
"Gue minta maaf terlalu lancang berbicara seperti itu, sorry." Ucap Tulus dan langsung meninggalkan Sheyla dan pergi menjauh dari hadapan Sheyla.
"Kenapa sih tu anak heran gue, dan kenapa Tuhan masih memelihara orang goblok seperti dia." Sheyla bersungut-sungut melihat tingkah laku Tulus yang aneh terhadap dirinya.
Beberapa menit kemudian karena bosan yang menyelimuti, Sheyla membuka hp nya dan ternyata telepon masuk dari Anju sebanyak 59 kali.
"Astaga kenapa sih, ada yang salah atau sedang terjadi sesuatu?"
Sheyla mengangkat telepon dari Anju dengan berani dan tidak berpikir panjang.
"Shel, loh dimana? bisa pulang sekarang nggak soalnya kondisi Mama semakin kritis karena pertunangan kita gagal." Ucap Anju dengan suara serak karena mungkin sehabis menangis.
"Ap, apa? gue nggak mungkin bisa pulang ke Indonesia apalagi saat ini yang memodali gue adalah Justin dan jikapun gue pulang bagaimana dengan cita-cita gue yang hampir gue wujudkan, tapi yang lebih penting juga adalah kesehatan orang tua Anju." Sheyla pusing sendiri dengan apa yang barusan diucapkan oleh Anju.
"Saat ini gue nggak punya jalan keluar gue harus menelpon Justin atau lebih baik gue langsung pergi aja yah?"
Sheyla bingung langkah apa yang akan dia ambil untuk melihat orang tua Anju.
Tanpa berpikir panjang Sheyla langsung mencari jalan keluar untuk kabur dari rumah Justin yang begitu besar dan megah.
"Sekarang gue harus pergi dari rumah ini dan penyebab mamanya Anju kritis juga karena ulah dan perbuatan Gue." Ucap Sheyla sambil memasukkan kopernya ke dalam bus.
22 jam di dalam perjalanan menuju Jakarta, Sheyla sudah terlebih dahulu memberi pesan kepada Justin bahwa dirinya akan kembali ke Jakarta.
Anju sangat panik jika terjadi sesuatu hal yang dapat menyebabkan mamanya Anju semakin parah dari apa yang di pikirkan oleh Anju.
Saat di rumah sakit yang menjadi andalan Anju dan juga keluarganya tetap saja dibuat panik karena kondisinya sangat memperihatinkan dan hanya bisa mengharap kepada Tuhan yang Maha Esa.
"Shel, maksud loh apaan? jikapun kondisi mamanya Anju kritis bahkan sampai mati sekali pun gue nggak bakal datang." Ucap Justin mencoba menahan amarahnya yang sudah mulai meluap-luap.
Sudah tiba di Jakarta yang indah dan kece, Sheyla kembali melangkahkan kakinya meskipun sudah di sini tetapi tetap juga dia harus memikirkan terlebih dahulu kondisi orang tua Anju yang sangat parah.
"Anju, gue sudah ada di Jakarta sharelock saja alamat rumah sakitnya nanti gue langsung ke sana." Ucap Sheyla dengan khawatir.
"Nggak perlu datang ke rumah aja dulu soalnya mama sudah di rawat di kamar karena kondisinya tidak bisa dirawat di rumah sakit lagi." Ucap Anju langsung mematikan teleponnya.
"Gue nggak mungkin bisa seperti ini terus apalagi gue sudah sangat jahat karena gue masalah kehidupan Anju bertambah." Sheyla menyesal karena dibutakan oleh cinta akibatnya ada yang harus menderita dan terluka.
Sesampainya di rumah Anju...
Dengan cepat Sheyla melangkah dan langsung menaiki tangga rumah satu-persatu.
Saat berada di dalam kamar mamanya Anju, tatapan Sheyla tidak berpaling dari seseorang yang juga menatapnya yang tak lain adalah mamanya Anju.
