
“Jadi karna dia kamu putisin hubungan kita? ”
Anggita Evyna Abram, sesosok wanita yang dipandang anggun berkelas itu kini menunjukkan sisi emosionalnya di depan banyak orang.
“Anggi, lo keterlaluan kali ini! ” kata Tomy tegas, seketika sisi ceria dan senyum manisnya menghilang entah kemana.
“Aku? Yang keterlaluan? Jelas-jelas kamu yang bermasalah! Karna cewek ini kamu putisin aku? ” Anggita menatap Anna dengan pandangan rendah.
“Selera kamu turun drastis, ya... ”
“Tutup mulut lo, ” ucap Anna pelan dengan tatapan dinginnya.
Anggita semakin dibuat kesal. Wanita di depannya benar-benar membuatnya hilang kata, masa dia dikalahkan dari wanita pas-pasan itu di mata Tomy?
“Heh lo tuh yang harusnya tutup mulut! Udah ngerebut pacar orang, nunjukin muka nggak tau malu! Harga diri keluarga lo rendahan ya, ” ejeknya dengan suara tinggi, membuat para tamu dapat mendengarnya jelas.
Beberapa orang pun berbisik-bisik penasaran dan mengutarakan pendapat bahwa sosok Anna adalah wanita yang buruk.
Anna mengatur napasnya sekilas sebelum maju menghadap wanita itu sepenuhnya, Anggita dibuat mundur beberapa langkah. Aksi Anna menimbulkan kerusuhan bagi yang menyaksikan, penasaran apa yang akam dilakukan selanjutnya.
“Jangan berani-beraninya lo ngehina nama keluarga gue, ” ucap Anna dingin dengan tatapan tajam, membuat Anggita diam-diam meneguk ludah gentar.
Tomy ingin melerai, namun ditahan oleh Destina. Wanita itu berbisik pelan, “nikmati aja dulu adegannya, lagi seru nggak usah ganggu. ”
Tomy ingin mengumpat namun menurut dan menyaksikannya walau dengan perasaan gelisah.
Anggita mendorong tubuh Anna menjauh dari hadapannya.
“Emang benar kok! Siapa pun marga lo! Keluarga itu jelas memiliki etika buruk! Mendidik anaknya yang tidak tahu malu seperti lo! ” bentaknya.
Anna tersenyum sungging, meremehkan.
“Semua orang disini lihat jelas, siapa yang memiliki etika buruk? ”
Suasana yang senyap membuat ucapan pelan Anna dapat di dengar oleh para tamu yang hadir. Konflik yang mendadak dari keduanya jelas mendapat perhatian seluruh tamu yang ada di sana.
“Maksud lo! ” Anggita melotot galak.
Anna menyilangkan kedua tangannya di perut, dengan pandangan dingin dan senyuman sinis menatap wanita itu.
“Lo ngelabrak tanpa mau tau kebenarannya, lo marah-marah kesetanan pun percuma, berkata tentang etika tapi terlihat jelas lo nggak ngerti apa itu etika, sebagai orang terpandang seharusnya lo tau ambil sikap, gue ragu jadinya. Keluarga lo yang nggak becus mendidik, apa lonya yang nggak ngerti di didik? ”
Anggita hampir mengumpat keras dihadapan wajah Anna. Terdengar gumaman-gumaman disekitarnya pada Anggita yang tak menyenangkan, membuat Anggita semakin di makan emosi.
“Masih mending penerus Aldrich yang cacat daripada lo yang nggak tau malu! ”
Semuanya kembali dibuat terkejut atas perkataan Anggita. Anna memandang wanita itu semakin tajam dan penuh kegeraman.
“Apa pantas orang kayak lo membandingkan seseorang? Lo terlalu tinggi kepala untuk itu. Sadar posisi Lo, gue nggak peduli status keluarga Lo sepengaruh apa sampai Lo bersikap nggak punya tata krama. Tapi jangan berani-beraninya membandingkan nama keluarga lain! ”
Anggita tertawa remeh.
“Kenapa? Merasa ya kalo Lo itu nggak sebanding sama Gue? ” ejeknya tersenyum.
“Malah Gue rasa, Lo yang bersikap seolah-olah Lo orang kalangan atas seperti kita. ”
Ucapan Anna berhasil melunturkan sunyum dari wajah Anggita, tergantikan oleh decihan tak suka dan tatapan membenci.
