
"Bagaimana kalau Justin meninggalkan gue dan semakin dekat dengan wanita tersebut?" Maya mondar-mandir sambil berpikir karena takut kehilangan Justin.
Tok ...tok...tok...
Pintu rumah terdengar bahwa seseorang datang.
"Gue ngantuk mau tidur jangan ganggu gue. Kalau ada yang penting besok saja kita bicarakan capek gue sekarang." Ucap Justin langsung menutup kedua matanya.
Maya hanya menunduk dan sangat khawatir jika suatu hari nanti Justin malah berpaling darinya.
"Tidak ada yang mengerti dengan perasaan gue, padahal gue juga sangat ingin dimengerti." Maya mengusap air matanya dan langsung mengambil selimut berjalan menuju lantai dan berbaring di bawah.
Satu malam akan terasa sangat panjang jika kita memiliki sebuah masalah, sama seperti yang sedang dialami Maya saat ini.
Tingg...tingg...tingg...
Telepon Justin berbunyi dan sekarang sedang menunjukkan pukul 2 pagi.
Justin tidak mendengarkan bunyi teleponnya yang masih berbunyi.
Maya terbangun karena merasa terganggu mendengarkan bunyi telepon Justin.
Dengan rasa penuh kecewa Maya kembali meletakkan handphone Justin karena sudah melihat nama kontak tersebut yang tak lain adalah Myshel, seseorang yang bertemu mereka tadi saat di pesta ulang tahun Riki.
Maya kembali melanjutkan tidurnya meskipun air matanya sudah mulai berlinang. Tetapi dengan sekuat mungkin dirinya berusaha untuk menangis tanpa bersuara meskipun dadanya sudah sedikit sesak.
Tidak terasa waktu sudah pagi dan hari yang baru sudah dimulai kembali.
"Iya, gue tahu dan kalau boleh nanti gue akan datang ke kantor buat ngantar makan siang ke loh." Ucap Maya sambil mengikat rambutnya.
"Nggak perlu sekarang gue mau pergi ke kantor dan satu hal yang harus loh ingat kalau pertunangan kita hanya formalitas saja, gue nggak bakalan marah kalau loh dekat dengan pria lain, dan begitu juga sebaliknya." Justin langsung pergi meninggalkan Maya yang masih berdiri bingung dengan sikap Justin yang cuek dan tidak peduli sama sekali dengan Maya.
Di kantor saat Justin sibuk mengerjakan tugasnya dalam mengecek beberapa formulir hasil perkembangan bisnis setelah satu bulan.
"Hay bro. Tadi malam gue lihat loh pulang sendiri padahal waktu datang bareng Maya." Riki yang tiba-tiba datang mencari masalah kepada Justin.
"Entahlah bro, mungkin dia punya kerjaan dan nggak perlu kita bahas itu lagi."Ucap Justin sambil mengetik data-data yang penting di laptopnya.
"Bro, ini ada gue bawa makanan tadi pagi gue masak bareng sepupu gue." Riki mengeluarkan makanan tersebut satu-persatu.
"Siapa sih sepupu loh? si Myshel maksud loh?" tanya Justin mencoba memastikan.
"Iya, loh harus cobain karena Myshel sangat pandai dalam memasak makanan." Justin langsung menyantapnya dan rasanya memang sangat berbeda.
"Pandai juga dia memasak gue pikir taunya hanya memoles wajah saja tetapi gue salah." Mendengar ucapan Justin seperti itu membuat Riki makin kasihan kepada Maya.
"Ehem, ehem... muji gue yah? nggak heran juga sih kalau masakan gue paling enak dan tidak ada tandingannya dengan berbagai restoran." Ucapan tersebut dilontarkan dari mulut seseorang yang tiba-tiba nimbrung yang tak lain adalah Myshel.
"Ehk, Myshel ngapain loh di sini dan sejak kapan sih? Kok gue nggak tahu sih."Riki dan Justin langsung mengatur tempat duduknya.
"Sudah nggak usah malu dan sungkan makan aja yang banyak sialnya gue masak ini spesial.," Riki dan Justin kembali melahap makanan tersebut.