Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Menyusun Rencana


"Gue bingung bagaimana cara mengetahui siapa dalang di balik kasus ini dan mengapa dia sangat berkuasa bahkan saat membunuh pun jejaknya tidak ketahuan." Ucap Riki lagi dengan rasa penuh amarah.


"Eits, tunggu dulu gue baru ingat tadi loh bilang ekspresi Maya berubah drastis saat loh dekat dengan Sheyla?" tanya Riki lagi mencoba menjadi detektif.


"Gue rasa begitu kenapa emang?'' tanya Justin lagi.


"Gue pikir-pikir gimana kalau loh coba dekatin Maya dan kita lihat reaksinya apakah terjadi sesuatu atau nggak." Ucap Riki percaya diri.


"Gila apa gimana?" Ucap Justin mulai marah dengan ide konyol Riki.


"Gue tahu jalan pikiran loh tapi ini juga ada niat baiknya." Kalau misalkan loh dekatin Maya tidak terjadi apapun bisa jadi Maya ada hubungannya dengan kasus pembunuhan tersebut." Ucap Riki lagi mencoba meyakinkan Justin.


"Gue mulai yakin kalau pelakunya bukan orang sembarangan dan gue yakin bukan Maya pelakunya dan sama sekali tidak ada hubungannya." Perjelas Justin lagi mencoba untuk tidak menuduh siapa pun.


Di rumah Sheyla...


"Gue takut jika pembunuh tersebut masih berkeliaran di sekitar rumah dan mengincar gue."


Karena penuh rasa takut Sheyla menelpon Justin supaya datang ke rumahnya.


Selama 15 menit kemudian...


"Gue, sama Riki sudah ada di depan rumah." Ucap Justin sambil menunggu.


Sheyla keluar dan langsung memeluk Justin karena rasa takutnya mulai hilang.


"Gue takut sejak tadi ada bayangan yang menghantui pikiranku takut jika seseorang datang untuk membunuhku." Ucap Sheyla lagi tanpa disadari air matanya ikut mengalir.


"Sudah, yang penting sekarang gue sudah ada di sini jadi nggak ada yang perlu ditakutkan lagi." Ucap Justin langsung memeluk erat Sheyla.


Saat memasuki rumah Sheyla seorang pembantu rumah yang sudah mulai tua berlari menemui Sheyla sambil menangis.


"Nyonya, saya sangat takut ada darah yang bercucuran di dapur dan saya takut jika ada lagi korban yang terbunuh." Ucap pembantu tersebut dan berlutut di hadapan Sheyla.


Melihat tingkah dari pembantu tersebut ada hal yang aneh di pikiran Justin dan juga Riki.


"Mari kita lihat dimana darah tersebut bercucuran." Ucap Justin dan menyuruh pembantu tersebut menunjukkannya.


"Nyonya Sheyla yang terhormat kau adalah pewaris harta Armadja dan sekarang beliau sudah meninggal apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya pembantu tersebut sambil menunjukkan wajah yang murung dan sesekali tertawa.


Sheyla hanya diam tidak berbicara sepatah katapun.


"Aku sudah lama menantikan kehancuran keluarga Armadja dan akhirnya yang kutunggu-tunggu sekarang sudah terjadi." Ucap pembantu tersebut.


Pembantu tersebut kembali tertawa dan beberapa menit kemudian langsung pingsan.


Dengan cepat Riki langsung menelpon ambulans ke rumah Sheyla.


Di rumah sakit...


Selama proses penanganan pasien tersebut Sheyla, Riki, dan Justin hanya terdiam dan sedang berpikir sebenarnya apa yang sedang terjadi.


Dokter keluar dari ruangan penanganan pasien, Sheyla langsung bergegas berlari menghampiri dokter tersebut dengan rasa khawatir.


"Dok, sebenarnya apa yang terjadi kepadanya?" tanya Sheyla dengan suara gugup karena menangis.


"Menurut hasil yang kami dapatkan pasien terlalu banyak mengonsumsi obat-obatan terlarang dan mengakibatkan operdosis dan mengganggu otaknya." Jawab dokter tersebut.


"Tapi minuman seperti apa dan sejak kapan mengonsumsi obat terlarang?" tanya Sheyla lagi mencoba mengetahui lebih banyak.


"Mungkin awalnya obat tersebut digunakan korban hanya untuk penenang saja tapi semakin lama membuatnya menjadi candu dan menurut perkiraan kami pasien menggunakannya kurang lebih satu tahun." Perjelas dokter tersebut dengan sangat lihai.


"Dan korban juga sudah tidak bisa kami selamatkan karena sudah terlambat penanganan." Jawab dokter lagi dan langsung meninggalkan mereka bertiga.


"Gue semakin lama semakin bingung sebenarnya apa yang terjadi dan apa yang diinginkan penjahat tersebut." Ucap Riki lagi merasa sangat emosi dengan kebebasan pembunuhan tersebut yang bersikap semena-mena terhadap orang lain hanya untuk kepentingannya sendiri.


"Kita harus melaporkannya kepada polisi jika tidak maka pelakunya akan semakin merajalela melanjutkan aksinya." Ucap Riki lagi.


"Tidak boleh gegabah sepertinya dia memiliki pangkat yang tinggi dan memiliki mata-mata." Ucap Justin mencegah Riki yang terlalu ceplas-ceplos.


"Kita harus menyelidikinya terlebih dahulu baru kita memutuskan untuk melanjutkan langkah seperti apa yang harus kita lakukan." Ucap Justin sambil menghapus air mata Sheyla.