Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Memulai Hidup Baru


Hari ini Sheyla dan Justin membereskan barang-barangnya dan segera bergegas menuju bandara.


"Gue sudah melengkapi semua yang kamu inginkan dan sekarang kita tinggal pergi."


"Memulai hidup yang baru dan awal yang baru juga." Ucap Justin sambil memeluk Sheyla cinta pertamanya.


Saat diperjalanan menuju Jepang...


"Gue nggak mau kalau hidup gue selalu sia-sia dan gue mau masa depan gue jelas." Ucapan Sheyla membuat Justin bingung.


"Gue bingung dengan ucapan loh nggak ngerti gue, bisa dijelaskan sekali lagi dengan detail supaya gue paham tujuan perkataan loh." Justin memandangi wajah Sheyla berusaha menenangkan Sheyla.


"Gue mau melanjutkan kuliah supaya gue punya masa depan." Justin yang mendengar perkataan Sheyla tersenyum dan kembali memeluk Sheyla.


"Apapun yang kamu inginkan akan kuikuti dan nggak perlu khawatir gue akan membuatmu berkuliah di sana." Sheyla sangat bahagia dengan respon Justin yang setuju.


Selama beberapa jam Justin dan Sheyla berada di pesawat keduanya sangat akrab saling bertukar pikiran dan serasa saudara.


Matahari yang terik digantikan dengan bulan dan juga bintang yang bertabur di langit.


***


"Gue ngantuk," Ucap Sheyla sambil mengucek-ucek matanya yang mulai memerah.


"Tidur di sini aja, kami gue masih kuat tidur yang nyenyak supaya kamu nggak sakit." Ucap Justin sambil mengusap-usap kening Sheyla.


Tidak terasa jam digantikan dengan hari yang dimana pada saat ini mereka berdua sudah berada di Jepang yang sangat sejuk dan juga damai.


"Gue nggak nyangka kok bisa," Ucap Sheyla dengan senang seperti tidak ada masalah.


"Kita beda kamar dan gue juga harap supaya gaya pakaian kamu dijaga baik-baik karena belum tentu gue bisa kontrol. Kuharap kamu mengerti dan paham maksudku, karena kamu tidak ingin balikan lagi denganku jadi tolong jaga sikapmu." Ucap Justin menasehati Sheyla dari awal.


"Gue tahu, tapi gue bukannya nggak mau balikan lagi denganmu hanya saja belum siap untuk balikan." Pertegas Sheyla lagi dengan penuh tekanan supaya Justin mengerti perkataan Sheyla.


"Sudahlah nanti kamu sakit soalnya suasana di sini berbeda di Jakarta dan juga kamu harus jaga kesehatan apalagi mau kuliah." Ejek Justin sambil menjintak jidat Sheyla.


Saat di dalam kamar yang megah melebihi kamarnya di rumah Anju.


Sheyla sangat nyaman dengan kemewahan dan sifat hangat Justin tapi tanpa disadari Sheyla kalau di kamarnya ada sisi tv yang selalu memantau dirinya.


Karena sangat lelah Sheyla langsung tertidur di kasur dengan wajah yang damai.


Keesokan harinya...


"Gue sudah janji kalau loh akan kuliah karena itu adalah permintaan loh jadi gue akan turuti."


"Makasih karena sudah mengerti dan memahami gue. Dan loh juga menerima keputusan gue." Ucap Shelya dengan wajah yang berseri karena keinginannya dikabulkan.


"Nanti gue akan mengantarkan loh ke universitas yang loh sukai."


Beberapa menit kemudian...


Saat tiba di kampus tersebut semua murid berpenampilan kece tidak kalah juga dengan Sheyla.


"Gue sekarang akan berusaha untuk mengumpulkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup gue sendiri tanpa bantuan orang lain." Jiwa semangat Sheyla sangat besar untuk merubah takdirnya.


Selama berada di samping Justin Sheyla bahagia tetapi ada yang mengganjal di hatinya karena Justin mengajaknya ke Jepang bukan ke negara lain.