
Ardan dan Anna masuk tanpa gangguan, keduanya jalan beriringan memasuki gedung dimana sebuah pesta meriah berlangsung. Anna merasa risih saat semua mata terarah padanya, Ardan yang menyadari itu pun berbisik pada adiknya.
“Salah sendiri kamu terlihat cantik malam ini. ”
Anna menatap Ardan datar, jelas sekali bukan itu alasannya. Apalagi para wanita disini menatapnya dengan pandangan tajam seperti ingin menerkam, Anna hanya bisa menunduk. Bukannya takut, tapi ia tidak ingin menjadi pusat perhatian.
Jelas sekali karena Ardanlah ia diperhatikan. Ardan bukanlah sosok asing bagi kebanyakan orang, pengusaha muda dari keluarga Swayn yang menjabat sebagai wakil direktur itu memiliki pengaruh yang tidak main-main. Dan sekarang? Kini pemuda tampan nan mapan itu berjalan dengan seirama bersama seorang wanita asing, yaitu Anna.
“Mari ku kenalkan pada wanita-wanitaku. ”
Bersikap selayaknya bodoh, Ardan menggenggam tangan Anna sambil terus berjalan. Tidak memperdulikan setiap pasng mata terarah padanya.
Anna hanya bisa mendengus mendengarnya, ia tidak peduli yang dikatakan Ardan selain mengikuti pemuda itu menghampiri teman-temannya.
“Good job, Man! Dapat tangkapan lagi nih kayaknya, ” seru seseorang yang tiba-tiba saja menghampiri Ardan.
“Sembarangan! Adek Gue ini! ” sahut Ardan. Terpaksa menghentikan langkahnya membalas sapaan Tomy.
“Oh? Adek Lo yang di Prancis itu? ” kaget Tomy, lalu beralih menatap Anna dengan senyuman khasnya yang selalu mematikan bagi para wanita.
“Hey, cantik. Kenalkan aku Tomy, sahabat kakakmu. ” Tomy mengulurkan tangannya, dan Anna menyambutnya dengan singkat.
“Anna. ”
Tomy sempat tersinggung saat Anna mengucapkan namanya tanpa menatap wajah tampannya, tapi karena Anna adalah adik sahabatnya membuat Tomy tidak mempermasalahkannya lebih jauh.
“Gue mau mengenalkan dia pada Heriska, apa Lo lihat dia dimana? ” tanya Ardan pada Tomy.
“Diakan primadona malam ini, acara belum dibuka pastinya masih sembunyi di ruangan rias. Tapi Gue lihat teman-temannya kumpul di meja ujung sana. ”
Ardan menoleh pada Anna. “Kamu pasti senang bisa dapat kenalan baru, kesana yuk? ”
Anna sebenarnya tak minat mengenal kenalan Ardan ataupun wanita bernama Heriska ini, tapi menurut saja apa yang dikata Ardan.
Anna berjalan di sisi Ardan dan Tomy, ketiganya sekilas menjadi pusat perhatian karena sesosok Ardan yang dikenal luas sebagai wakil direktur muda tentu saja sangat disegani dan di idolakan dengan Tomy sahabatnya yang tak kalah populer, ditambah Anna yang dianggap sebagai wanita misterius pasti mengundang rasa penasaran.
“Hey girls! ” sapa Tomy setelah dekat pada meja yang diisi oeh tiga orang wanita.
“Hey, Tom. Ardan, ” balas salah satunya.
Ketiga wanita tersebut memandang Anna dengan penuh selidik, tentunya itu membuat Anna tak nyaman.
Ardan buru-buru memperkenalkan Anna sebagai adiknya yang baru pulang dari Prancis, seketika itu juga ketiga wanita tersebut mengubah ekspresi wajah sebelumnya yang menindas diganti keramahan.
“Kira Lo ada gandengan baru, Ar! ” celetuk Vivian.
“Dilihat juga, mana mau cewek kayak Anna yang kalem mau sama Ardan. Anna duduk sini, ” kata Caitlin sambil menepuk sebelah kursinya.
Anna menurut saja tanpa berkata apa pun.
“Anna, ” panggil Ardan. “Aku tinggal sebentar, ya? Ngobrol bareng mereka dulu, nggak papa kan? ”
Anna mengangguk saja.
Tomy menatap sahabatnya bingung. “Mau kemana lo? ” tanyanya.
“Yaelah, Tom. Masih nanya, ya nyamper pujaan hatinya lah... ” sahut Destina.
