I WANT LOVE

I WANT LOVE
ARIANNE ANGELICA SWAYN


“Indonesia... ” gumam wanita cantik yang tengah duduk di belakang kursi pengemudi di dalam taksi. Memandang ke luar jendela, dengan pikiran melayang entah kemana.


Indonesia, tempat kelahirannya. Tempat dimana banyak kenangan yang membuat hatinya terasa begitu hangat sekaligus perih.


Walau lebih dari 5 tahun tak menginjakkan kaki ditanah kelahiran, tidak sedetik pun wanita itu melupakan rumahnya. Ya, dulu Indonesia adalah rumahnya, namun selama 5 tahun ini hanya Prancis-lah rumah satu-satunya.


“Non, kita sudah sampai. ”


Anna, sapaan akrab wanita bersurai hitam legam tersebut. Setelah membayar taksi, ia segera turun dari mobil sambil membawa sebuah koper kecil berwarna hitam, lalu melangkah mendekati gerbang besar yang dijaga oleh dua orang petugas.


“Maaf, Mbak. Ada urusan apa, ya? ” tanya salah satu petugas di seberang pagar, melihat sesosok asing mendekat.


Anna tak menjawab melainkan menyodorkan secarik kertas yaitu kartu namanya, disitu tertulis ia adalah keluarga Swayn dan posisinya di cabang perusahaan Prancis sebagai salah satu pemegang saham terbesar.


Petugas yang menerima itu pun terkejut, buru-buru ia membuka gerbang dengan tangan bergetar dan segera memberi hormatnya.


“Maaf Nona Anna, tidak mengenal anda sebelumnya. ”


Anna tak lagi merespon, ia segera masuk dan tak memperdulikan sikap petugas itu yang kurang sopan. Itu wajar bagi Anna, ini kedua kalinya ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Swayn di Indonesia, tentu saja para pekerja disini tak dapat mengenalinya dengan mudah karena kehadirannya pun sangat jarang.


Lagipula, kedatangannya yang dikata tiba-tiba apalagi tanpa pengawalan bodyguard dengan mobil mewah seperti keluarga berkelas lainnya.


“Saya bantu bawa, Nona. ”


Anna mengangkat tangannya memberikan satu jari telunjuk untuk membuat petugas itu tak melakukan apa pun, dengan kata lain ia menolak bantuan tersebut tanpa mengucapkan satu pun patah kata.


Petugas itu mengerti dan segera memberi hormatnya, memberikan Anna jalan. Satu petugas yang lain pun ikut menundukan kepala saat Anna melewatinya.


Anna menekan bel rumah lantai tiga tersebut, tak ada satu menit seorang wanita berusia empat puluh tahunan yang berprofesi sebagai maid di kediaman keluarga Swayn itu membukakan pintu. Maid itu telah mengetahui rencana kedatangan Anna, jadi dapat mengenali Anna dalam sekali lihat dan mempersilahkan Anna untuk istirahat.


“Dimana Grandma? ” tanya Anna pada maid tersebut yang masih setia berdiri di dekatnya, kapan saja Anna membutuhkan bantuan akan ia lakukan sebaik mungkin.


“Nyonya Besar ada di ruangan terapi, Nona. ”


Anna mengangguk dan menyerahkan koper di sampingnya. “Bawa ke kamarku, bisa? ”


“Bisa, Nona. ” Maid itu mengambil koper Anna dan segera pamit untuk menaruhnya di kamar sang Majikan.


Dan Anna segera melangkah ke tempat yang dimaksud maid tadi. Anna melihat seorang wanita lanjut usia tengah duduk santai di kursi terapi modern sambil menikmati secangkir teh hangat tradisional.


“Grandma, ” seru Anna sambil berjalan menghampiri wanita itu yang jelas terlihat gembira atas kedatangan cucu tersayangnya.


“Anna, Grandma sudah rindu berat sama kamu. Kenapa baru sekarang pulang? ” Grandma meraih tangan gadis tersebut dengan senyum lebarnya, memperlihatkan kebahagiaan tiada tara.


“Maaf, Grandma... ”


‘Sejujurnya aku belum siap untuk kembali’ lanjut Anna membatin. Anna membalat tersenyum pada Grandmanya.


“Apa Grandma sudah makan siang? ” tanya Anna berbasa-basi, menekuk lutut di depan sang Nenek membuat wajahnya dan wanita lanjut usia itu berpapasan saling tatap.


“Grandma tidak selera, ” jawab Grandma apa adanya.