“Bitch! ” desis Anggita.
“Owh! Orang kaya Lo yang ribut karena cowok, berani ngerendahin orang dan menghina nama keluarga lain. Nyali Lo cukup besar, ya. Salut, Gue. ”
Anna masih mempertahankan tatapan dingin dan tajamnya pada wanita itu. Tanpa Anna sadari, Anggita sudah berkeringat dingin dibuatnya.
“Ikut gue! ” Tomy tak ingin tinggal diam lagi saat mendapati kini Anggita sudah menyinggung orang yang salah. Ia menarik Anggita paksa yang meronta, tapi tak ditanggapi oleh Tomy dan segera membawa wanita itu keluar dari gedung ini.
Destina, Vivian dan Caitlin yang dari tadi diam segera mendekati Anna.
“Maaf semuanya, Anna nggak seperti yang kalian dengar dari wanita gila itu kok. Anna tamu spesial Heriska, jadi tolong lupakan yang tadi. ”
Setelah perkataan Caitlin, para tamu yang lain pun kembali pada aktivitasnya seolah tidak terjadi apa-apa berusan. Caitlin, Vivian, dan Destina adalah sahabat terdekat Heriska jadi omongan Caitlin tidak akan diragukan.
“Siapa dia? ” tanya Anna penasaran.
“Wanita gila yang tergila-gila oleh cowok gila, ” sahut Vivian berhasil membuat kerutan di kening Anna.
“Dia mantan pacar Tomy, well mainan Tomy tepatnya. Gue nggak terlalu tahu, tapi wanita yang disebut Anggi sama Tomy itu jelas-jelas tidak terima diputusin oleh Tomy secara sepihak, ” jelas Caitlin.
“Dan Gue denger dia dari keluarga Abram, tidak ada apa-apanya dibanding keluarga Swayn. Jadi sikap Lo yang tadi bukan cuma omong-kosong belaka, dia nggak sekelas sama Lo, ” lanjut Caitlin.
“Hm, dia akan nyesel sudah nyinggung nama keluarga Lo. Lalu, apa yang akan Lo lakuin ke dia? ” ucap Destina bertanya.
Anna berpikir cukup lama. Ia bukan orang yang suka balas dendam dam makin memperkeruh keadaan, sebaiknya ia biarkan saja wanita itu. Lagi pula hanya kesalah pahaman karena sosok Tomy.
“Udahlah, lupakan. ”
“WHAT!?!?!? ”
Ketiga wanita itu berteriak serempak membuat Anna terkejut bukan main dengan reaksi itu.
“Anna, ini bukan masalah sepele! Lagian wanita itu perlu diberi pelajaran biar kapok! ” ucap Caitlin melakukan protes.
“Iya, Anna. Bukan nama keluarga Lo aja, tapi dia bawa nama keluarga Aldrich dong! Bayangin orang kecil kayaknya berani-beraninya ngehina nama besar keluarga lain! ” sahut Destina.
“Dan Gue rasa, bukan cuma wanita tadi yang kena batunya. Seluruh keluarganya pun akan dibuat berantakkan gara-gara kelakuan wanita itu! Tahu kan gimana bringasnya keluarga Aldrich? ” ucap Vivian ikut mendukung kedua temannya.
Mendengar itu semakin membuat Anna tidak ingin memperpancang masalah. Ia masih punya hati nurani, hal ini benar-benar sepele untuknya.
“Gue ke toilet aja. Mau basuh muka, ” ucap Anna.
“Itu make up Lo rusak, ke ruang Heriska aja ya biar di rias lagi? ” tawar Destina. Takut jika Ardan tahu adiknya berpenampilan beratakkan seperti ini pasti mereka yang disalahkan.
“Nggak perlu. ”
Anna pun beranjak ke toilet, penampilannya yang terlihat berantakkan tentu saja mendapat perhatian dari orang-orang yang dilewatinya. Tapi Anna tidak peduli dan terus melangkah.
“Anggi? Anggita bukan? ” batin Anna terusik dengan nama wanita gila tadi.
Entah kenapa, ia teringat akan satu sosok yang ia kenal. Rupa paras, suara, dan nada bicaranya itu sangatlah tidak asing. Tapi karena penampilan wanita itu yang tak dapat ia kenali sebagai orang yang ia kenal beberapa tahun yang lalu, membuatnya ragu.
BERSAMBUNG...