Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Salah Paham


"Tumben amat loh punya sepupu kayak dia." Ledek Justin sambil menghabiskan makanan yang tersisa sedikit lagi di meja.


"Diam loh, makan saja! nggak usah banyak ngomong nggak penting juga." Riki menatap Myshel dengan berharap supaya dia maklum akan sikap Justin.


Ting...


Suara pintu terbuka dan dengan tatapan yang kosong Maya hanya berdiri tidak mampu melangkah sedikitpun.


Kekompakan yang dialami oleh Justin dan Riki sangat tergambar jelas apalagi saat Myshel berbicara di hadapan mereka berdua.


Suasana di ruangan tersebut menjadi hidup dan entah mengapa setiap Maya melihat Justin dengan dekat dengan Myshel selalu membawa tawa bagi Justin.


Makanan yang dimasak oleh Maya terasa seperti sia-sia karena saat ini Justin sudah menikmati hidangan yang dibawakan oleh Myshel.


"Ehk, Jus lihat yang dipintu." Riki memberi isyarat bahwa seseorang sedang memandangi mereka bertiga.


Sontak hal itu membuat Justin bingung harus melakukan apa dan sedikit ragu bagaimana jika Maya melapor kepada Papanya yang dimana Justin sangat malas jika harus berurusan dengan Papanya.


"Maya, ngapain loh ke sini nggak biasanya?" Tanya Justin mencoba basa-basi sambil menatap yang dipegang oleh Maya.


"May, jangan salah paham dulu kita bertiga hanya makan siang bareng kok dan gue nggak tahu kalau loh datang ke sini juga kalau sejak awal tahu kita bakal tunggu loh." Riki menjelaskan kepada Maya supaya tidak ada kesalahpahaman diantara Justin dan Maya.


"Loh kenapa sih? sudah jelas-jelas kalau Maya datang ke sini untuk membawa makanan untukmu tapi kau malah bersikap dingin padanya." Riki tidak habis pikir dengan sifat Justin.


"Gue juga tahu kalau dia bakalan ke sini, ya tapi mau bagaimana lagi dia juga datangnya sudah telat. Ahk, sudahlah tidak perlu dipikirkan." Justin langsung mengakhiri pembicaraan supaya pembahasan tentang Maya selesai.


"Hm, ngomong -ngomong siapa dia?" tanya Myshel penasaran.


"Dai adalah tunanganku dan sepertinya sampai saat ini tidak ada yang bisa membuatku jatuh cinta." Pertegas Justin meskipun Myshel tidak terlalu penasaran dengan Maya.


"Gue heran sama loh dan gue harap suatu hari nanti loh bisa menerima semua yang telah terjadi dan bersyukur atas apa yang loh miliki saat ini." Riki tidak sanggup jika sahabatnya itu menjadikan Maya sebagai alat untuk tetap memiliki harta Papanya.


"Gue nggak ngerti maksud pembicaraan kalian tapi yang jelas gue sekarang sudah kenyang." Ucapan konyol Myshel membuat Justin ingin melahap Myshel bulat-bulat.


"Haha, gila banget sih loh dan gue juga mau bicara kalau saat ini waktu kita untuk mengetahui Maya mencintaimu atau tidak sudah tidak terlalu banyak." Ledek Riki lagi yang membuat amarah Justin semakin melunjak.


"Diam loh, nggak perlu bicara hal yang sama sekali tidak penting kecuali menyangkut soal perusahaan dan kerja sama yang lain." Justin marah jika seseorang membahas Maya karena Justin tidak pernah mencintai Maya.


Saat ini gue tahu kalau loh nggak bisa mengerti tentang perasaan gue yang dimana dipaksa untuk menghancurkan masa muda demi untuk mewarisi harta dan mendapatkan tanggung jawab yang besar." Justin menghela nafas panjang memikirkan masalahnya yang tidak kunjung kelar.