Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Persiapan Acara Tunangan


Pagi hari yang cerah kembali bersinar pertanda hari yang baru telah tiba.


Kini Sheyla duduk hanya bisa meratapi bagaimana nasibnya karena jika dulu Sheyla bangun cepat karena pergi ke kampus, tapi sekarang Sheyla tidak bisa melakukan apapun.


"Gue masih ngantuk tapi harus bekerja karena jika tidak bekerja tidak akan makan." Sheyla mengucek-ucek matanya karena masih sangat mengantuk.


Sheyla membuka hp nya melihat pesan masuk dari wa dengan sigap dia melihat siapa yang mengirimnya pesan.


Tok...tok...tok...


"Bisa gue masuk sekarang?" tanya Anju sambil membuka pintu kamar.


"Woi, gue masih belum kasih izin buat masuk tapi loh sudah main masuk aja." Sheyla memperbaiki cara duduknya saat melihat kehadiran Anju.


"Pagi, Sayang" Anju bersikap manis terhadap Sheyla yang tidak tahu mengapa Anju berubah.


"Hm, lagian gue bukan cewek loh" Sheyla menatap Anju penuh penekanan.


"Gue nggak peduli intinya loh milik gue, dan besok kita akan lanjutkan pertunangan kita." Anju bersih keras untuk mengajak Sheyla bertunangan.


Di tempat lain...


Justin sangat kacau melihat tingkah laku Sheyla yang pergi seenaknya dari rangkulannya.


"Gue akan bawa loh kembali ke Jepang dan menyadarkan loh kalau Anju bukanlah yang terbaik."


Saat membuka hp nya dengan perasaan yang sulit dijelaskan Justin melihat Anju dan Sheyla membagikan foto bersama.


"Shel, loh nggak ngerti kalau Anju nggak serius sama loh. Dia cuman manfaatin loh Shel." Justin terus mengutuki dirinya karena tidak bisa mempertahankan Sheyla.


Sementara Justin selalu mengutamakan pekerjaannya daripada hal yang lain.


"Gue bingung seperti apa dan bagaimana cara berpikir Sheyla memandang hidup." Justin sangat frustasi dengan perlakuan Sheyla yang sangat mudah terpengaruh.


Anju sudah mempersiapkan semua perlengkapan yang diperlukan untuk besok tetapi berbeda dengan Sheyla yang hanya terdiam merenung.


"Shel, kamu harus banyak istirahat karena besok akan membuatmu sangat lelah." Ucap Mamanya Anju dengan senyuman yang jelas terpancar di wajahnya.


Sudah larut malam dan semua orang sudah tertidur dan rata-rata lampu sudah dimatikan.


Sheyla berjalan keluar untuk menikmati hembusan udara di malam hari.


"Gue heran meskipun Anju sangat peduli dengan gue tapi sedikitpun tidak bisa membuat gue tertarik." Sheyla heran dengan dirinya yang tidak tahu mengapa bisa seperti itu.


Sheyla duduk di bawah pohon yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Anju.


Sheyla mengambil hpnya dan melihat galeri foto dirinya bersama dengan kekasih belahan jiwanya yaitu Justin.


Tidak tahu mengapa setiap kali Sheyla melihat foto Justin masalah yang dia hadapi hilang dengan seketika.


"Gue pikir semuanya akan berakhir bahagia tetapi gue salah, dan sekarang gue terjebak sendiri karena Anju hanya mengarang cerita kalau Mamanya kritis karena Sheyla pergi meninggalkannya."


"Saat ini gue bingung apalagi besok gue akan bertunangan dengan seseorang yang sama sekali tidak gue sukai." Sheyla menundukkan dan sesekali menarik nafas dan membuangnya kasar.


Telpon Sheyla berbunyi dengan harapan yang besar Sheyla berfikir bahwa yang menelpon adalah Justin, tetapi dugaannya salah besar. Ternyata telepon tersebut dari Anju dan mungkin Anju sedang mencarinya.


Dengan cepat Sheyla berlari menuju ke rumah Anju dan menemuinya untuk menanyakan hal mengapa Anju menelponnya.