Gombalan Edmund membuatnya tidak bisa mengontrol dirinya sendiri, ntah kenapa senyumnya selalu mengembang. Sungguh, pria itu punya banyak cara untuk mengatakan dia cantik.


Melihat reaksi Diana, Edmund dengan santai menyeruput anggur merah di gelasnya.


Beberapa menit berlalu sampai Carlos datang membawakan nampan berisi makanan pembuka mereka. Diana yang gugup segera menyuruh Carlos untuk duduk di depan mereka.


Sontak Edmund tertawa, ia menaikkan sebelah alisnya, begitu juga Carlos yang hampir tersedak mendengar titah sang Nyonya. Tidak ada dalam sejarah dimana pelayan makan satu meja dengan tuannya saat acara penyambutan tamu seperti ini.


"Apa kau keberatan, Mr. Carlos menemani kita makan?" Tanya Diana sangat pandai mengalihkan topik



Carlos yang paham dengan maksud Diana segera duduk di tempat setelah menyajikan makanan Diana dan Edmund.


Sesaat suasana si meja tersebut begitu dingin dan tak bersahabat. Disebelahnya, duduk Diana yang melahap makanannya dalam diam lalu Carlos yang sedari tadi menatapnya terang-terangan membuat Edmund merasa tak nyaman.


Saat makanan utama mereka datang, hal yang sama pun terjadi, hingga Edmund tak tahan lagi.


"Baiklah, bisa kah kau berhenti menatapku seakan akan aku adalah ayam kalkun yang akan di santap saat natal tiba?"


"Maaf aku tidak bermaksud," kata Carlos lalu mengalihkan tatapannya dari Edmund


"Dan Diana," panggil Edmund membuat Diana menarik pandangannya dari piring kearah Edmund


Butuh beberapa saat untuk Edmund menyusun kata-katanya ketika manik mata mereka bertemu. Beruntungnya kali ini ia bisa mengendalikan perasaannya dan daripada terlihat seperti orang bodoh, ia segera berbicara


"Apa kau suka hadiahnya?" Tanya Edmund dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya, ia tak sabar menunggu respon Diana.


"Oh mengenai hal itu, bisakah kau menghentikannya?" Ucap Diana sembari meletakkan garpu di sisi piring perak nya


“Kenapa? Apa kau tidak suka hadiahnya? Apa kau lebih suka guci antik dari China? Atau burung eksotis dari Sumatra? Katakan saja padaku apa yang kau suka, aku akan memberikannya," ujar Edmund dengan menggebu-gebu. Ia benar-benar penasaran, barang seperti apa yang gadis anggun seperti Diana sukai?


Diana dan Carlos tak dapat menahan keterkejutan mereka dengan semangat Edmund yang tiba-tiba saja keluar. Bahkan, si kakek tua Carlos hampir jatuh dari kursi dibuatnya.


"Tidak, bukan itu maksudku, Mr. Ed, kami menghargai sikap baik anda kepada keluarga ini. Tapi tolong, kondisi kami sudah lebih dari cukup untuk menerima hadiah dari anda," jelasnya dengan tenang


"Baiklah, kalau itu maumu, Diana," Edmund tiba-tiba bangkit dari kursinya


"Aku izin undur diri, ada pekerjaan yang masih belum aku selesaikan," ucap Edmund. Ia melihat sekilas Diana lalu berjalan keluar. Mungkin seharusnya dirinya tidak mencoba mendekati wanita yang jelas-jelas tidak pernah memberinya lampu hijau sedari awal. Seharusnya dia berhenti mengejar wanita bangsawan itu.


Langkah berat Edmund berhenti saat Diana memanggilnya. Layaknya bel gereja di hari Minggu, Edmund segera membalikkan tubuhnya.


"Ini, terima lah pemberian kecil dari kami guna membalas kebaikan hati anda," katanya Diana sambil memberikan bingkisan kecil


Mendengar itu, rasanya ada semilir angin segar yang berhembus diantara mereka.


Perlakuan Diana berhasil membangkitkan semangatnya kembali. Namun, Edmund tak langsung menerima bingkisan itu, ia berdiam diri sejenak.


“Bolehkah aku tau apa isinya, My Lady?" Tanya Edmund, sengaja berlama-lama agar bisa menikmati wajah sendu Diana


"Ini kue kering yang aku dan Florest panggang tadi sore, semoga saja bisa sesuai dengan lidah anda,"


Edmund tersenyum, hatinya bahagia, isi bingkisan itu bukan berlian ataupun surat tanah yang biasanya bangsawan lain berikan jika mereka menerima hadiah darinya. Itu adalah kue. Kue kering.


Aneh sekali. Baru ini dia ada orang lain yang memberinya kue kering buatan rumah, bahkan ibunya saja tidak pernah membuatkan apapun untuknya. Mendadak hati Edmund menghangat, ia merasa bahagia, amat bahagia.


"Terima kasih banyak, Diana. Aku pasti akan memakannya," balas Edmund sembari mengambil bingkisan itu


Diana tersenyum. Dan Edmund bersumpah Diana yang tersenyum jauh lebih indah daripada jutaan bintang yang bertaburan di langit malam.


"Selamat malam Diana, mimpi indah," ucap Edmund membalas senyum Diana sebelum keluar dari mansion itu.


Edmund terus berjalan cepat ke arah rumahnya. Saat tiba disana, ia segera masuk ke ruang kerja nya dan membuka bingkisan itu penuh minat.


"Kue buatan Diana... Ini kue buatan tangan Diana!" Pekik Edmund penuh semangat saat melihat setoples penuh kue kering dengan beraneka ragam bentuk


Ia mengambil kue cookies coklat, dan menggigitnya. Manis! Enak sekali.


Dengan cepat ia langsung melahap kue kering itu dan menaruh sisanya di laci.


"Diana... Seharusnya aku yang membuatmu bahagia, bukan sebaliknya," guman Edmund sebelum menyibakkan kanvas yang ia tutupi dengan kain tipis di ujung ruangan.


***


TBC