
Anna keluar dari kamarnya setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian santai yang selalu ia kenakan untuk di rumah. Ia berjalan sampai pada dapur belakang, dimana para maid yang mendapati bagian cooking berada di sana untuk menyiapkan makan malam nanti.
Kedatangan Anna membuat mereka terheran-heran, karena Anna begitu asing bagi mereka. Para pekerja di rumah ini belum seluruhnya mengetahui kedatangan Anna, anak bungsu keluarga Swayn.
Tidak memperdulikan keheranan para maid disekitarnya, Anna membuat kopi susu dengan es batu sebagai perlengkap.
“Nona Anna! ”
Rupanya ada satu maid yang mengenalnya, yaitu wanita yang menyambutnya di depan pintu tadi.
“Nona bisa menyuruh salah satu dari kami, tidak perlu repot-repot menyusahkan diri sendiri. ”
Terlihat jelas dalam air mukanya ada rasa ketakutan, Anna pun memahaminya. Ditambah para maid yang lain pun ikut merasa terancam saat mengetahui identitas Anna yang disebut oleh kepala maid mereka sebagai ‘Nona’ dan menganggap diri mereka lalai.
“Kalian hanya tinggal diam, tidak sulit kan? ” tanggap Anna santai pada wajah-wajah pucat pasi di sekitarnya.
Tidak terlalu memperdulikan, setelah Anna selesai membuat minuman sederhananya. Anna pergi dari sana dengan tenang, menganggap tak terjadi apa-pun. Mungkin Anna menganggap prilakunya adalah hal yang tak perlu di permasalahkan, tapi berbeda dengan para pekerja ini yang sudah merasa berbuat kesalahan fatal.
Anna berjalan menuju taman belakang, mendudukkan diri di sebuah sofa berbahan dasar dengan kualitas tinggi. Memandangi air kolam yang diisi oleh ikan-ikan hias depan matanya.
“Halo, Anna. Apa kabarmu? ”
Sebuah suara membuat perhatiannya teralihkan, Anna menoleh ke samping dimana ia mendapati seseorang tersenyum padanya.
Anna tersenyum tipis membalas sebelum menjawab dengan singkat, “baik. ”
Seorang pemuda tampan ikut duduk disebelah Anna, memandang ke depan dimana kolam yang terisi oleh ikan-ikan hias menjadi objek utama perhatian mereka di tempat ini. Matahari begitu terik saat sore hari, membuat air kolam bersinar kilau karena cahaya matahari.
“Apa Kak Ghena mengganggumu lagi sejak pertama kali kalian bertemu? ” tanya pemuda tersebut, tanpa menoleh ke wanita di sampingnya.
“Tidak, ” respon Anna singkat. Walau sempat bertengkar satu-dua patah kata, tapi wanita yang berstatus kakak sulungnya itu belum mengganggunya sama sekali.
Ardan Farabi Swayn, kakak kedua dari keluarga Swayn. Seorang pemuda tampan yang masih berusia muda yaitu dua puluh empat tahun yang menjabat sebagai wakil direktur di perusahaan cabang Indonesia.
“Lama tidak berjumpa, kamu semakin dewasa dan cantik Anna. ”
Mendengar pujian itu hanya membuat Anna tersenyum tipis, walau terlihat sekali memaksa. Entahlah, selama lima tahun ini wanita itu sulit mengekspresikan diri di depan orang lain.
“Apa Mommy dan Daddy baik disana? ” tanya Ardan lagi masih berusaha untuk berkomunikasi dengan adiknya.
“Hm, ” respon Anna. Ia tahu Ardan hanya berbasa-basi ahar mendapar topik pembicaraan, tapi jujur Anna sedang tak ingin banyak bicara.
“Dulu, aku sangat dekat dengan Anna adikku. ”
Ucapan Ardan yang tiba-tiba tentu membuat Anna terkejut, tapi rasa itu tak dapat terlihat dari ekspresi wajahnya yang kaku dan datar tanpa ekspresi.
Anna menundukkan wajahnya, hatinya kembali terasa ngilu. “Maaf... ” gumamnya pelan namun dapat didengar oleh Ardan.
“Maaf, aku tidak bisa menjadi adik yang baik bagimu. ”
Anna merasakan tepukan lembut pada puncak kepalanya. Tentu saja tangan pemuda itu, yang memberikannya kasih sayang dan perhatian.
“Tidak papa, aku senang kamu disini. Jangan terbebani, ya? Nikmati hidup tanpa rasa penyesalan, kebahagiaanmu disini Nona Swayn. ”
Mendengar nada penyemangat dari pemuda itu, tetap saja tak ada pengaruhnya bagi Anna. Tapi Anna masih menghargai Ardan sebagai kakak tersayangnya.
