I WANT LOVE

I WANT LOVE
KERIBUTAN DI KANTOR


Anna membuka matanya yang terasa berat, wanita itu bangkit dari tidurnya dan beranjak ke depan meja rias. Melihat dirinya yang terlihat menyedihkan, dengan mata sembab itu sudah jelas ini adalah hukuman yang bahkan belum setimpal dengan apa yang diperbuatnya lima tahun yang lalu.


“Percuma cantik, tapi hati buruk. ”


Anna tersenyum mendengar perkataannya sendiri. Bodoh sekali, menyadari kesalahan setelah semuanya berlalu begitu cepat. Ia pantas mendapatkan rasa penyesalan itu, seumur hidupnya.


Tok! Tok! Tok!


“Anna, ini Grandma. ”


Mendengar suara rendah itu membuat Anna segera bergegas dan membukakan pintu untuk Grandma.


* * *


Anna menemani Grandma yang sedang berjemur dibawah matahari pagi di halaman belakang, sambil menuangkan teh herbal untuk Grandma.


Grandma meminta Anna untuk menghabiskan waktu berdua beberapa menit kedepan.


“Grandma selalu memgidamkan momen ini, cucuku. Tapi harus menunggu lima tahun lamanya. ”


“Maaf, Grandma. Disana Anna bekerja dengan keras agar tak mengecewakan keluarga. ”


Sebenarnya, Anna selalu menghindari pulang ke Indonesia walaupun ia ingin. Pekerjaan, hanya alasan semata. Di Prancis, Anna tidak terlalu banyak bekerja, yang memegang kuasa sepenuhnya adalah kedua orangtuanya yang menetap disana.


Keluarga Swayn adalah keluarga dari keturunan Prancis, karena suami Grandma seorang warga negara Prancis membuat keluarga Swayn mendirikan perusahaan cabang disana. Namun, delapan tahun sudah Grandpa meninggalkan mereka. Dimana, Anna tak pernah bertemu oleh kakaknya itu. Kedua orangtuanya memilih menetap disana, keluarga Grandpa di Prancis pun mengulurkan bantuan agar perusahaan semakin berkembang hingga pada titik ini.


“Harusnya gadis sepertimu hanya fokus pada pendidikan dan menikmati masa remaja, bukan sepenuhnya bertanggung jawab pada perusahaan. ” Grandma menghela napas merasa khawatir.


Anna tersenyum simpul. “Aku suka homeschooling yang dibawa oleh Mrs. Cyrille tak ada bedanya dengan pendidikan tinggi, dan itu sudah membawaku pada sarjana S1.”


“Tetap saja, Anna... ”


“Grandma, percaya padaku. ”


Grandma menghela napas kemudian mengangguk.


“Anna, ternyata kamu disini.”


Anna dan Grandma menoleh pada Ardan yang menghampiri mereka.


“Kucari kamu dikamar tadi, dan tidak ada yang


menjawab. ”


“Jika ada, itu pasti bukan aku. ”


Ardan bergidik ngeri membayangkan ucapan Anna barusan.


“Belum berangkat kamu? ” tanya Grandma cukup terkejut mendapati Ardan belum ke perusahaan di jam segini.


“Ardan ingin mengajak Anna ke perusahaan kita di Indonesia, ” ungkap Ardan tanpa basa-basi.


Anna mengernyit heran.


“Untuk? ” tanyanya.


* * *


Setelah ajakkan Ardan, Anna memutuskan untuk menyusul nanti. Kini wanita itu tengah mengompres kantung matanya dengan es batu menghabiskan dua puluh menit lamanya.


Wanita itu pun bersiap-siap mengenakan pakaian yang rapi. Pukul sepuluh lewat beberapa menit, Anna pun bergegas ke kantor perusahaan Swayn Corp.


Anna sudah memwsan taksi online yang kini tengah menunggunya di depan rumah.


Anna turun dari taksi, segera melangkah memasuki gedung besar tersebut dengan sisi anggun dan tegas. Siapa saja yang melihatnyaa pasti akan mengira wanita cantik itu adalah direktur atau sekertaris dengan wawasan luas.


Anna menaiki lift ingin ke ruangan Ardan, setelah keluar dari lift ia dapat melihat keributan di depan ruangan wakil direktur di perusahaan ini.


“Hei! Saya kekasih dari Tomy! Atasan kalian! Mohon jangan mempersulit jalanku! ”


Anna mengenali gadis pembuat onar tersebut. Anggita, yang terlihat memaksa ingin memasuki ruangan. Anna menghentikan langkahnya, memperhatikan dari kejauhan.


