Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Cerai


Setelah mengingat semua perkataan Sheyla yang saat ini membuatnya semakin bingung apa yang telah dia lakukan mengapa sangat bodoh kenapa hanya terdiam.


"Aish, bodo amat sih gue kenapa nggak gue bunuh aja tu anak padahal tadi pisau ada di tangannya tinggal tusuk beres masalah gue."


"Tapi tunggu dulu gue,


kayak nggak punya perasaan sedikitpun tapi kalau dipikir-pikir yang diungkapkannya ada benarnya juga."


Lama berpikir sambil menghela nafas Anju membuka pintu kamarnya dan melangkahkan kakinya menuju pintu rumah.


Teleponnya berbunyi dengan sangat kuat hingga membuatnya merasa terganggu.


"Yah, halo Mah. Tumben nelpon Anju ada apa? tanya Anju penasaran sambil ditemani rasa takut jika terjadi sesuatu kepada Mamanya.


"Anju, mama mau bilang besok siang kamu datang ke rumah papa kamu ada hal penting yang ingin mama ceritain."


"Iya mah," Anju langsung mematikan hp nya dan berjalan menuju kamarnya.


Keesokan harinya...


Rumah Papanya Anju sepi seperti tidak ada orang sama sekali.


Anju menelpon mamanya untuk mengabari kalau dia sudah ada di depan rumah.


Lama berdiri di depan pintu akhirnya dibuka oleh mamanya dan langsung memeluk Anju.


" Anju, silahkan duduk ada hal penting yang mau mama bicarakan sama kamu sekarang."


"Saat ini mama mau bilang kalau selama ini mama adalah istri kedua dari papa kamu." Dengan rasa penuh bersalah dan tidak tahu berbuat apa air mata yang selalu tercurah dari kedua mata orang tua Anju.


Belum selesai berbicara tiba-tiba Papanya Anju datang bersama Justin dan juga mamanya Justin.


Saat ini Justin hanya bisa menahan amarah dan emosinya karena mamanya Anju yaitu selingkuhan Papanya Justin yang selalu diremehkannya berada di hadapannya.


"Pah, mereka siapa?" tanya Anju refleks yang membuat Justin heran dengan ucapan Anju.


"Woi, apa maksud loh bilang papa dia adalah papa gue kangen yah manggil papa karena papanya sudah lama tidak ada." Ucap Justin yang membuat papanya langsung menampar pipi Justin dengan kuat.


"Tidak pantas kamu mengatakan hal seperti itu dia juga anakku meskipun bukan kandung dan aku juga sangat menyayanginya." Ucap papanya Justin lagi yang membuat Anju semakin bingung dan terbawa pikiran yang ada di otaknya sendiri.


"Papa akan menjelaskan semuanya kepada kalian berdua supaya tidak ada kesalahpahaman."


"Gue nggak terima kenapa papa selalu kasar sama Justin." Ucapnya sambil mengusap-usap wajahnya yang memerah.


"Papa minta maaf tidak seharusnya papa merahasiakan hal ini dari kalian tapi sebenarnya kalian berdua adalah saudara meskipun tidak satu ibu." Mendengar perkataan papanya Justin dan Anju sangat terkejut.


"Papa bohong, nggak mungkin hal ini nggak mungkin." Anju menolak hati dan pikirannya dengan penjelasan papanya.


Justin menangis jika ternyata Maya mantan kekasihnya adalah saudaranya meskipun beda ibu.


"Sekarang sudah jelas tidak ada rahasia lagi? Papa harus tahu satu hal bahwa penyebab Maya depresi dan bunuh adalah karena putus dengan Justin." Ucap Anju yang mulai tidak terima kenyataan hidup yang sulit dimengerti.


Semua mata tertuju kearah Justin dengan sorot mata yang tajam Anju menatap Justin menyimpan dendam yang dalam atas kematian adiknya.


"Pah, kalau masalah ini Justin tidak sepenuhnya bersalah lagian kita juga tidak tahu jika Maya adalah saudaranya Anju." Ucap mamanya Justin mencoba mengelabui suaminya.


"Sampai kapan pun gue nggak terima kalau dia saudara gue dan papa harus memilih salah satu antara mama atau perempuan ini?" Anju menegaskan perkataannya dihadapan mereka semua.


"Woi, sadar diri loh! yang menghancurkan kehidupan papa gue adalah dia yang menjadi sekretaris papa gue." Ucap Justin lagi dengan emosi yang meledak-ledak.


"Gue tanya sekali lagi kepada papa milih mama atau dia?" ucap Anju penuh penekanan.


Dengan lantang papanya menjawab memilih Justin dan juga mamanya dan akan sesegera mungkin untuk menceraikan mamanya Anju.


"Oke, fine loh menang selamat! dan semoga loh betah menjadi putranya yang selalu dibanggakan."


"Papa loh ini nggak ada bedanya sama loh, tau nggak kenapa gue bilang gitu? karena kalian berdua sama-sama pengecut. Habis manis sepah dibuang."


"Dia menikahi mama gue tanpa sepengetahuan gue dan sekarang seenaknya menceraikan mama gue, sementara loh memberikan harapan palsu kepada Sheyla dan menghianati ketulusannya. Semoga betah melakukan kejahatan kuharap loh berdua sanggup nongkrong di neraka, sampai jumpa para manusia bangsat gue harap semoga berjumpa di alam yang berbeda."


