
Justin tersadar dari pingsannya dan langsung beranjak pulang menuju ke arah rumah.
Saat di rumah Anju yang duduk di hadapan Sheyla dibarengi tangannya yang di borgol menangisi perbuatannya.
"Shel, gue minta maaf karena gue loh jadi menderita seperti ini seharusnya gue nggsk ngelakuin ini." Anju menangisi perbuatannya tetapi semuanya sudah tidak ada artinya.
"Gue sumpahin loh akan menderita seumur hidup loh dan gue jamin tidak akan pernah tenang." Justin mengungkapkannya karena dirinya sangat membenci Anju dan ingin membunuhnya.
"Salah gue apa? kenapa loh rebut Sheyla dari gue dan sekarang loh membunuh dia? belum puas loh melihat dia bahagia?" Justin mengatakan hal seperti itu karena tidak bisa memahami masalah hidupnya.
"Shelya tidak salah, loh yang seharusnya mati! g*bl*k tidak bisakah sekali saja untuk tidak menganggap hidup gue?" Sheyla sudah pergi dan nggak ada artinya buat di tangisi.
"Manusia br*ngs*k kayak loh nggak pantas bahagia, Sheyla harus diberi keadilan dan gue mau nyawa harus di bayar dengan nyawa."
"Justin..."
"Tenangkan emosimu saat ini kita tidak bisa melakukan apapun lagi yang ada kita hanya bisa berdoa supaya Sheyla diterima dengan tenang." Ucap Mamanya Justin sambil menyapu air mata Justin yang memandangi peti Sheyla.
"Nggakkkkkkkkkk..."
"Gue nggak sanggup, nggak... please."
"Lord Jesus, why did you bring me together with him if you had to separate him?"
"Justin, tenangkan dirimu tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi tetapi mungkin sudah menjadi jalan yang terbaik bagi kita semua." Ucap Mamanya Anju yang membuat amarah Justin semakin melunjak.
"Diam loh nenek tua, kalau jadi selingkuhan Papa gue nggak usah banyak bacot dan gue sarankan sekali lagi nggak perlu ikut campur urusan hidup gue."
Selama beberapa jam kemudian...
Para masyarakat yang datang untuk mengungkapkan turut berdukacita membuat hati Justin semakin rapuh.
"Ngapain loh masih ada di sini? gue nggak mau lihat wajah loh." Ucap Justin kepada Anju yang masih memandangi Sheyla dengan rasa penuh penyesalan.
"Gu, gue... izinkan gue di sini melihat Sheyla untuk yang terakhir kalinya setelah itu gue akan pergi mempertanggung jawabkan perbuatan gue." Anju memohon kepada Justin untuk melihat Sheyla sebelum dimakamkan.
"Gue nggak ngerti gimana cara pikir loh, jelas-jelas loh sendiri yang membunuh Sheyla lalu mengapa sekarang loh masih di sini?"
"Gue nggak butuh loh, pergi...! pergi nggak...!"
Justin sangat dendam dengan Anju yang membuatnya sangat membenci keluarga kecilnya.
"Lima menit lagi loh masih di sini, itu artinya loh menginginkan gue untuk memesan satu peti lagi." Perjelas Justin dengan tatapan penuh dendam.
"Justin, izinkan dia di sini sampai Sheyla di makamkan dan setelah itu dia akan di penjara." Ucap Mamanya Justin yang membuat pikiran Justin tenang.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang...
Saatnya proses pemakaman Sheyla yang lokasinya tidak jauh dari rumah Anju dan Papanya Justin.
Di lokasi yang sudah ramai di kerumuni banyak orang, Justin menangisi takdirnya dan tidak tahu mengapa harus terjadi kepadanya.
Bangunan keramik yang sudah selesai di buat akan menjadi rumah peristirahatan bagi Sheyla.
Dengan perlahan peti Sheyla di dorong untuk memasuki bangunan tersebut.
Justin yang turut serta melakukannya tidak bisa menahan tangisnya dan sesekali di usapnya menggunakan kemeja batik yang dipakainya.
Setelah selesai proses pemakaman, Justin berjalan mendekati bangunan keramik tersebut dan langsung memeluk keramik Sheyla.
"Gue janji setiap sekali seminggu gue akan datang menjenguk loh." Justin mengusap air matanya yang selalu turun.