Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Godaan


"Dasar manusia tidak tahu akhlak sudah dikasih hati malah minta ginjal." Ucap Sheyla dengan sungut- sungut yang dilontarkannya.


Di kamar Justin bekerja tanpa mengenal lelah bahkan dirinya sangat ingin sekali membeli Sheyla sebuah hadiah yang membuatnya bahagia.


"Huahhh, gue sekarang sudah bisa mewujudkan impian gue menjadi orang yang sukses dan seperti saat ini tanpa sepengetahuan Papa saham yang dibangunnya sudah menjadi milik gue sekarang." Ucap Justin sambil senyum-senyum karena keinginan dan tujuannya akan tercapai.


"Gue bisa menderita dan bertahan dalam kegelapan, tetapi gue nggak sanggup jika orang yang gue sayang menderita."


Selama menscroll tiktok yang tiba-tiba mengganggu pikiran dan waktunya, sebuah video terkirim ke ponselnya.


Dengan cepat dia langsung melihat pesan dari siapa tapi ternyata ada seseorang yang tidak dikenalnya.


Selama menonton video tersebut Justin mulai geram dan sangat membenci orang tersebut.


"Gue sudah bilang gue akan menghancurkan orang-orang yang mengganggu jiwa dan ketenangan gue apalagi ini soal keluarga gue." Justin melihat ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Huammm, gue ngantuk banget padahal besok ada rapat yang harus gue selesaikan." Justin berjalan keluar menuju kamar Sheyla yang tidak jauh dari kamarnya.


"Astaga, nih anak ngences buset. Kenapa dulu gue bisa naksir sama dia sih, iuhhh." Justin menarik tubuh Sheyla untuk memperbaiki cara tidurnya dan menyelimutinya.


Justin kembali pergi ke kamarnya dan mematikan semua lampu dan langsung tidur karena sangat lelah bekerja seharian.


Keesokan paginya...


"Pagi Sheyla, gue boleh masuk?" tanya Justin berdiri di depan pintu kamar Sheyla sambil memegang secangkir teh.


"Nggak, pulang aja sana! nggak diundang soalnya." Saat menarik selimut untuk melanjutkan mimpinya, Sheyla merasa ada sesuatu yang aneh.


Saat melihat jam dinding ternyata sudah jam 9 pagi dan Sheyla belum melakukan apapun untuk pergi ke kampus.


"Ya ampun Sheyla, astaga mati gue apalagi sekarang dosen gue si super-duper galak." Sheyla menyingkirkan Justin yang membuat minuman yang dipegangnya tumpah.


"Woi, siapa suruh loh terlambat bangun jangan lari-lari nanti jatuh." Justin sangat perhatian kepada Sheyla saking sayangnya tidak ada seorang pun yang bisa mendekati Justin selain sosok Sheyla.


"Gue nanti terlambat sampai di kampus bisa berabe gue dan yang paling gue takutkan dosennya galak bro." Sheyla sudah selesai memakaikan semua pakaiannya.


Tatapan Justin selalu damai jika melihat Sheyla, baginya Sheyla adalah seseorang yang sangat berharga layaknya seperti berlian yang harganya sangat mahal.


"Kita berangkat sekarang!" Justin berdiri dan mengambil kunci mobil dari dalam laci.


Selama diperjalanan tidak ada suara sedikitpun hanya bunyi musik yang terdengar begitu keras.


Sheyla turun dari mobil sementara Justin hanya duduk di dalam mobil tidak berbicara sepatah katapun kepada Sheyla.


Dengan cepat Justin langsung melajukan mobilnya meninggalkan Sheyla yang masih berdiri mematung melihat ekspresi Justin yang aneh.


"Gue heran dia manusia atau apa sih? kadang sikapnya hangat kadang dingin."


Saat jam pelajaran berlangsung Sheyla selalu menjadi pusat perhatian karena selalu sangat aktif di bagian publik speaking yang memadai.


Hingga tiba jam pulang semua murid meninggalkan kampus tersebut.


Sheyla masih berdiri di depan gerbang sambil menunggu Justin yang dianggapnya sebagai manusia pencabut nyawa.


"Bagaimana ini kenapa dia belum datang ditelpon tidak diangkat padahal bentar lagi hujan." Sheyla bosan jika harus selalu menelpon Justin sementara telponnya hanya memanggil dan chatnya centang satu.


"Gue juga mau pulang bareng sama gue aja." Ucap seorang lelaki yang membuat jantung Sheyla tidak berdetak normal.


"Gue terkejut tau nggak sih, lagian gue juga nggak kenal loh siapa main nyolot aja." Sheyla tetap saja khawatir jika terjadi sesuatu dengan Justin.


"Hm, hay kenalin nama gue Tulus, umur gue 19 tahun dan gue anak pertama dari dua bersaudara dan..."


"Stt, sudah gue nggak perlu tahu dan tidak mau tahu terserah loh dan itu juga urusan loh." Ucap Sheyla sambil kembali melihat ponselnya.


"Bareng gue aja pulangnya nggak papa kok lagian gue mau kok antarin loh." Tulus melihat Sheyla dengan lumayan lama.


Tiba-tiba sebuah mobil hitam datang dan membuat Sheyla sangat senang karena kekhawatiran yang dia pikirkan tidak terjadi.


"Gue lama karena gue tadi ada urusan penting." Ucap Justin sambil membukakan pintu mobil.


"Gue juga ngerti kok, bahkan sungguh sangat mengerti." Pertegas Justin lagi membuat Sheyla bingung.


"Maksud loh apa? tanya Sheyla dengan bingung dan penasaran.


"Ok, nggak papa gue tahu kok lagian ini juga sudah hal yang biasa ucap Sheyla lagi.


"Ehk, Tulus gue pamit pulang duluan yah." Ucap Sheyla sambil melemparkan senyuman kepada Tulus.


"Dia cowok loh?" tanya Justin tiba-tiba membuat Sheyla bingung bercampur emosi.


"Gue cuman teman doang sama dia kok, lagian kalau jadian mana mungkin gue mau." Ucap Sheyla dengan enteng dan tidak tahu kalau Justin sedang cemburu.