I WANT LOVE

I WANT LOVE
KEKHAWATIRAN ARDAN


Ardan dibuat seperti kesetanan saat mendengar dari Vivian jika adiknya, Anna tersangkut masalah kekanakan Anggita. Heriska coba menenangkan, dan membuat Ardan menahan diri untuk tidak langsung menghampiri Anggita ke rumahnya dan memakinya.


“Bagaimana kamu mengundang mantan Tomy yang gila itu? ” tanya Ardan melontarkan protes.


“Maaf, sayang. Aku lupa mengantisipasi daftar tamu undangan, yang menyiapkannya pun sekertaris ayahku jadi aku tidak tahu. Tapi maaf aku telah lalai, ” sesal Heriska.


“Tidak, maaf aku kasar padamu. Tapi aku ijin untuk pulang lebih awal, aku takut adikku dalam kondisi tak baik-baik saja. ”


Heriska menyetujuianya, membiarkan Ardan meninggalkan pesta setengah jalan itu.


Ardan masuk ke mobilnya yang sudah disiapkan sebelumnya oleh orang-orangnya, lalu menyuruh pengemudi mobil yang menyupir untuk cepat pergi dan pulang ke rumah.


Sesampainya dirumah, Ardan mencari-cari keberadaan Anna. Ghena yang tak sengaja melihat tingkah Ardan yang panik sambil mengelilingi setiap ujung rumah tersebut dibuat bingung, tapi tak ambil pikir panjang.


Ardan mencoba menelepon Anna namun tak diangkat, membuat pemuda tersebut frustasi. Ia mengajak Anna ke pesta dengan tujuan agar Anna mendapat suasana baru yang menyenangkan, namun hal itu tak sesuai ekspektasinya.


Sepuluh menit kemudian ditengah-tengah kepanikannya, samar-samar Ardan mendengar deru mesin mobil di luar sana, membuatnya melangkah mendekat ke pintu. Sebelum ia membukanya, sudah ada yang membuka dari luar. Dan itu Anna.


“Darimana saja kamu? Aku khawatir tahu! ” sambar Ardan dengan intonasi tinggi.


“Pesta, kakak saja yang meninggalkanku! ” balas Anna ikut memprotes.


Ardan mengerutkan keningnya bingung.


“Kamu yang pergi dari pesta tanpa pamit! ”


“Aku ditaman luar gedung, menunggu hingga pesta selesai. Kukira Kakak disana hingga acara selesai, tapi saat melihat mobilmu keluar halaman gedung membuatku terpaksa naik taksi sendirian, ” jelas Anna.


“Astaga Anna, maaf. Kukira kamu pulang duluan, karena itu aku ingin cepat pulang. Apa Anggita melukaimu? ” tanya Ardan terlihat cemas.


Anna terdiam sejenak.


“Anggita? ” tanyanya memastikan.


“Mantan gilanya Tomy, ” balas Ardan memperjelas.


“Dia yang melabrakmu tadi, bukan? Tenang saja, akan kuberi pelajaran dia. Berani-beraninya menyakiti anggota keluarga Swayn, ” ucapnya geram.


“Kak, ” panggil Anna tak mempedulikan kegeraman yang dilihatkan kakaknya itu. “Apa Anggita pernah tinggal di Kota Samarinda?”


Ardan jelas terkejut mendengar pertanyaan tiba-tiba itu, tapi pemuda itu pun menganggukan kepalanya tanda membenarkan walau ia merasa bingung. Anna tersenyum tipis, lalu melangkah tanpa pamit dan menaiki tangga tanpa peduli pada Ardan yang dibuat bingung.


‘Anggita... Ternyata kamu tidak berubah... ’ batin Anna sembari berjalan pada anak tangga.


‘Apa reaksinya jika tahu siapa aku sebenarnya? ’


Anna benar-benar terusik pada sosok Anggita yang ditemuinya beberapa waktu lalu. Jika saja Anggita adalah wanita yang sama saat di Kota Samarinda dulu, apa yang akan dilakukannya saat mengetahui keberadaan Anna di Jakarta?


Anna memasuki kamarnya, berdiri tepat diambang pintu. Mengedarkan pandangannya kesegala penjuru ruangan bernuansa putih keemasan itu.


“Anna, apa kamu sudah makan? ” sebuah suara di luar sana terdengar, itu Ardan.


“Jika belum akan kusuruh seorang pelayan membawakannya untukmu, ” lanjut Ardan berkata.


