
PLAK!
Anna tertarik dari dekapan Ardan dan disambut dengan tamparan keras pada pipi kirinya.
“Heriska! Apa yang kamu lakukan?! ” bentak Ardan ikut terkejut, tak percaya apa yang baru saja terjadi di depan matanya.
“Harusnya aku yang tanya! Apa yang kamu lakukan pada wanita ini!? Sampai hati kamu membentakku karena wanita ini!? ” teriak Heriska tak mahu kalah.
Anna mengusap pipinya yang terasa perih. Wanita tersebut hanya diam menyaksikan, dengan perasaan bersalah karena berhasil membuat kakaknya dan sang Kekasih bertengkar.
“Heriska, seharusnya kamu mengetuk pintu dulu! Dimana tata krama yang diajarkan keluargamu! ” gertak Ardan kali ini tak bisa menahan diri.
“Lalu aku tak akan pernah melihat pengkhianatan kamu!? ” mata Heriska memerah memahan marah.
“Pengkhianatan apa!? Dia adikku! ” gertak Ardan.
Dan berhasil membuat Heriska terdiam membatu. Perlahan wanita itu menoleh pada Anna yang kini pun menatapnya sambil memegang sisi pipi kiri.
“A... Anna? ” panggil Heriska hati-hati dengan nada bertanya.
“Ya, dia Arianne adikku. Apa kamu puas?! ”
“Ardan... ” Heriska mencoba meraih tangan pemuda itu namun ditangkis, Ardan beralih kepada sang Adik dan memerikasa keadaan Anna.
“Aku tidak apa-apa, Kak. ”
Anna menepis tangan Ardan yang ingin menyentuh pipinya, wanita itu menarik tangan Heriska keluar dari ruangan. Membiarkan Ardan mendinginkan kepala seorang diri. Heriska tak melawan, ia mengikuti kemana langkah Anna membawanya.
“Anna, maaf aku tidak mengenalimu. ”
Kini kedua wanita tersebut tengah duduk saling berhadapan dengan meja diantara mereka jadi penghalang. Perusahaan besar ini memiliki kafe sendiri, tidak perlu repot-repot keluar dari gedung jika ingin makan siang atau beristirahat bagi para karyawan yang bekerja
“Tidak masalah, ” tanggap Anna terlihat santai.
Heriska dibuat makin bersalah. Bagaimana ia masih berpikir jika wanita baik dan tak pedulian ini mencari perhatian dengan Ardan? Heriska benar-benar geram dibuatnya karena terlalu cepat terhasut.
Anna sendiri tidak terlalu memperpanjang masalah. Heriska belum pernah bertemu dengannya secara langsung, hanya dia yang pernah melihat paras Heriska saat pesta malam kemarin.
Lagi pula, siapa yang tabah saat melihat kekasihnya memeluk wanita asing di depan matanya? Anna rasa, sikap Heriska normal saja menanggapinya. Itu juga hanya salah paham yang tak berarti.
“Waktu ulang tahunku, kudengar kamu datang tapi pulang duluan saat dilabrak oleh Anggi? Maaf, Anna. Karena kelalaianku, kamu menjadi tak nyaman disana, ” ucap Heriska.
“Hm, tak apa. ”
Anna rasa ia tak perlu menjelaskan kalau ia tak pulang melainkan menyendiri dari teman-teman Heriska. Tak ada untungnya juga ia memberi tahu Heriska apa yang sebenarnya terjadi.
Interaksi singkat itu, membuat Heriska dapat memahami seperti apa sifat Anna. Yaitu pendiam dan kelewat santai. Anna sendiri di sisi lain mencoba tak bersikap dingin dihadapan wanita ini mengingat Heriska adalah kekasih kakaknya.
“Sebenarnya, ” Heriska kembali berkata. “Di luar tadi aku bertemu Anggi, dan ia bilang bahwa ada seorang wanita yang menggoda Ardan. Awalnya aku tak percaya, tapi saat melihatnya langsung aku dibawa oleh emosi. Tak berpikir jauh jika wanita itu adiknya Ardan. Sekali lagi maafkan sikapku. ”
“Sudah kubilang tidak masalah. ”
Anna sudah menyimpulkan. Heriska adalah wanita dengan hati yang lembut dan perhatian, sedikit-sedikit menyalahkan diri membuat Anna melihat wanita itu terlalu lemah. Tapi tidak masalah jika Heriska bahagia dengan Ardan.
“Anna, maukah kamu memanggilku kakak? ” pinta Heriska berharap.
“Ya, Kak Heris. ”
“Kak Heris, manis sekali! ” girang Heriska.
