Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Mengobati Luka


Mendengar suara musik yang bising membuat telinga Maya hampir pecah.


Dengan langkah kaki yang malas dia berjalan mencari tahu dari mana suara tersebut berasal.


"Justin? ap, apa yang kau lakukan?" sorot mata Maya mengarah kepada tanaman bunga yang disukainya.


"Bukan urusan loh, dan sekarang gue mau tegaskan sekali lagi jangan pernah melakukan sesuatu hal yang dapat membuat hubungan kita semakin sulit." Justin melemparkan cangkul yang dipegangnya dengan kencang ke samping Maya.


Perlahan Maya berjalan mencoba untuk memperbaiki tanaman bunga yang saat ini sudah hancur lebur akibat ulah Justin.


"Gue nggak ngerti mengapa dia sekejam ini." Dengan penuh tanda tanya dirinya hanya bisa menangisi takdirnya.


Justin yang memiliki kebiasaan setiap paginya terlihat cool, tetapi saat ini wajahnya sangat marah besar dan sangat jelas terlihat bahwa dia sedang murung.


"Jus, gue sekarang mau ngajak loh ke sebuah tempat yang pasti loh bakalan suka." Ucap Riki yang selalu mencari ide dalam menghidupkan suasana.


"Gue lagi malas, dan sekarang ada pekerjaan penting yang harus gue selesaikan." Justin langsung pergi menjauhi Riki yang sengaja datang ke kantornya.


"Ohk, ayolah Justin, sekali ini saja tidak akan kuganggu lagi." Pinta Riki sambil mengatupkan kedua tangannya.


Tidak menjawab apapun Justin terus melangkah hingga membuat Riki malas berdebat dan memutar tubuhnya berjalan pulang.


Selama di dalam kantor pikiran Justin tidak bisa menghindar dari Maya apalagi saat ini Maya sudah dekat dengannya.


Tok... tok...tok ...


Suara pintu diketuk dan dengan lancang memasuki ruangan Justin.


"Gue gue nggak bisa masuk gitu?" ungkapan Myshel menunjukkan bahwa dirinya tidak bersalah dengan tingkah lakunya.


"Btw, gue bawain makanan lagi buat loh dan ini spesial." Myshel menyodorkan makanan tersebut ke hadapan Justin.


"Gue belum lapar, dan sekarang gue minta loh keluar dari sini sekarang juga." Justin menyuruh Myshel keluar dengan suara yang lantang.


Tatapan Myshel tajam kepada Justin karena dirinya tidak dihargai sama sekali.


"Saat ini gue harus mencoba bertahan dan tidak mungkin gue mengatakan semua ini kepada Mama nanti semuanya semakin kacau." Maya menggigit jemarinya sambil berpikir bagaimana caranya membuat Justin dekat dengannya.


"Gue pulang!" suara yang tidak asing bagi Maya membuatnya langsung menghampiri asal suara tersebut.


"Tumben pulangnya cepat," Maya terkejut melihat lengan Justin yang terluka dan mengeluarkan banyak darah.


"Astaga kenapa bisa begini?" dengan sangat sigap Maya langsung mengobati luka Justin sambil meniupnya dengan pelan-pelan.


"Tadi ada kecelakaan ringan saat gue bekerja dan begini jadinya." Maya berusaha untuk mengobatinya dengan penuh perasaan.


"May, gue minta maaf setelah kita bertunangan gue nggak pernah membuat loh bahagia." Ucapan Justin sangat aneh bagi Maya.


"Sudahlah tidak perlu dibahas lagian gue nggak tidak terlalu memikirkan hal itu, dan kalau memang seperti itu yang membuat loh bahagia gue akan terima. " Ucap Maya sambil mengolesi betadin di lengannya Justin.


"Maksud gue kalau ada hal yang ingin loh wujudkan lebih baik terus terang saja padaku dan satu hal lagi jika sudah menemukan seseorang yang kamu cintai beritahu saja padaku." Ucapan Justin membuat Maya bingung dan tidak mengerti sama sekali mengapa kata -kata yang dilontarkan Justin memberi kesan seakan-akan menyuruh Maya untuk meninggalkan dirinya.