
"Gue setuju dengan ide loh sekarang gue mau beri masukan gimana kalau kita menyusun rencana dengan membuat loh dekat dengan Maya." Ucap Riki dengan senyuman.
"What? gila apa gimana sih?" tanya Justin berpikir dua kali dengan ide konyol Riki.
"Gue dari awal memang sudah gila tapi tidak ada yang mempercayai akan hal itu." Ucap Riki lagi.
"Shel, dengar baik-baik kalau Justin dekat dengan Maya yang kita inginkan pasti akan tercapai setidaknya kita tahu siapa yang merencanakan ini semua dan tujuannya apa." Ucap Riki berusaha meyakinkan Sheyla.
"Tapi apa hubungannya dengan Maya lagian loh tahu sendiri kalau Maya adalah anak pindahan dari Jepang ke sini." Ucap Justin sambil menggaruk keningnya.
"Gue lumayan setuju dengan ide Riki nggak masalah kok kalau mereka berdua dekat lagian ini semua juga demi kebaikan bersama." Jawab Sheyla lagi dengan penuh harapan jika Justin melakukan rencana yang dibuat oleh Riki.
Satu bulan kemudian...
Maya dan Justin semakin dekat dan membuat hubungan Sheyla dengannya semakin renggang.
Minggu ini Sheyla berencana untuk berbicara dengan Maya dan memutuskan untuk meluangkan waktu bertemu dengan Maya.
"Gue mau kita bicara sebentar," ucap Sheyla menghambat jalan Maya.
Tanpa menjawab apapun Maya melanjutkan perjalanannya dan tidak mengubris Sheyla sedikit pun.
"Gue mau bicara dengan loh dan nggak sampai 10 menit." Ucap Sheyla sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Gue nggak bisa banyak urusan yang harus gue tangani dan jangan menghambat jalan gue kalau nggak gue bakal laporin ke Justin." Ucap Maya dengan entengnya tanpa memikirkan perasaan Sheyla.
Maya berjalan dari hadapan Sheyla dengan senyuman sinis karena sekarang Maya dan Justin sudah saling mencintai tanpa sepengetahuan Sheyla.
Di kantin Sheyla bertemu dengan Riki dan menceritakan semuanya kepada Riki.
"Gue juga bingung kenapa semuanya menjadi seperti ini dan gue lupa bilang sama loh kalau Maya dan Justin beberapa hari yang lalu sudah resmi jadian." Ucap Riki lagi menambah pikiran Sheyla.
"Gue, nggak salah dengar?" tanya Sheyla lagi memastikan apa yang barusan dijelaskan Riki hanyalah omong kosong.
"Nggak Shel, seharusnya dari awal loh sudah tahu kalau Justin sudah naksir dengan Maya itu sebabnya dia nggak pernah lagi perhatian sama loh apalagi dekat dengan loh." Tambahnya lagi membuat Sheyla semakin menderita bahkan seperti tertusuk benda tajam.
Di rumah Sheyla...
"Gue kenapa nggak pantas bahagia?" tanya Sheyla sambil melihat foto keluarganya yang indah.
"Gue kesepian nggak punya siapa-siapa lagi padahal dulu Justin berjanji untuk selalu ada buat gue tapi nyatanya gue malah dihianati." Sheyla terus menangis sampai matanya memerah.
Saat menangis teleponnya berbunyi karena moodnya sangat hancur Sheyla selalu menolak telepon tersebut.
"Gue sangat menderita bagaimana caranya gue melupakan semua sakit hati gue?"
Ting...ting...ting
Telepon Sheyla kembali berbunyi dengan perasaan ragu dia menjawab telepon tersebut.
"Halo, ini siapa kenapa daritadi selalu menelpon saya apakah saya memiliki urusan dengan anda?" tanya Sheyla dengan suara serak karena habis menangis.
"Sheyla anak yang kurang beruntung maaf karena sekarang kau harus menderita karena dosa-dosa kedua orang tuamu dan kau yang menanggung akibatnya sekarang."Ucap pria tersebut dengan lantang seperti mengenal jelas seperti apa orang tua Sheyla.
"Maaf, mungkin anda salah sambung." Ucap Sheyla dan langsung mematikan telepon tersebut.
Dengan perasaan khawatir Sheyla masih bingung siapa yang menelpon tadi.
Telepon Sheyla kembali berbunyi dengan takut dia tidak menjawab telepon tersebut bahkan tidak melihat siapa yang menelponnya.
Setelah 2 menit kemudian Sheyla sudah mulai tenang dan kembali membuka hp nya.
Pesan dari masuk dengan cepat Sheyla melihat pesan tersebut ternyata dari Justin.
"Shel, gue minta maaf akhir-akhir ini gue nggak perduli lagi sama loh sebenarnya gue sibuk banget." Ucap Justin dengan emot minta maaf.
"Iya santai aja." Balas Sheyla lagi dengan berpura-pura tidak tahu jika Maya dan Justin sudah jadian.