Anna membuka pintunya, perlahan terbuka lebar dan ia dapat melihat Ardan yang berdiri tepat di hadapannya memasang senyum tipis. Tapi senyum pemuda itu sirna saat mendapati wajah sang adik, Anna terlihat sendu.


“Aku ingin bertanya sekali lagi padamu, Kak. ”


Suara wanita itu sngat pelan dan lirih, seperti tak ada tenaga dalam dirinya.


“Apa? ” sambut Ardan.


“Apa Anna adikmu adalah gadis yang tegar? ” lirih Anna.


“Apa lagi sekarang? ” tanya pemuda itu.


“Aku hanya penasaran, apa adikmu adalah sosok yang tegar dan kuat? Apa dia pernah membuat kesalahan hingga terpuruk dan selalu manja denganmu? Atau dia adalah gadis yang baik hati dan selalu bahagia? ” tanya Anna bertubi mencurahkan isi pertanyaan di dalam pikirannya.


“Anna... ” Ardan menghela napasnya sekali lagi.


“Kuantarkan susu untukmu, dan segeralah tidur. Atau ingin makan dulu?” tanya Ardan.


Anna berdecak lemah dengan sebal.


“Jawab pertanyaanku! ” nada bicaranya kembali pada intonasi awal, walau masih terdengar pelan.


“Apa? ”


“Kak... ”


“Tidak perlu memikirkan apa pun, apa lagi tentang kesalahan atau apalah itu, ” kata Ardan dan segera melangkah meninggalkan Anna yang masih setia berdiri di muka pintu kamarnya.


“Apa kamu tidak penasaran apa yang kurasakan? ” tanya Anna cepat yang berhasil membuat langkah Ardan segera tertahan ditempatnya.


“Setiap orang merasakannya, adikku. Penyesalan, memang selalu datang di akhir. ”


Anna tertembak tepat, merasakan jantungnya terluka parah karena bocor saat mendengar ucapan frontal kakaknya tersebut.


Ardan kembali berbalik badan dan menatap adiknya, Anna yang membeku ditempatnya berdiri.


“Memang hanya kamu yang terluka disini? ”


Anna menggigit bibir bawahnya, tak menjawab pertanyaan Ardan, ia tak sanggup membalas pertanyaan itu.


“Aku mencoba untuk menerima dan melupakan semuanya, dan itu untukmu. Untuk Mommy, Daddy dan Grandma. Bahkan Kak Ghena, ” lanjut Ardan.


“Anna, jika kamu terus-menerus terpuruk seperti ini. Apa yang bisa kulakukan untukmu? Beberapa kali kucoba untuk membuatmu tersenyum dan merasa bebas terlepas dari rasa menyebalkan itu! Tidak ada, tetap tidak bisa. Selain kamu sendiri yang mencoba berubah dan melupakan segala hal-hal yang menyangkut tentang pe-nye-sal-lan! ” ucap Ardan menekankan satu kata diakhir kalimatnya.


Anna tersenyum mendengar itu, satu yang ia tangkap dafi nada bicara dan tatapan pemuda di hadapannya kini.


“Kakak sudah capek, ya? ”


Ardan dibuat tertegun dengan pertanyaan itu.


“Kakak sudah capek untuk berpura-pura terlihat baik-baik saja? Kakak sudah capek berpura-pura seolah Anna adikmu adalah Anna lima tahun yang lalu? Kakak sudah capek, kan? ” tuntut Anna dengan mata memerah menahan bulir air di balik pelupuk mata indahnya.


Anna pun menangis dalam diam, tak tahan lagi. Menyisahkan Ardan yang dibuat frustasi oleh adik bungsunya itu.


Dan pada akhirnya, Ardan mengakui.


“Hm, capek banget. ”


Anna menatap Ardan, isakan wanita itu tak berhenti. Memperhatikan sng Kakak yang dimana pemuda itu ikut menatapnya dengan mata sendu.


“Jadi, bisakah kita melupakannya Anna? Adikku. ”


“Aku khawatir... ”


Hati Anna seketika menghangat mendengarnya.


“Aku tahu kamu selalu dihantui rasa bersalah dan penyesalan, tapi bagaimana pun pilihanmu sejak awal adalah hal yang tidak bisa lagi diganggu gugat atau diubah. Jadi, bisakah kita berlakon selayaknya tak terjadi apa-apa? ”


Ardan merasa sangat munafik. Ia terus-menerus menyemangati Anna, padahal diri sendiri tak kalah frustasi. Ia pun merasa seperti kakak yang tidak berguna dan pecundang, dengan sikapnya seperti ini pasti akan membuat adiknya sedih.