Ardan hanya tersenyum kecil sebelum pamit pergi.
“Anna, mau minum nggak? Ku ambilkan, ya. ”
“Eh! ” Anna tak sempat menahan Tomy yang sudah melangkah menjauh.
“Nggak papa kalik, An. Tomy terbiasa dibabuin sama Ardan, jadi mendarah daging gitu, ” ucap Caitlin mengerti ekspresi yang dilihatnya pada Anna.
“Oh, ya kita belum kenalan secara resmi. Gue Destina Juliana Banner. Puteri sulung keluarga Banner, Lo pastinya pernah dengar tentang Gue kan? ” kata wanita itu dengan senyuman lebar.
Anna bingung bereaksi apa sampai pada akhirnya menggeleng jujur, membuat air wajah Destina memburuk.
“Ya, mana tahu lah dia Des! Diakan selama ini di Prancis, nama keluarga Lo nggak sebesar itu sampai orang sekelas Anna tahu tentang Lo di luar sana, ” sahut Caitlin menyindir halus.
Destina hanya dapatenghela napas diam-diam, berusaha tak menyinggung Anna. Walau sekarang ialah yang disinggung, tapi sadar diri.
“Kalo Gue Caitlin Aurora Keylie, ” lanjut Caitlin memperkenalkan diri.
“Gue Vivian Jhonathan Brisse. ”
Anna pun tersenyum tipis merespon. Ia tak perlu memperkenalkan diri lagi setelah Ardan tadi memperkenalkannya.
“Betewe, Lo berapa lama tinggal di Prancis? ” tanya Vivian penasaran sekaligus membuka topik baru pembicaraan.
“Lima tahun, ” jawab Anna seadanya.
Ketiga wanita itu mengangguk mengerti. Caitlin bertanya lagi, “katanya Lo anak bungsu sekaligus direktur muda di Prancis, bener itu? ”
Anna mengangguk membuat ketiga wanita itu berdecak kagum.
“Emang umur Lo sekarang berapa? ” tanya Vivian.
“dua puluh dua. ”
Kembali dengan seruan kagum. Anna merasa risih di saat seperti ini, apalagi ketiga wanita ini mencoba menggali informasi pribadinya.
“Dan kata Ardan lo udah S1, bener itu? Mustahil banget Gue rasa, iya kan girls? ” seru Caitlin pada kedua temannya yang ditanggapi anggukan.
“Masih proses, ” balas Anna yang lagi dan lagi disahut seruan oleh ketiganya.
“Kalau gitu, Lo punya tanggung jawab besar dong di Prancis. Apa Lo akan kembali ke sana lagi? ” tanya Destina.
“Hm, ” respon Anna.
“Kapan? ” tanya Vivian.
“Belum tau. ”
“Emang lo ngerti urusan perusahaan di usia lo yang masih muda? ” tanya Vivian lagi.
“Lumayan, ” jawab Anna.
Sebenarnya ia tidak ingin meladeni sikap ketiga wanita ini yang mencoba akrab dengannya, dilihat dari sifat mereka saja Anna sudah paham dan tak ingin lebih mengenal jauh ketiganya setelah ini.
Ketiga wanita itu sama-sama memiliki sifat sosialisasi tinggi, dan selalu menilai orang dari fisik baik dalam maupun luar. Tidak ada bedanya untuk membandingkan ke satu pada satu sama lain, dan mereka mencoba mengukur sampai mana potensi Anna di keluarga Swayn.
Tidak lama setelah itu Tomy kembali dengan segelas minuman, menaruhnya didepan Anna.
“Silahkan cantik. ”
Tomy memasang senyum terbaiknya, setidaknya Anna masih mau merespon dirinya walau tidak menotis ketampanannya.
“Thanks, ” balas Anna mengambil gelas tersebut berniat meminumnya, sebelum sebuah tangan merampas paksa gelas Anna dan melemparkan air di dalamnya pada wajah Anna.
“Anggi! ” gertak Tomy jelas terkejut dengan aksi tiba-tiba wanita tersebut.
Bukan hanya Tomy, Vivian, Destina, dan Caitlin yang dibuat terkejut. Namun beberapa orang yang berada tak jauh di sana pun sama terkejutnya dan menumbuhkan rasa penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
Anna bangkit dari duduknya saat mendapati perlakuan tersebut, mengusap matanya yang terkena air sirup. Menatap tajam wanita yang juga menatapnya sinis.
BERSAMBUNG...