
“Jika berani sebutkan nama lengkap Lo! ” gertak Jane menatap tajam Anna yang tengah tersenyum tipis padanya.
“Aku tak yakin namaku bisa membuatmu terdiam. Aku hanya ingin memberi saran, tanda diriku peduli dengan sesama. Apa Anda bosan hidup membicarakan keluarga lain terlepas dari siapa yang mendengar pembicaraanmu? Anggota keluarga Aldrich misalnya? Dengar, Jane. Keluargamu tak sepengaruh itu, ” Anna kembali pada sikap tenangnya.
Jane menyadari perkataan Anna adalah benar, ia terlalu dimakan kebencian dan berbicara asal tanpa sadar tempat. Jika seperti itu, pasti banyak telinga yang terpasang. Diam-diam Jane panik dan melirik ke segala arah, entah apa yang ia cari.
“Keluargamu kini diambang kehancuran, seharusnya jaga sikap dan berusaha memperbaiki apa yang keluargamu perbuat. Bukan bergosip ria menebar kebencian, ” lanjut Anna.
“Kenapa Anda segitu membela keluarga Aldrich? ”
Anna menoleh pada suara yang baru saja terdengar itu. Bukan hanya Anna, namun ketiga wanita tersebut pun menoleh pada seorang pemuda tampan yang ikut berada dimeja sana. Pemuda tersebut ditemani oleh seorang pria setengah baya disampingnya.
Anna mengerutkan kening, sebelum menjawab dengan santai. “Tidak juga, aku hanya risih mendengarkan orang-orang tak tahu diri sedang berbicara. ”
Pemuda tersebut menatap Anna dingin, dan anehnya Anna terpengaruh oleh tatapan itu. Untuk pertama kali, Anna merasa takut menatap mata orang lain.
“Apa Anda merasa kasihan pada putera Aldrich yang cacat itu? ”
Anna menaikkan satu alisnya, tersenyum tipis menyembunyikan rasa gugupnya yang datang secara aneh.
“Untuk apa aku mengasihani orang lain? ” balas Anna. Gadis tersebut menyandarkan punggungnya ke belakang, lalu menghela napas. “Aku tipe orang yang tidak suka bicara panjang lebar atau berbasa-basi sebenarnya, dan aku tidak suka mendengar rumor murahan yang mengganggu.”
“Apa aku harus menjelaskan padamu secara detail kenapa aku membela keluarga Aldrich? Nope. Singkatnya, keluarga Aldrich atau bukan, aku tak suka dengan orang-orang yang lupa daratan, ” lanjut Anna.
Setelah berkata demikian, Anna beranjak dari kursinya dan melangkahkan kaki keluar dari gedung tersebut. Moodnya sedang tak bagus karena pembicaraan yang menyebalkan di meja tadi.
Anna tak keluar terlalu jauh pada gedung tadi, ia mendekati sebuah taman yang tersedia bangku panjang berbahan dasar kayu menghadap ke kolam air mancur.
Anna mengambil duduk disana, menyandarkan punggungnya dan mendangakan wajah menatap langit hitam diatas sana.
“Bintang saja tidak ingin dilihat olehku, ” gumam Anna pelan.
Sepi, itu yang ia rasa.
Tidak lama kemudian Anna merasakan seseorang ikut duduk disebelah kirinya, gadis tersebut menoleh dan cukup terkejut dibuatnya.
“Sedang apa kamu disini? ” tanya Anna tak menyembunyikan keterkejutannya.
“Aku adalah tipe orang yang tak suka bicara panjang lebar. Singkatnya, aku tak suka pada pesta dan keramaian. ”
Anna memandang pemuda tersebut dengan ekspresi tak terbaca, lalu kembali mengalihkan pandangan ke atas. Ia kembali merasakan perasaan aneh yang tiba-tiba saja muncul saat menatap mata pemuda itu tadi.
Keheningan merajarela. Sebenarnya Anna gugup dengan situasi ini, ingin pergi tapi takut bergerak entah kenapa. Tetap tinggal, tapi untuk apa?
“Apa kamu juga dipaksa datang? ”
Anna terkejut dengan pertanyaan mendadak itu.
“Tidak juga, ” jawab Anna.
“Apa kamu dipaksa? ” tanya Anna balik.
“Hm. ”
Kembali dengan keheningan.
