Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Emosi


"Kau masih bertanya bagaimana aku bisa berada disini? cepat tarik tanganku dan simpan saja pertanyaanmu itu." Justin bersungut-sungut sambil memegangi kepalanya.


"Akh, baiklah aku akan menarikmu tunggu aku ambilkan tali." Ucap Maya sambil berlari jauh dari hadapan Justin menuju gudang.


Setelah beberapa menit kemudian Maya datang menghampiri Justin dan mengulurkan tali ke paret.


"Hei gila, aku jatuh ke paret bukan ke jurang, aku tadi suruh kamu narik tanganku bukan ambil tali. Pake kuping dipasang bukan dikantongi." Celoteh Justin dengan suara mulai meninggi.


"Aku minta maaf aku tidak tau dan memang mungkin tadi pendengaranku bermasalah." Ucap Maya dengan suara santai.


"Kau sudah berani melawanku sekarang, awas saja akan aku sobek mulutmu dan menyiramnya dengan larutan asam." Ucap Justin dalam hati.


Justin meninggalkan Maya yang berdiri mematung dan bingung entah mengapa dirinya bisa seberani itu melawan perkataan Justin.


Di kamar Justin setelah selesai mandi, dirinya menatap langit dan berharap Keluarga kecilnya akan utuh kembali.


"Akh, tidak... ini sudah takdirku keluargaku sudah hancur sejak aku kecil dan mustahil bisa diperbaiki." Justin langsung menarik selimutnya dan beranjak tidur di kasur yang serasa surga dunia baginya.


"Aku harus bagaimana sekarang? Anju kuharap kau baik-baik saja." Ucap Maya dengan meneteskan air matanya.


Maya kembali berjalan ke gudang dan menghampiri kedua orang tuanya yang tidur dengan selimut yang diambil Maya dari rumah mewah Justin.


Tatapan Maya kepada kedua orang tuanya terlihat jelas bahwa semua penderitaan keluarganya hanya dibebankan kepada Maya.


"Aku rindu semuanya aku sungguh merindukanmu hal dimana kebersamaan kita bisa kembali utuh bersama Anju." Maya tidak berhenti menangis takut jika suara tangisannya sampai terdengar dia menggigit jarinya dengan kuat.


Secara perlahan Maya mulai menatap keatas dan mencoba untuk tidak berkedip beberapa detik, dan seiring berjalannya waktu Maya terlelap.


Di tempat lain, entah mengapa Justin kembali terbangun dan tidak bisa tidur.


Dia mengambil laptopnya dan menyalakan berniat untuk mengerjakan beberapa tugas pending beberapa hari lalu.


"Aku merasa ada yang aneh dengan diriku mengapa setiap kali aku gelisah aku mengingat Maya. Ada apa denganku?" Justin merasa Maya sedang menghantui pikirannya.


"Aku tidak bisa selalu seperti ini tetapi apa yang menyebabkan aku begini ada apa ini.?" Justin selalu mengotak-atik pikirannya sambil bertanya-tanya pada dirinya.


Tidak ingin selalu memikirkan Maya dirinya berjalan ke dapur untuk menyajikan secangkir kopi, secara perlahan dirinya menyendokkan gula dan kopi dan menuangkan air panas.


"Astaga, bagaimana bisa aku selapar ini padahal aku tadi makan." Justin membuka kulkas untuk mengambil makanannya.


Dengan penuh heran yang tidak terbayangkan Justin heran bagaimana bisa makanannya berkurang setengah, padahal dirinya sangat jarang untuk memasak dan makan dirumah, jikapun dia harus makan dirumah itu karena dirinya malas atau tidak sempat untuk memesan makanan dari luar atau ke restoran.


"Siapa yang makan sebanyak ini? tidak mungkin Maya? tubuhnya saja kecil tidak mungkin ususnya tahan menampung makanan sebanyak ini." Justin overtingking dengan hal yang mengejutkan dirinya.


"Barangsiapa yang mengambil makanankh tanpa seizinku akan kumasukkan semua makanan yang ada di kulkas ini kedalam mulutnya. Awas saja sudah kuduga pelakunya pasti kau Maya." Ucap Justin sambil mengepalkan tangannya dan sudah sangat emosi.