I WANT LOVE

I WANT LOVE
PERKENALKAN


Anna memperhatikan interaksi dua insan di jarak pandang yang terhalau oleh jauh itu dalam diam. Dimana kakaknya, Ardan tengah berbincang ria dengan Heriska. Tidak ada yang mengganggu interaksi keduanya setelah penyerahan potongan kue pertama, dilihat dari situ banyak yang menyimpulkan keduanya memiliki hubungan spesial. Anna pun melihatnya.


‘Aku dan Anna adikku selalu berbagi cerita, aku tahu tipe pria idamannya dan dia tahu tipe wanita idamanku... ’ Anna teringat akan cerita Ardan tempo lalu.


Anna menundukkan wajahnya, tersenyum tipis. Dalam hati bertanya, ‘apa Heriska adalah tipe idamanmu, Kak? Kuharap aku tahu itu, tapi faktanya sangat menyakitkan. ’


Lamunan Anna terganggu karena bincangan-bincangan ketiga wanita yang satu meja dengannya. Tidak ada habis-habisnya mereka membicarakan orang!


“Apa Heriska yang terlalu cantik, atau memang selera Ardan serendah itu? ”


“Hm? Kurasa dia memang cantik. ”


“Apa kamu masih berharap Ardan melirikmu? Ckckck sadarlah temanku, kau tak pantas untuknya. ”


“Diamlah! Kalian yang bermasalah, seharusnya Heriska lebih cocok dengan putera Aldrich yang cacat itu! ”


Anna menghela napasnya, kenapa perbincangan ketiga wanita ini selalu terarah pada putera Aldrich dan putera Aldrich? Tidak sayang nyawa mereka apa? Keluarga Aldrich terbilang sangat berpengaruh dan mereka tak ada keraguan untuk membicarakannya.


Sama saja seperti wanita gila yang menyiramnya beberapa waktu lalu. Apa putera Aldrich begitu populer sehingga menjadi bahan perbincangan seperti itu?


“Aku heran kenapa kamu selalu menyangkut-pautkan putera Aldrich? ”


“Hm, tentang cacat itu juga hanya rumor. Apa kamu yakin itu fakta? ”


“Apa peduliku? Apa karena keluarga Aldrich ditakuti oleh semua orang termasuk ayahku yang memiliki jabatan tinggi bisa membuat keluarga tersebut berlaku sekenanya? Aku sudah terlalu dendam dengan keluarga itu yang menyusahkan ayahku untuk mempertahankan jabatannya. Lagipula tak ada konfirmasi dari keluarga Aldrich tentang rumor busuk putera bungsu mereka, itu berarti rumor tersebut bukan fiktif belaka! ”


“Aku juga setuju, keluarga tersebut terlalu berpengaruh dan itu membuat mereka arogan. Sejujurnya aku tak menyukai keluarga itu. ”


“Ya, itu sebabnya mereka menerima karma memiliki putera yang cacat! Ck! ”


Anna menghela napas pelan dan menoleh sepenuhnya pada ketiga wanita di sana.


“Apa tempat ini ladang berbagi kebencian menurut kalian? ” seru Anna mencampur perbincangan ketiga teman tersebut.


Ia benar-benar lelah mendengar tanpa berusaha menegur.


Tiga wanita itu saling berpandangan dan menatap Anna dengan tak suka dan sinis. Siapa yang berani mengikuti perbincangan mereka? Wanita ini tidak sayang nyawa rupanya, pikir ketiganya.


“Dengar, kurasa kalian terlalu lupa diri sampai menghujat secara terbuka didepan orang lain seperti ini. ”


“Ck! Ternyata ada orang asing yang berani-beraninya duduk di dekat kita. Anak cantik, Gue peringatkan sama Lo ya. Nggak usah ikut campur atau coba membaur pada perbincangan kita, sayangi nyawamu! ”


Anna tertawa kecil, tak bisa menahannya. Lucu sekali, lihatlah ketiga wajah wanita yang menatapnya rendah itu.


“Sst! ” Anna menempelkan jari telunjuknya di depan mulut, sembari menatap wanita itu tanpa rasa takut.


“Seharusnya, sayangi nyawa kalian karena sudah menghina nama besar keluarga Aldrich. ”


Anna tersenyum simpul setelah berkata demikian.