Anna meremat jari-jemarinya yang terasa dingin, ia juga heran kenapa karena hal ini tak pernah terjadi padanya. Anna selalu bersikap dingin dan tidak peduli, tapi kenapa malam ini terlihat berbeda saat berada di dekat pemuda asing itu?
“Sepi, ” gumam Anna.
“Bukankah menyenangkan? ”
Anna menoleh, tersentak saat pemuda itu juga menoleh ke arahnya. Dengan segera Anna memalingkan wajah kedepan, menyembunyikan sikap gugupnya yang tak berdasar.
“Dari pandanganku, kamu juga tak suka keramaian. ”
“Hm, ” respon Anna.
Kembali dengan keheningan diantara mereka. Biasanya Anna selalu tenang dan suka pada suasana hening seperti ini, tapi kali ini beda. Ada seseorang disampingnya.
“Orang-orang yang diundang oleh Heriska bukan orang sembarangan, bagaimana kita perkenalkan diri masing-masing tanpa menyebut marga? ” kata pemuda disampingnya kembali bersuara.
“Anna, ” ucap gadis tersebut setuju.
“Ray. ”
Anna mengangguk saja sebagai respon, tak tahu ingin berkata apa untuk melepas rasa canggung ini.
Terdengar helaan napas pemuda disebelahnya.
“Sebenarnya nama panggilanku bukan Ray, tapi itu lebih singkat dan mudah diingat. ”
“Memang nama panggilanmu sepanjang apa? Sampai tak mudah diingat? ” heran Anna memandang Ray dengan kening mengernyit.
Ray tertawa kecil.
“Tidak seperti itu juga, Anna. ”
Anna merasa tatapan pemuda itu tak setajam tadi saat di dalam sana. Dan itu membuatnya merasa lebih baik.
“Kenapa kamu tidak suka keramaian? ” Anna mencoba memberanikan diri bertanya.
Ray tak menjawab langsung, pemuda itu berpikir cukup lama.
“Ntah, mungkin karena bawaan? ” jawab pemuda itu dengan nada ragu. “Keramaian, itu bukan gayaku. Duduk dan tenang seperti ini jelas sangat menyenangkan dibanding bermain ke luar sana, kenyamananku saat sendiri tanpa ada yang ganggu. Mencoba berpikir apa yang kulakukan kedepannya? Apa yang kulakukan saat ini benar atau tidak? ” lanjut Ray tanpa sadar mencurahkan isi hatinya.
Anna melebarkan mata mendengarnya.
Itu... Alasan yang sama dengannya. Anna pun merasakan itu, ketenangan adalah hal yang lebih baik untuk berpikir apakah saat ini yang ia lakukan sudah benar atau salah?
“Apa kadang kamu berpikir, apa yang kita lakukan selalu saja salah? ” tanya Anna lagi, ia benar-benar frustasi dengan hidupnya selama ini.
“Kita manusia, jika merasa tak puas atau bahkan kecewa adalah hal wajar. Sama dengan kesalahan, kita punya perasaan yang hanya kita yang merasakan. Daripada memikirkan kesalahan, mending mencoba memperbaiki? ” kata Ray, ada sedikit keraguan di nada bicaranya.
Anna meneguk ludahnya dengan hati bergetar.
“Jika kesalahan itu tidak bisa diperbaiki, bagaimana? ”
Ray mengernyit mendengarnya.
“Apa kita biarkan membekas? ” lanjut Anna masih dengan tanda tanya.
Ray menggaruk belakang tengkuknya, bingung ingin merespon apa.
“Aku tidak tahu, aku tidak pernah merasa bersalah hingga sefatal apa yang kamu rasa itu. Tapi menurutku, apa pun perasaan kamu itu kamu sendiri yang memahami dan kamu sendiri yang tahu jawabannya. Biarkan membekas, atau mencoba untuk menghilangkan? ”
Anna mengangguk. Diam-diam ia tertawa kepada diri sendiri dengan kebodohannya itu. Mahu bagaimana pun mencari jawabannya, tetap saja tertuju pada kata penyesalan. Tidak ada jawaban yang berhasil memuaskannya.
“Kamu tahu, Ray? Banyak orang berkata, ternyata tanah liat lebih indah dibanding batu permata. ”
Lagi dan lagi, Ray dibuat bingung oleh ucapan wanita itu.
BERSAMBUNG