Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Memendam Amarah


Pagi hari ini Justin sudah bersiap-siap untuk kembali ke kantor dan berusaha untuk memulihkan pikirannya dari masa lalunya.


Saat tiba di kantor yang suasananya mulai rame dan ribut, Justin langsung memasuki ruangannya tanpa menunjukkan ekspresi apapun.


"Gue harus menyelesaikan semua pekerjaan ini bagaimanapun caranya." Dengan berjuang keras untuk bangkit Justin harus memotivasi dirinya.


Saat dirinya sibuk melakukan pekerjaannya yang mulai menumpuk, tiba-tiba teleponnya berbunyi.


"Ya, halo Rik, ada apa tumben nelpon gue ada masalah yah?" tanya Justin dengan heran.


"Jus, gue minta sekarang loh pulang ke Indonesia karena ada hal yang sangat penting untuk dibicarakan, menyangkut soal Anju."


Dengan cepat Justin langsung membereskan semua barang-barangnya dan kembali pulang ke rumah.


Tanpa berpikir panjang, Justin langsung melajukan mobilnya.


Beberapa lama kemudian, Justin memasuki rumah dan di sana dia melihat seseorang yang sangat dia benci duduk dengan santainya.


"Pah, apa-apaan ini? bukannya dia harus dipenjara karena perbuatannya tapi malah enak-enakan duduk di sini." Justin sangat marah besar melihat Papanya yang mulai bersikap tidak adil.


"Hei, Justin. Seharusnya kalau kamu datang itu ketok pintu dulu baru masuk dan duduk." Nasihat Papanya tidak diperlukan Justin tapi langsung duduk.


"Seperti yang sudah kamu lihat sekarang ini, Papa sudah mulai tua dan yang mengurus semua perusahaan sekarang ini sudah mulai tidak ada." Mendengar hal tersebut tatapan Justin berubah.


"Maksud Papa yang akan mengurus dan menghandle serta memanajemen semua pekerjaan itu Papa serahkan kepada Anju." Tatapan Justin masih seperti semula dan pikirannya sedang tegang saat ini.


"Papa harap kamu bisa mengerti dan paham maksud dan tujuan perkataan Papa."


"Sekarang gue mau nanya, memangnya dia nggak dihukum lagi? bebas gitu maksudnya?"


Justin terdiam lagi beberapa menit berusaha untuk mendinginkan pikirannya, dan mulai sadar jika selama ini seberapa keras kerja dan upaya yang dia lakukan tidak pernah di hargai.


"Gue nggak bisa terima semua ini, tapi dibalik ini semua pasti ada hal yang sedang kau rencanakan." Ucap Justin dalam hati sambil melirik Papanya yang duduk di sebelahnya.


"Gue minta maaf karena perbuatan gue Sheyla jadi meninggal." Ucap Anju sambil menundukkan kepalanya.


Justin menatapnya sinis dan hanya diam saja tidak menjawab perkataan Anju dan berusaha untuk menahan dendam yang dia miliki saat ini.


"Gue ke kamar dulu ngantuk gue besok aja di bahas lagi masalahnya." Justin langsung beranjak pergi karena kepalanya sudah mulai panas.


Di ruang tamu, sepasang suami istri sedang membicarakan sebuah acara pertunangan dengan tujuan untuk membagikan warisan.


"Pah, bagaimana jika Justin tidak setuju dengan ide kita ini dan bagaimana mungkin kita harus melakukan hal seperti dan sudah jelas-jelas kita tahu bahwa Justin masih trauma dengan kejadian yang lalu."


"Kamu tidak perlu khawatir dia pasti akan mengikuti perkataanku karena jika tidak maka dia harus bersiap-siap untuk tidak mendapatkan sepeserpun harta dari yang kita miliki." Ucapan tersebut membuat Mamanya Anju dan Justin terdiam dan menunduk.


Meskipun dulu dikatakan hampir cerai dan sering ingin terjadi, tetapi hal tersebut tidak bisa dilakukan oleh Mamanya Justin dan juga Mamanya Anju karena semua aset dan harta sudah diambil alih oleh Papanya Justin atau Adiwijaya Pramuja yang sangat licik. Tanpa sepengetahuan Justin dan juga Anju.


Di dalam kamar yang gelap Justin menangisi takdirnya yang selalu menyedihkan.


Tidak ada yang bisa membuatnya bahagia dan yang paling anehnya justru kebahagiaan yang menghancurkan hidupnya.


"Gue sadar tidak ada manusia yang sempurna tapi bisakan sekali aja gue nggak punya masalah."


"Gue yang bekerja keras di Jepang untuk melanjutkan perusahaan Papa supaya tetap berjalan, tapi yang ada malah gue yang selalu salah dan dianggap tidak berguna.


Saking lelahnya berpikir Justin tertidur dengan airmata yang masih berlinang di sudut matanya.


Hingga tanpa disadari malam sudah berganti dengan hari yang begitu cerah.


Dengan mata yang masih mengantuk dan sesekali menguap membuat Justin sulit untuk bangun.


Seorang pelayan mengetok pintu kamar Justin sambil memanggil-manggil namanya menuju ruang tamu di suruh oleh Papanya Justin.


Dengan tubuh yang sempoyongan dan belum bisa seimbang karena diselimuti rasa kantuk yang besar.


Justin berjalan sambil mengusap-usap wajahnya yang masih datar.


Justin duduk dan masih menguap sesekali di hadapan mereka semua.


Papanya Justin langsung berbicara tanpa berpikir panjang mengenai pertunangan Justin dan juga dengan seorang wanita.


"Sekarang Papa sudah tua dan saat ini Papa lihat umur kamu sudah cukup untuk menikah." Mendengar ucapan tersebut Justin terdiam tanpa berbicara sepatah katapun.


"Jadi, maksud Papa saat ini adalah kamu menikah dengan wanita pilihan Papa." Hal itu membuat Justin sangat murka tapi berusaha untuk bersikap baik-baik saja dan tenang.