“Maaf, Bu. Tapi Tuan Tomy sedang berdiskusi penting dengan Tuan Ardan, tolong beri Wakil Presdir kami muka. ”


Seorang wanita yang Anna tebak sebagai sekertaris Ardan, memasang wajah kesal pada Anggita yang keras kepala.


“Sepenting apa? Aku, Anggita! Kekasih hatinya! Lebih penting daripada Ardan yang hanya sahabatnya! Minggir! ” ucap Anggita lantang, masih dengan keras kepalanya.


“Kami masih berbaik hati berbincang dengan Anda, Bu. Kalau Anda masih keras kepala, kami tidak akan segan menyuruh sekuriti menyeret Anda paksa. ”


Dan seorang pria berkemeja putih pun ikut menghadang Anggita dengan wajah tak kalah kesal.


“Kalian harus tahu! Tomy sangat mencintai saja! Kami pernah bercumbu mesra! Kalian harus tahu itu! Dia cinta mati dengan saya! Jadi jangan halangi saya! ” teriak Anggita hampir frustasi.


Anna atau bahkan orang-orang disana dibuat tak percaya. Wanita itu mengaku dengan sendirinya jika ia adalah wanita yang diperbudak oleh cinta dan tanpa tahu apa itu rasa malu.


Anna yang merasa sebagai perempuan saja cukup jijik pada kelakuan Anggita yang dinilainya sebagai wanita murahan. Apa saja yang akan diberikan Anggita untuk kekasihnya, dan itu adalah cinta yang bodoh.


“Maaf, Nona. Kami memang tidak tahu dan tidak ingin tahu! Sekarang pergi dan jangan datang kesini lagi! ” tegas sekertaris wanita itu.


“Kalian benar-benar tak tahu diri, ya! Ardan dan Tomy mengenal saya! Saya kekasihnya Tomy, harus berapa kali saya mengatakannya? Dan Ardan, dia teman dari kekasih saya! Jadi jangan halangi jalan saya jika kalian masih ingin bekerja disini! ”


“Tuan Ardan adalah wakil direktur di perusahaan ini, dan anda adalah orang asing. Beraninya mengancam karyawan tanpa wewenang? ”


Sebuah suara membuat Anggita menoleh ke belakang, didapatinya seorang wanita cantik mendekat dengan tatapan dingin. Wajah wanita itu terasa familiar bagi Anggita.


“Lo—” Anggita mengingatnya. “Apa urusan lo disini? Dasar tak tahu diri! Sudah merusak hubungan orang, berani mendatangi kantor Ardan? Dasar wanita ular! ” ucap Anggita diakhiri umpatan.


“Hm? Aku? ” Anna tertawa kecil, terkesan memaksa. Kembali menatap Anggita dingin. “Sayangnya, wanita ular ini punya wewenang untuk mengusirmu. ”


Sebelum Anggita mencerna, dua orang berbadan kekar dengan setelan jas hitam mendekatinya dan menariknya paksa.


“Apa yang kalian lakukan!? ” teriak Anggita histeris. Mencoba berontak dan meminta tangannya dilepaskan.


“Anda telah membuat Nona Muda kami tidak nyaman atas kehadiran Anda, tugas kami hanyalah mengantar Anda ke luar dengan cara yang kasar. ”


“Apa? Hey! Lepas! Kalian bosan hidup, eh? Aku Anggita! ” teriak wanita itu masih berusaha berontak.


Para karyawan yang ikut disana pun memperhatikan Anggita dengan berbagai macam tatapan, ada yang iba, ikut kesal dan jengkel.


“Kalian akan bersujud dikakiku memohon ampunan nanti saat Tomy memberi kalian pelajaran karena sudah menodai kulit Anggita kekasihnya! ” wanita itu tak menyerah untuk berteriak. Walau tenaganya tak cukup kuat untuk melepaskan cengkraman-cengkraman itu pada dirinya.


“Akan kubuat kalian menyesal karena telah memperlakukanku seperti ini! Hei! Para pria gila! ”


“Wanita ular! Akan Gue balas Lo nanti! Tunggu aja! ”


Anggita telah terseret jauh dari ruangan kantor Ardan. Anna menatap kedua orang yang ikut menyaksikan kejadian barusan. Tak memperdulikan karyawan yang lain menatapnya penuh rasa penasaran.