“Terima kasih, Kak. ”
Ardan menarik tangannya, kembali menghadap depan.
“Bagaimana hidupmu disana? ” tanyanya membuka topik baru.
“Baik. ”
“Boleh aku mendapatkan jawaban yang lebih panjang? ” Ardan menoleh pada adiknya.
Anna menatap Kakaknya bersalah.
“Boleh aku jujur? ”
“Aku hanya pura-pura merasa lebih baik disana, walau ragaku tidak di sini. Tapi aku sadar, jiwaku disini.”
“Rumahku disini, kampung halamanku.”
“Lebih dari lima tahun disana, terasa begitu asing. Aku tidak pernah merasa nyaman, aku selalu berpikir untuk pulang tapi aku nggak sanggup Kak. ”
“Anna... ” suara rendah Ardan menyambut perkataan Anna.
“Apa kamu merindukan adikmu? ” tanya Anna menoleh pada pemuda di sampingnya.
“Anna... ”
“Jawab, Kak! ”
Ardan menatap Anna dengan pandangan sendu. Ia ingin memeluk wanita itu, namun ia urungkan karena itu terlihat tidak sopan. Walau status mereka adik-kakak, tapi karena sudah lama bertemu itu akan terasa canggung.
“Dari awal kamu sudah mengambil keputusan, ” ucap Ardan membuat Anna terkesiap di tempatnya.
“Aku hanya bisa kasih saran, Anna. Lepaskan penyesalanmu, buka lembaran baru tidaklah buruk. Banyak yang menyayangimu dan menerimamu di sini apa adanya. ”
Anna tersenyum tipis, ia juga berpikir seperti itu tapi tidak mudah. Menganggap semuanya baru dengan hati yang terbuka, namun ia sadar masa lalu tidak dapat di hilangkan secara permanen. Kecuali, ia hilang ingatan atau terhapus dari muka bumi selamaya.
Anna berdecak dalam hati kenapa lagi dan lagi ia memikirkan hal bodoh seperti itu.
“Terima kasih, Kak. Aku beruntung punya kakak laki-laki sepertimu, ” jawab Anna pada akhirnya.
Lagi dan lagi, hatinya terasa kelu mengatakan seorang ‘kakak laki-laki’. Anna memghembuskan napas panjang mengatur napasnya yang mulai sesak.
“Daripada terus murung, bagaimana malam ini ikut aku ke pesta? ” ajak Ardan tiba-tiba.
“Pesta? ”
“Hm, salah satu temanku berulang tahun. Ikut, ya? ”
“Aku tidak pantas, Kak. Itu bukan gayaku. ”
“Ayolah! Biar aku ada gandengan! ” seru Ardan terkesan memaksa, jelas tak ingin mendapat penolakkan.
Anna tersenyum tipis mendengarnya.
“Dasar jones, ” ledeknya bergurau
Ardan tertawa kecil menanggapinya.
“Jangan salah, wanita kakakmu ini banyak cuman bingung mau ngajak yang mana. ”
Anna memutar bolamatanya malas, melihat itu membuat Ardan kembali tertawa. Ternyata setelah sekian lama tak berjumpa, Anna masih tetap sama. Sama-sama berhati lembut dan polos yang dimiliko oleh wanita lugu.
“Mau, ya? Sekalian cari suasana baru, menghibur hati. ”
Anna berpikir sebentar. Menghela napas sebelum mengangguk membuat Ardan mengulas senyum kecil.
“Tenang, Anna. Disana juga banyak cowok-cowok ganteng, walau nggak seganteng kakakmu ini. ”
Anna menatap kakaknya datar, “apasih garing! ”
Ardan tidak peduli, yang ia pedulikan adalah wanita itu sudah dapat berbincang santai dengannya saat ini. Melihat sikap tak semangat hidup adiknya itu, membuatnya ikut sedih.
Bagaimana pun, Anna adalah bagian dari keluarga Swayn. Ardan tetap memperlakukan Anna sebagai adik tersayangnya, walau sebuah fakta tentang Anna begitu menyakitkan.
BERSAMBUNG...
** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** **
[] A/N ; ini novel terarah ke melodrama. alurnya mungkin lambat, tapi konfliknya cepat. gimana tuh? rencananya mau nyelesaikan ini novel sampe eps 40 atau 50-an. nggak usah panjang-panjang, ntar gumoh. lah iya kalo ada yg baca wkwk []
** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** **