Saat di rumah Anju...


"Anju mama nggak sanggup harus hidup sendiri seperti ini apalagi papa kamu selalu bersama dengan mama."


"Mah, sadar atau nggak sadar keputusan yang gue ambil ini demi kebaikan mama juga nantinya." Anju menjelaskan panjang lebar dan memotivasi mamanya untuk tetap semangat dan bangkit.


"Gue nggak tahu lagi harus berbuat apa mengapa dunia ini sangat kejam gue nggak bisa selalu seperti ini." Anju memegangi hp nya dan berpikir untuk berinvestasi lagi demi masa depannya.


Selama merenung beberapa menit kemudian, Anju sadar bahwa Sheyla belum makan apapun dan juga saat ini dia penasaran apa yang sedang dilakukan wanita yang paling dibencinya itu.


Dengan cepat dia memasuki kamar yang lampunya mati dan langsung dihidupkannya dan dilihatnya Sheyla yang menunduk dengan tangan yang berdarah.


"Hei, apa yang kau lakukan?" Anju bergegas membuka bajunya dan langsung dililitkannya dilengannya.


"Gue bisa mati, kenapa loh nolongin gue bukannya ini yang paling loh inginkan bukan?" ucap Sheyla dengan bibir yang pucat akibat darah yang banyak keluar dari lengannya.


"Loh bukannya senang kalau gue mati kenapa loh buka baju buat ikat lengan gue bukannya baju loh mahal dan branded?" pertanyaan konyol Shelya membuat Anju sangat pusing dan langsung menggendong tubuhnya yang kecil dan seksi keluar berjalan menuju garasi.


Saat di dalam mobil menuju rumah sakit Anju melirik-lirik Sheyla memastikan bahwa keadaannya baik-baik saja.


Sesampainya di rumah sakit...


"Dokter, tolong pasien yang saya bawa saat ini dia sangat butuh pertolongan." Dengan cepat dokter dan suster yang lain membantu Anju dan langsung membawa Sheyla ke ruangan dan menanganinya dengan cepat.


Anju mondar-mandir di luar khawatir jika kondisi Sheyla semakin parah.


"Ya Tuhan tolong sembuhkan dia kasihan dia jangan kau ambil nyawanya kumohon padamu." Dengan melipat tangan sambil menunduk Anju menangis entah apa yang membuatnya menangis.


Di rumah Anju yang besar saat mamanya beristirahat, suara seseorang memanggil namanya.


Suara yang memanggilnya tidak asing lagi bagi mama Anju.


Dengan cepat Mamanya Anju langsung beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju suara yang memanggilnya itu.


Seorang wanita yang sangat dirindukannya itu berada di hadapannya dengan senyuman yang manis.


"Ma, Maya bukannya kamu sudah meninggal?" tatapan Mamanya Anju membuat seorang wanita tersebut semakin senang.


"Mamaku, tidak ada yang bisa melukaiku tenang saja keselamatanku selalu aman." Ucap Maya sambil memeluk mamanya.


Di rumah sakit Shelya belum sadar sama sekali dan entah mengapa dokter yang menanganinya juga belum keluar dari ruangan tersebut.


Hal ini membuat Anju sangat takut dengan kondisi Sheyla.


Telepon Anju berdering pertanda ada yang menelpon.


"Ya, halo Mah, Mama sorry tadi nggak sempat izin keluar rumah soalnya ada urusan penting yang harus kuselesaikan." Anju berbohong kepada Mamanya kondisi Sheyla karena apapun alasannya mamanya Anju akan menyalahkan Anju karena terlalu bersikap kejam terhadap Sheyla.


"Sekarang juga kamu pulang ada hal penting yang ingin mama bilang sama kamu." Tanpa membantah Anju langsung mengiyakan perkataan mamanya dan langsung pergi.


Saat di rumah mata Anju melongo tidak berkedip sedikitpun.


"Hei kakak? matanya nggak sakit jika tidak dikedipkan sadarlah woi." Maya menghangatkan suasana yang daritadi garing.


"Bukannya loh udah meninggal tapi kok bisa hidup?" pertanyaan Anju membuat Maya tertawa terbahak-bahak karena pertanyaan saudaranya yang konyol.


"Gue sebenarnya hanya drama dan lagipula tidak mungkin hanya karena masalah seperti itu gue langsung depresi dan bunuh diri." Jawab Maya lagi sambil tertawa yang membuat perutnya pegal.


Anju melihat seorang lelaki yang berdiri di samping Maya tapi tidak diperhatikannya sejak tadi.


"Ehk, gue nggak lihat loh siapa sih?" tumben gue nggak kenal. Ucap Anju heran sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Hm, dia ini Riki teman satu kelas gue dulu dan dia yang membantu gue buat ngejalanin rencana ini." Maya tersenyum kepada Riki dan mengelus pundaknya Riki karena grogi.


"Hm, senang bertemu denganmu dan gue mau nanya sebenarnya tujuan dari rencana loh ini apa sih?" tanya Anju penasaran karena merasa ide mereka diluar nalar.


"Gue berpikir kalau kematian kedua orang tua gue beda tipis dengan Sheyla jadi gue memutuskan untuk mencari jalan keluarnya dengan bekerja sama dan kalau masalah ide itu dari Maya." Perjelas Riki dengan panjang lebar.