Anna tersenyum tipis menanggapi.
Heriska menghela napas dan air mukanya berubah muram, teringat kembali kejadian beberapa menit lalu.
“Pasti Ardan sangat kesal padaku, kamu tahu tidak? Ardan selalu bercerita tentang adiknya, bagaimana sifat adiknya, kepribadian adiknya, makanan favirit, sampai hobi pun Ardan menceritakannya. Kamu benar-benar sosok yang spesial bagi Ardan, Anna. Sayangnya akj menyakitimu dihati pertama kita bertemu, ” ucap Heriska panjang lebar.
“Kak Heris ada perlu apa ke kantor? ” tanya Anna mengalihkan topik pembicaraan.
Heriska pun tersadar dan teringat.
“Oh, ya! Flashdisk Ardan ada bersamaku, dan Aku ingin mengembalikannya. Ardan juga yang menyuruhku kesini, jika ia tidak mengingatkan pasti Aku akan lupa jika milik Ardan ada bersamaku. ”
Heriska pun merogoh isk dalam tasnya, mengeluarkan benda kecil bernama flashdisk dan menaruhnya di meja tepat dihadapan Anna.
“Bisa minta tolong? Kasih ke Ardan, dan sampaikan maafku. Mungkin saat ini dia masih belum bisa memaafkanku, ” ucap Heriska memohon.
Anna mendorong benda kecil itu ke hadapan Heriska, menolak. “Jika Kak Heris percaya kalau Kak Ardan benar cinta denganmu, kenapa tidak coba bertemu setelah kejadian itu? Aku yakin Kak Ardan adalah orng yang baik dan pemaaf, apalagi pada kekasihnya sendiri. ”
Ada rasa ragu dimana wanita itu.
“Apa kamu tidak mengerti? Kamu adalah sosok yang spesial Anna, walau aku kekasihnya tapi tak berpengaruh banyak dibanding kamu adiknya. ”
“Kak, kamu berlebihan. ”
Heriska menghela napasnya, menyiapkan diri untuk berkata panjang lebar.
“Menurutku, hubunganku dan Ardan tidak berarti apa-apa. Statusku dengan Ardan memang sepasang kekasih, tapi kita tak sedekat itu. Aku merasa, fokus Ardan selama di dekatku hanya ada namamu, Anna, Anna dan Anna. Kita tak saling mencintai, tapi cinta satu sisi... ”
Anna melihat kesedihan pada mata wanita di hadapannya. Dan ia pun dapat mengerti dalam sekali lihat di tambah ucapan Heriska.
“Sememtara akan ku pinjamkan flashdisk itu, aku akan beralibi jika lupa membawanya. Bawa dan lihat apa isinya dan kamu akan mengerti. ”
Anna jadi penasaran dibuatnya, menatap flashdisk kecil itu dengan pandangan ragu.
“Memang apa isinya? ”
“Jika ingin tahu kenapa tidak kamu lihat langsung? ” balas Heriska dengan senyum penuh makna.
“Apa itu tentangku? ”
“Bahkan, lebih tentangmu. ”
Mata Anna melebar mendengarnya. Dengan perlahan Anna meraih benda berwarna hitam tersebut, diam cukup lama menatapnya.
“Apa ini sangat penting bagi Kak Ardan? ”
“Kurasa, karena itu tentangmu. Orang spesial di dalam hidupnya, Arianne Angelica Swayn. ”
Anna terdiam cukup lama, kembali menatap Heriskan yang juga menatapnya.
“Tidak kah aneh? ”
“Apanya? ” tanya Heriska balik.
“Kak Ardan menganggapku sepesial itu? Kurasa hubunganku dengannya tak sedekat itu selama lima tahun terakhir ini. ”
Heriska tertawa kecil.
“Kamu adiknya, Anna. ”
‘Ah, ya! Yang dimaksud adalah Anna, adiknya Ardan. Kenapa ia harus merasa heran? ’
Anna pun menyimpan flashdisk itu dalam tasnya
Tanpa Anna sadari, Heriska pun menyembunyikan perasaannya yang juga merasa hal aneh itu.
“Aku ingin lebih dekat denganmu, malam ini dinner bersama mau? Hanya kita berdua, girls time! ” seru Heriska mengalihkan pembicaraan sekaligus mengungkap keinginannya.
Anna tak langsung menjawab, ia berpikir sejenak sebelum mengangguk setuju. Heriska bersorak kegirangan, Anna yang melihat itu hanya tersenyum. Ia heran, apa yang dilihat Heriska darinya? Apa karena ia adik dari Ardan?