"Gue nggak habis pikir bisa-bisanya loh pergi di hari pertunangan kita dan loh malah memutuskan untuk meninggalkan gue dan juga Mama." Anju berbicara tanpa melihat Sheyla sedikit pun karena memiliki kemarahan tersembunyi terhadap Sheyla.
"Gue minta maaf, dan gue sadar gue terlalu egois hanya memikirkan diri sendiri dan gue juga tidak tahu bahwa akan terjadi seperti ini."
Sheyla merasa sangat bersalah karena sifatnya yang tidak perduli sama sekali dengan orang yang ada di sekitarnya.
"Okey, gue tahu dan loh juga nggak perlu terus terlalu merasa bersalah karena semuanya sudah terjadi." Anju memeluk mamanya sambil menangis dan berdoa supaya mamanya diberi kesehatan.
"Gue cinta sama loh, gue berusaha bersabar untuk tidak langsung menelpon loh meskipun Mama sangat khawatir dengan kondisi loh karena apa? karena gue menghargai loh siapa tahu dia belum siap atau mungkin ada hal penting yang dia akan selesaikan." Itu yang ada di pikiran gue tapi nyatanya gue salah.
"Loh malah pergi menjauh dari gue dan melanjutkan hidup di Jepang bersama dengan Justin dan loh pikir karena Justin menuruti keinginan loh dia akan tulus sama loh?" Nggak Shel, kumohon sadarkan dirimu dan coba putar masa lalu yang membuat loh belajar dari masa lalu.
"Loh nggak perlu tahu darimana gue mengetahui semua hal ini karena gue punya mata-mata dimanapun jadi kalau menurut loh Justin sudah licik dari gue, masih ada banyak hal yang gue ketahui diluar nalar manusia jadi jangan macam-macam."
"Loh milik gue, nggak ada yang bisa mengambil loh dari gue kecuali gue yang melepaskannya dan membiarkannya."
Tatapan Anju sangat penuh makna sulit dijelaskan tetapi meskipun Anju sedikit cuek dari Justin tetapi Anju sangat bertanggung jawab.
"Besok kita akan kembali bertunangan." Ucap Anju dengan sangat enteng tanpa menanyakan pendapat dari Sheyla.
"Terserah loh mau komplain atau nggak vuakn urusan gue, tapi yang jelas besok kita harus tunangan." Anju meneguk segelas air putih dan meninggalkan Sheyla dan juga mamanya di dalam kamar.
"Gue tidak mengerti sama sekali bagaimana cara berpikir dia yang sebenarnya." Ucap Sheyla sambil membuka hp nya.
"Gue mau loh sekarang juga datang ke Jepang kalau tidak gue akan melakukan hal yang sulit loh terima di hidup loh."
Sebuah pesan wa masuk dari Justin tetapi kalimatnya sangat aneh dan sama sekali sulit dimengerti.
Tetapi tanpa sepengetahuan Sheyla semenjak Anju melamar Sheyla untuk menikah dengannya Anju sudah terlebih dahulu menyadap hp Sheyla, jadi seluruh pesan yang masuk sudah jelas terbaca.
"Apa? nggak, gue nggak bisa pulang ke Jepang apalagi saat ini Mamanya Anju sedang sakit parah." Sheyla mencoba memberikan penjelasan kepada Justin supaya dirinya mengerti.
"Dasar, manusia polos kenapa sangat mudah dibohongi." Ucap Anju sambil senyum-senyum melihat gaya chat Sheyla dan juga Justin.
"Beraninya sebiji nyamuk mendekati bunga yang madunya sangat manis." Anju tidak bisa melihat jika Sheyla selalu dikejar oleh Justin tetapi sebenarnya Justin hanya memanfaatkan Sheyla saja.
Tok...tok...tok...
Suara pintu yang terdengar di ketuk, Anju langsung menarik selimutnya berpura-pura sudah tidur padahal Anju sama sekali belum memiliki niat untuk tidur.
"Wah, ciptaan Tuhan yang satu ini sungguh mulia meskipun hatinya sedikit menyebalkan." Ucap Sheyla sambil kembali menyelimutinya.