“Tidak! Mau tidak mau Grandma harus tetep makan dengan teratur biar sehat terus. Makan bareng Anna, ya? ”


“Ouh... Cucu kesayangannya sudah tiba rupanya, ” sebuah suara lantang terdengar sinis masuk ke indra pendengaran Anna.


“Ghena, darimana kamu semalam tidak pulang? ” suara Grandma tak kalah lantang membalas ucapan cucu tertuanya itu.


Wanita bernama Ghena itu tertawa lepas.


“Apa Grandma menghawatirkanku? Wow, kukira Grandma hanya memikirkan Anna, cucu tersayangmu. ”


Wanita bernama Ghena itu memiliki perawakan yang lumayan cantik, namun selalu terlihat berantakkan dan tidak ada anggunnya sebagai keturunan kalangan atas. Siapa pun yang melihatnya, pasti akan mengira wanita itu adalah anak kos-kosan yang brandalan dan miskin.


“Kakak, tolong jangan kurang ajar dengan Grandma! ”


Tawa Ghena menghilang, tak ada senyum melainkan wajah mengejek. Jelas ia menyimpan rasa tak sukanya pada Anna.


“Aku bukan kakakmu kampungan! Aku tidak pernah punya adik sepertimu! Dasar wanita licik! ” umpat Ghena setengah berteriak.


“Ghena! Masuk ke kamar kamu sekarang! ” teriak Grandma lantang, membuat Ghena hanya bisa menahan umpatan kasar dan pergi begitu saja dengan langkah lebar.


“Sudah, Grandma. Tenangkan dirimu, ingat kondisi kesehatanmu, ” peringat Anna lembut. “Mari ke ruang makan, ” ajak Anna sambil memegang lengan Grandma dan menuntunnya melangkah.


‘Grandma, kamu mengingatkanku pada seseorang... ’ batin Anna dengan pandangan sendu.


‘Benar, Kak Ghena tak menyukaiku ada alasannya. Grandma, apa kamu masih mau mengakuiku sebagai cucumu setelah mengetahui penyebab kebencian Kak Ghena padaku? ’ Anna tersenyum miris.


* * *


Setelah menemani Grandma makan dan menuntunnya ke kamar, kini Anna melangkahkan kaki menuju kamarnya yang sudah lima tahun berlalu ia tinggalkan.


Ada dua orang maid yang berdiri tegap di depan pintu kamarnya. Anna sudah tidak heran, di Prancis bahkan pelayanannya lebih mengerikan.


“Kalian boleh pergi, ” ucap Anna tanpa ekspresi.


Kedua maid itu saling pandang ragu, Anna dapat melihatnya jika kedua wanita itu takut menuruti perintahnya. Karena pelayanan seperti ini sudah tidak asing lagi, bahkan memang kewajiban bagi orang seperti Anna mendapatkan pelayanan khusus. Jika ada saja satu pelayan yang lalai, akan mendapat ganjaran yang tidak main-main. Bukan hanya dipecat, tapi hidupnya akan dibuat susah.


“Aku yang menjamin, ” lanjut Anna.


“Aku merasa risih dengan kehadiran kalian, jika tidak ingin membuat aku marah. Turuti apa kataku, ” ucap Anna menatap kedua maid itu tajam.


Kedua maid itu menundukan kepala dengan tangan berkeringat dingin merasa gentar. Keduanya pun menurut dan berpesan jika Anna butuh apa-pun bisa memanggil mereka kapan saja.


Setelah memastikan maid-maid itu menjauh, Anna pun membuka pintu kamarnya. Memasuki ruangan yang luas dan megah, tidak ada bedanya dengan kamarnya di Prancis. Berlebihan, itu pendapat Anna.


Menurutnya, kamar ini lebih luas dibanding ruang bioskop ataupun rumah kontrakkan 600 ribu. Dengan fasilitas lengkap selayaknya penginapan bintang lima, tak ada yang kurang sama sekali.


Anna melangkah semakin dalam, berjalan hingga di depan kaca dengan ukuran panjang yang membuat seluruh penampilannya terpantul jelas. Memperhatikan penampilan dirinya yang dinyatakan sebagai orang berkelas.


Tidak ada senyuman, ataupun kehidupan yang terlihat dari air mukanya. Menatap wanita dihadapannya itu dengan pandangan sendu yang hanya ia yang tahu, apa arti pandangan itu.


Arianne Angelica Swayn, nama yang keren bukan?