Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Pergi Atau Bertahan


"Mengapa perkataanmu tidak bisa kumengerti sedikitpun." Maya menaikkan salah satu alisnya karena tidak bisa berpikir tentang ucapan Justin.


"Gue tahu kalau loh sangat tersiksa dengan sikap dan kepribadian gue yang membuat loh risih dan tidak betah sama sekali. Jadi demi kebahagiaan loh sekarang gue mengizinkan loh untuk mencari kebahagiaan loh." Mendengar perkataan Justin Maya tidak bisa menahan air matanya yang sudah antri di sudut matanya.


"Tapi gue mau menerima pertunangan itu karena gue juga memikirkan jika suatu hari nanti kita bisa saling memahami." Tidak tahu mengapa Maya berusaha mempertahankan hubungan tersebut.


"Gue tidak bisa melakukan seperti ini kepada loh, dan gue juga sadar kalau semakin lama maka semakin menyakitkan bagi kita berdua terutama loh." Justin menatap Maya mencoba membuat Maya untuk mengerti.


"Tap, tapi gue sebenarnya sayang sama loh. Dan itu sebabnya dulu gue menerima pertunangan ini." Pertegas Maya untuk yang kedua kalinya tetapi saat ini dia mengatakan isi hatinya.


"Tidak May, gue tahu loh sayang tapi ini demi kebahagiaan loh." Justin memeluk Maya dan tidak bisa membohongi perasaannya bahwa saat ini dirinya sedang bingung dengan satu hal.


"Jadi maksud loh kita berpisah?" tanya Maya sambil menghapus air matanya.


"Ya begitulah, dan kalau boleh mulai besok saja kita berpisah dan gue harap loh nggak perlu memberitahu hal ini kepada Papa dan juga Mama." Bagi Maya ancaman Justin adalah perintah yang harus dia lakukan.


Usaha yang dilakukan Maya untuk membahagiakan Justin sudah sirna dan sia-sia begitu saja.


"Gue akan pergi besok dari rumah ini dan gue harap loh bisa jaga diri dan tidak mudah terpengaruh dengan hal negatif." Pesan Maya adalah perhatian terakhir yang dia ungkapan kepada Justin.


Maya beranjak pergi dan menyusun semua barang-barangnya berharap dirinya akan menjalani hidup yang tidak bisa dia pikirkan.


Dengan mata yang sembab karena terlalu lama menangis membuat Maya harus tetap bersabar dan bersabar.


Gue sadar tidak ada yang bisa menggantikan Sheyla di hati loh, tapi gue juga manusia dan mengapa loh tidak bisa mengerti dan menerima gue sedikit pun." Maya terus meratapi nasibnya yang tidak bisa dia ceritakan kepada siapapun lagi.


Maya hanya terdiam di kamarnya dan tidak memiliki niat sedikitpun untuk melakukan kegiatan lain.


"Besok gue sudah pergi dari rumah ini dan tidak ada lagi yang tersisa selain kenangan." Maya tidak habis pikir mengapa Justin dengan sangat hebat menyuruh seseorang pergi dengan begitu mudah.


" Bagaimana mungkin gue harus meninggalkan seseorang yang paling gue sayangi, dan bagaimana mungkin gue meninggalkan Justin."


Maya membaringkan tubuhnya dan berusaha menguatkan dirinya bahwa ucapan Justin sama sekali tidak terlalu menyakiti hatinya.


Selama satu malam ini Maya tidak bisa tertidur dan masih belum sanggup untuk berpisah dari Justin.


Air mata Maya masih mengalir dari sudut matanya karena baginya hal ini sangat menyakitkan.


Maya merasa dadanya sesak karena tidak bisa mengekspresikan perasaannya saat ini.


"Bagaimana mungkin hal ini terjadi padaku, mengapa harus aku banyak orang lain yang lebih pantas untuk menerima cobaan ini. " Maya selalu menangisi nasibnya meskipun ini sudah larut malam.