“Hei gadis sok pintar dan sok dermawan. Apa yang kita bicarakan itu memang fakta, jika tak suka Anda boleh pergi dari tempat ini. Apa Anda kemari sendiri? Tak punya teman? Kasihan sekali, mungkin Anda memang gadis menyebalkan yang tak memiliki teman. Dari pada mengurusi kami, lebih baik Anda pergi dari hadapanku. Selagi aku masih bermurah hati, ” sahut salah satu diantara mereka.


Anna tersenyum mengejek, tapi tatapannya terkesan dingin dan tajam.


“Apa pesta ini milikmu? Meja dan kursi ini milikmu? Kau tak menghargai Heriska mengusir tamunya sembarangan? Berani membicarakan keluarga lain, dan bersikap seperti dirimu adalah penguasa. Satu saranku, hati-hati dengan tindakanmu. ”


“Lo—”


“Jane, jaga emosimu dan tutur katamu disini. Jika acara ini terjadi keributan, pasti Heriska yang akan langsung turun tangan. ”


“Perkenalkan, Gue Janelle Sonia Steve. Sudah tahu kan? Gue harap Lo tak ketakutan menggigil saat mendengar nama itu, ” ucap Jane menatap Anna dengan senyum kemenangan.


Anna tersenyum kecil. Pantas gadis ini memiliki kepercayaan diri yang tinggi, ternyata berasal dari keluarga Stave yang tak kalah berpengaruh dari keluarga Swayn. Namun, Anna tak setakut itu pada keluarga yang kini berada diujung tanduk.


Keluarga Stave dikenal karena bisnis-bisnis mereka sampai pada jenjang international. Karena nama keluarga Stave mulai naik daun dan disegani, keluarga tersebut bersikap seolah-olah merekalah penguasa sampai lupa daratan. Sikap mereka pun berhasil menyinggung nama keluarga lain yang lebih berpengaruh, yaitu keluarga Aldrich. Hingga muncul berbagai kabar jika bisnis-bisnis keluarga Stave bermasalah, dan hampir pada titik kehancuran. Dan itu disebabkan oleh keluarga Aldrich yang menjujung tinggi nilai harga diri.


Lalu, untuk apa Anna takut pada Jane?


Jane yang melihat reaksi Anna biasa-biasa saja, atau bahkan terkesan terlalu santai membuat Jane terkejut dalam hatinya sekaligus berkeringat dingin, dan ia bertanya-tanya. Siapa wanita itu?


“Nyali Lo cukup besar ternyata, ” seru salah satu teman Jane merasa tak senang jika nama Stave dirasa hanya lelucon belaka pada Anna.


“Harusnya Aku yang bilang begitu, nyali kalian cukup besar membicarakan oranglain terlepas status kalian yang rapuh, ” balas Anna dengan tatapan mata dinginnya, tidak ada lagi sedikit pun ulasan senyum di wajahnya. Menambah kesan yang membuat ketiga wanita itu gentar seketika.


“Mau kita ngomonin keluarga Swayn, Abram, ataupun Aldrich pun nggak ada hubungannya sama Lo! Jadi nggak usah sok nasehatin ataupun belaga pintar! ” balas Jane menekan rasa bahu bergetarnya.


“Bukannya belaga, tapi memang kalian yang idiot. Kalo berani, ngomong depan keluarga Aldrich langsung tentang pendapat Lo, Lo dan Lo! Diyakin, kalian akan disambut dengan lapang hati oleh mereka. Tidak percaya? Coba saja. Atau mau kutemani? ” kata Anna dengan senyum sungging, mengejek.


“Diam Lo! ” gertak Jane masih menahan diri untuk tidak bangkit dari duduknya dan menghampiri Anna untuk menjambak rambut wanita itu.


“Keluarga Stave bahkan bisa dibilang bukan lagi keluarga dengan kelas yang sama pada keluarga Swayn. Dan Lo berani mengatai Heriska tak tahu diri? Seharusnya Lo yang intropeksi diri dan memahami keadaan sendiri, apa Lo masih pantas berada di acara ini? Heriska masih berbaik hati ngundang orang-orang rendahan kayak kalian. Bersyukurlah... ”


Perkataan Anna semakin kasar dan menyindir keras, itu membuat Jane ingin beranjak dari kursinya dan menghampiri Anna, namun ia ditahan oleh kedua temannya. Karena mereka tahu, jika perdebatan ini makin panjang dan fak terkendali, merekalah yang bernasib buruk. Apalagi tertangkap basah membicarakan oranglain.


Asik berdebat, ke empat wanita tersebut bahkan tak sadar jika dua orang lainnya yang ikut berada di meja itu sedaritadi menyaksikan pentas mini drama.