
"Gue minta maaf akhir-akhir ini gue nggak sibuk jadi nggak bisa kabarin loh." Ucap Justin dengan santainya.
"Iya, nggak papa kok gue ngerti." Balas Sheyla dengan singkat.
Dalam hati Sheyla sangat tertekan dan kecewa karena sikap Justin yang mengkhianatinya dari belakang.
Setelah Sheyla membalas pesan dari Justin tidak ada balasan lagi.
Pesan masuk dari nomor yang belum pernah di save Sheyla muncul di hp nya.
"Gue tahu tujuan awal Justin hanya akan mendapatkan siapa pelaku yang telah membunuh Papa dan Mamamu, tapi gue mau bilang hanya ada satu jawaban yaitu putuskan hubunganmu dengan Justin." Jawabnya lagi dengan penuh tanda-tanda keanehan.
Dengan penuh penasaran Sheyla semakin heran siapa lelaki yang selalu menelponnya bahkan mengirim pesan yang sepertinya sangat mengenal Sheyla.
"Siapa kamu sebenarnya dan mengapa kau mengganggu hidupku?" Sheyla mengetik sambil gemetaran karena takut itu adalah orang yang berniat jahat pada dirinya.
Tidak ada balasan apapun dan selama berada di kamar Sheyla merasa ada seseorang yang selalu mengintai dirinya.
"Gue nggak mungkin putus dengan Justin tapi kalau dipikir-pikir ada benarnya juga mengapa gue masih mempertahankan hubungan yang didalamnya ada penghianatan." Ucap Sheyla dalam hati sambil menghela nafas.
Keesokan harinya...
Justin langsung menemui Sheyla saat jam istirahat tetapi dia tidak sendirian ditemani dengan pacar barunya yaitu Maya.
"Sayang, gue minta maaf karena semalam gue nggak sempat balas chat darimu bukan maksudku untuk menghancurkan hatimu." Ucap Justin tanpa merasa bersalah.
Sheyla tidak menjawab apapun dan langsung meninggalkannya tanpa melihat ke belakang.
Sesampainya di rumah Riki Justin menceritakan sikap dingin Sheyla kepada Riki.
"Gue nggak ngerti salah gue dimana dan kalau misalkan gue punya salah ke dia seharusnya to the point supaya gue juga ngerti." Ucap Justin bingung.
"Sudah nggak perlu di bahas lagi btw, loh nggak ke bengkel sekarang?" tanya Riki mengalihkan topik pembicaraan.
Saat di bengkel seperti biasanya Justin selalu totalitas dalam bekerja.
"Justin putra Papa ternyata kamu sekarang sudah bisa mandiri dengan membuka bengkel." Ucap seorang Pria yang mengejutkan dirinya.
"Bukan urusan loh, dan ngapain datang ke sini?" tanya Justin lagi.
"Papa sangat merindukanmu sekarang Papa sadar apa yang selama ini Papa lakukan itu salah."
"Baru ketabrak tiang yah?" tanya Justin lagi sambil tersenyum sinis.
Dengan sigap Papanya Justin langsung berlutut di hadapan Justin yang membuat para pelanggan di sana merasa iba dan salut melihat Papanya Justin.
"Pah, berdiri gue nggak mau dilihat orang-orang seperti anak durhaka dan pembangkang." Ucap Justin tanpa mengubris lututnya.
"Jika orang tua yang salah maka orang tua juga yang harus minta maaf kepada anaknya."
"Papa mau kamu kembali lagi ke rumah dan kita melewati hari-hari bersama lagi dengan mama kamu."
Kurang lebih satu jam Justin dan Papanya bernegosiasi dan akhirnya Justin mau tinggal kembali ke rumah orang tua angkatnya.
Saat di rumah Riki, Justin menceritakan semuanya kepada Riki bahwa dia akan tinggal kembali di sana.
Dengan perasaan sedih Riki mengikuti kata Justin.
Keesokan harinya semua barang-barang Justin sudah ada di depan rumah Riki.
Tak berselang lama supir Papanya Justin datang menjemputnya untuk kembali ke rumah barunya.
Saat ingin masuk ke dalam mobil Riki tiba-tiba mengingat bahwa mobil yang digunakan supir tersebut adalah mobil yang dulu dilihatnya rusak parah di simpang jalan.
"Jus, gue ingat mobil ini yang gue lihat rusak parah di persimpangan jalan tapi karena gue buru-buru jemput loh nggak sempat gue tolongin."
"Serius loh?" tanya Justin mencoba memastikan bahwa dugaan Riki tidak salah.
"Gue serius ada yang aneh menurut gue dan lihat plaknya masih penyot belum diperbaiki." Ucap Riki lagi semakin yakin dengan penglihatannya.
"Tuan muda ayo cepat karena sudah ditunggu nyonya si rumah." Ucap sang supir.
"Rik, gue pergi dulu yah terima kasih atas semua bantuan loh selama ini dan gue nggak akan lupain kebaikan loh." Ucap Justin lalu memeluk Riki.
Di rumah Justin semua yang ada di rumah menyambut Justin dengan senang dan penuh bahagia.
Sambil memeluk Papa dan Mamanya Justin mengingat ucapan Riki mengenai mobil tersebut.
"Justin kamu istirahat ke kamar dulu yah jangan lupa mandi." Ucap Mamanya Justin dengan senyum sumringah.
Saat di kamar Justin mencoba menenangkan diri dan tidak mengerti sebenarnya apa yang terjadi.
Tiba-tiba teleponnya berbunyi yang menelpon adalah Sheyla.
"Ya, halo apa sayang?" tanya Justin khawatir terjadi sesuatu dengan Sheyla.
"Gue nggak ngerti cara berpikir loh gimana goblok atau sudah dol." Ucap seorang Pria membuat Justin semakin khawatir.
"Siapa loh kenapa telepon Sheyla ada di loh?" tanya Justin lagi.
"Gue nggak perlu ngasih tahu loh kalau penasaran segera temui ke rumah Sheyla sebelum wanita belahan jiwamu ini menjadi mayat." Ucapnya lagi dengan penuh tawa.
"Gue ke sana sekarang." Ucap Justin langsung mematikan hp nya dan meminta kunci mobil kepada salah satu pembantunya.
"