
“Maaf Nona, jika boleh tahu Anda siapa? ” tanya sekertaris wanita itu hati-hati. Setelah melihat bagaimana Anna dapat menyuruh orang suruhannya mengusir paksa Anggita, pasti Anna adalah sosok yang tak kalah penting dari Ardan.
“Anna, dan kuyakin kalian tak akan pernah mempersulitku untuk masuk ke dalam sana. ”
Anna menunjuk pintu ruangan Ardan. Sekertaris wanita itu kembali ingin berbicara, namun tersalip oleh pria disampingnya.
“Maaf Nona Anna tidak mengenal Anda sebelumnya, Tuan Ardan telah menunggu di dalam. Silakan. ”
Anna pun memasuki ruangan. Setelah Anna tidak ada disana, sekertaris wanita itu meminta penjelasan.
“Tuan Ardan sudah berpesan, adiknya yang dari Prancis akan berkunjung hari ini. Dan namanya adalah Anna, yaitu wanita tadi. ”
Cukup terkejut, namun sekertaris wanita itu nampak lega karena tak menahan lebih jauh Anna tadi. Jika ia gegabah, dipastikan ini hari terakhirnya bekerja.
Sementara itu saat Anna memasuki ruangan, terlihat dua pemuda yang sibuk sendiri dengan komputer dan ponselnya. Ardan yang menyadari kehdiran adiknya pun mengalihkan pandangan dari layar monitor dan tersenyum kecil.
“Kalian tampak sibuk. ”
Mendengar suara seorang gadis membuat Tomy mengalihkan pandangannya dari layar ponsel pada pusat suara tersebut.
“Hey, Anna! ” sapa Tomy ceria.
“Kamu masih bisa tersenyum setelah mendapati kekasihmu berbuat onar di depan sana? ”
Tomy tertawa mendengarnya. “Jika pun ia berhasil masuk, tak ada gunanya. Lagi pula, dia mantan kekasihku tepatnya. ”
Anna menghela napas sebelum ikut mendudukan diri di sofa, tepat dihadapan Tomy.
“Omong-omong, untuk apa dirimu kemari? ” tanya Tomy berbasa-basi.
Anna mengedikkan bahu, ia juga tak mengerti. Ardan memaksanya ke perusahaan di Indonesia pagi tadi saat sarapan bersama.
Tomy yang memahami sifat pendiam dan dingin gadis itu pun kembali sibuk pada ponselnya.
“Apa Lo tidak ada pekerjaan, Tom? ” tanya Ardan bermaksud mengusir.
“Tidak, ” respon Tomy tak mengerti situasi.
Tomy berdecak, alasannya menetap disini karena bermaksud menghindari kunjungan Anggita yang tak ada hentinya dan selalu membuatnya tertekan. Pada akhirnya ia menurut dan keluar dari ruangan Ardan, meninggalkan pasangan kakak-beradik tersebut.
“Apa ada yang ingin dibicarakan, Kak? ” tanya Anna sembari mengangkat alisnya bertanya.
Ardan beranjak dari kursinya, berjalan mendekati jendela yang terarah pada jalanan kota di bawah sana.
“Ya, tentang perusahaan. ”
“Ada apa memang? ”
“Paman Nora ingin pensiun, dan menyuruhku naik jabatan ke presdir. Dan aku berniat menjadikanmu wakilku disini, dengan kata lain kamu akan menetap selamanya di Indonesia. ”
Anna terdiam sejenak, sebelum menghela napasnya.
“Kakak, kamu tahu— ”
“Ya, Aku tahu.” Ardan memotong perkataan adiknya, “Kamu tak ingin tinggal di sini lama, itu kemauanmu. Tapi Anna, Aku tahu apa yang diinginkan hatimu. Menetap. Menetap di kampung halamanmu. ”
Anna beranjak dari duduknya, berniat ingin meninggalkan ruangan namun Ardan mencegahnya dengan cepat. Kini keduanya saling pandang, dengan Ardan yang memegang kedua bahu sang Adik.
“Sampai kapan, Anna? Sampai kapan kamu ingin mengurung diri di Prancis? Rasa penyesalan itu tak akan hilang begitu saja saat kamu ingin mencoba lari. ”
Anna menggigit bawah bibirnya, menahan agar kedua matanya tak basah. Namun wanita itu dapat merasakan buliran hangat berada di pelupuk matanya.
“Aku merasa... ” Anna menghela napasnya, entah untuk keberapa kali. Air matanya jatuh, lolos dari bendungan dibalik pelupuknya.
“Aku merasa tak pantas disini, Kak. Aku selalu dihantui rasa itu... Aku tak bisa berlakon selayaknya adik tersayangmu, atau cucu tercinta Grandma. ”
“Aku tidak bisa, Kak... Ini menyiksaku... ”
Ardan membawa wanita itu dalam dekapannya, membiarkan Anna menumpahkan air matanya pada dada bidangnya.
“Kamu adikku, Anna. Sudah seharusnya aku berkewajiban peduli padamu, ini semua kulakukan untukmu, untuk dirimu yang harus bisa merelakan rasa-rasa bersalah itu... Semua sudah terjadi, dan kamu harus menjalani hidup dengan baik. ”
Tidak lama setelah perkataan Ardan selesai, pintu ruangannya terbuka dan menampakkan seorang wanita cantik diambang pintu.