
Nampaknya hubungan Heriska dan Ardan mulai membaik, itu juga karena Anna ikut menenangkan sang Kakak jika kejadian beberapa waktu lalu hanya salah paham.
Malam ini Anna sudah janjian dengan Heriska akan bertemu di salah satu restoran bintang lima.
Anna menyiapkan diri untuk beberapa menit kedepan. Ia mengenakan minidress merah muda yang sederhana, tidak terlalu mencolok karena hanya dirias oleh pita kecil pada sisi kiri pinggang.
“Makan malam dengan Heriska saja, kamu seperti ingin berkencan. ” Ardan heran melihat penampilan adiknya itu. Tidak biasanya Anna ingin keluar dengan gaun seperti itu.
Anna menghela napasnya. “Kamu sendiri yang bilang aku harus memperbaiki tampilan, ” balasnya.
Tidak ingin terlalu jauh mengobrol dengan sang Kakak, Anna langsung memasuki mobil yang telah tersedia sopir pribadi keluarga Swayn.
Heriska sudah menunggu di restoran, itu membuat Anna segera bergegas keluar dari mobil dan memasuki restoran tersebut sambil bertanya meja yang di pesan atas nama Heriska. Dan Anna mendapati tempat dimana wanita itu berada.
“Anna! ” sambut Heriska memeluk Anna dan mendekatkan pipinya kanan dan kiri lalu menyuruh Anna duduk tepat di depannya.
“Apa aku kelamaan? ”
“Tidak, aku juga baru sampai. Oh, sebentar lagi hidangan terbaik akan datang, aku sudah memesannya. Atau ada yang ingin kamu santap? ”
Anna menggeleng. “Kurasa pesananmu sudah cukup, Kak. ”
Heriska mengangguk senang. Keduanya pun berbincang, walau Heriska yang lebih dominan sedangkan Anna hanya menanggapi seperlunya.
Tidak lama kemudian seorang pria paruh baya dengan pakaian formal mendekati meja mereka.
“Maaf mengganggu Nona-Nona. ”
Heriska mengernyitkan keningnya. Ia mengetahui pria ini adalah manager dari restoran, merasa heran kenapa menghampiri mereka. Pasti ada alasannya.
“Ada apa ya, Pak? ” sahut Heriska.
“Maaf atas ketidaknyamanannya, tapi Restoran Moon Flowers menerima sewaan dari orang penting. Bisa Nona-Nona mencari restoran lain? ”
“Tiba-tiba? ” kaget Heriska.
Menyewa satu restoran bagi keluarga dari kalangan atas bukan suatu yang biasa lagi, tapi saat yang mendadak itu adalah hal yang menyebalkan bagi Heriska.
“Maaf atas ketidaknyamanannya sekali lagi, Nona. Tapi dengan terpaksa kami meminta para pelanggan mencari restoran lain. ”
Pria paruh baya itu masih berbicara dengan nada lemah dan memohon, jelas tak enak hati.
Anna menghela napasnya, melihat siapa pun yang menyewa restoran sebesar ini bukan orang sembarangan. Tapi Anna penasaran, siapa orang yang gila menyewa restoran sampai tega mengusir pelanggan lain? Satu ruangan privat kan cukup, menurutnya.
“Sepenting apa orang yang menyewa tempat ini? ” tanya Anna yang langsung membuat manager tersebut tersentak.
“Ehm... Nona, saya rasa Anda akan langsung menurut jika mengetahui siapa yang menyewa restoran ini, dia adalah keluarga Aldrich yang paling berpengaruh di negara ini. ”
Heriska sempat menahan napasnya karena kaget. Anna menghela napas dan mengajak Heriska keluar dari restoran ini segera.
“Ah, kenapa malam ini sial sekali? ” gerutu Heriska saat keduanya telah keluar dari restoran, beberapa pelanggan lain pun mulai meninggalkan restoran.
“Padahal aku ingin menunjukkanmu makanan di restoran ini enak-enak, tapi tidak sesuai keinginanku... ” lesu Heriska.
“Tidak apa-apa, Kak. Lain kali saja kita kesini lagi, bagaimana kita cari tempat lain? ”
Heriska menyetujuinya, namun belum sempat berkata lebih jauh ia mendapat panggilan masuk. Anna tidak menhetahui pasti siapa yang menelpon Heriska, namun dari arah pembicaraannya sepertinya Heriska tak bisa melanjutkan acara dinner malam ini.
“Anna... ” Heriska memandang Anna penuh rasa bersalah.
“Tidak apa-apa, jika ada waktu lain kita tebus dinner malam ini. ”
“Tapi aku tak enak hati meninggalkanmu. ”
“Aku diantar sopir pribadi, tenang saja. ”
Heriska menghela napasnya, lalu berpamitan pergi lebih dulu dengan rasa sesal dan berat hati. Anna yang masih berdiri di depan restoran menatap ke bawah dimana ia mengenakan sepatu yang cantik malam ini.
“Anna? ”
Sebuah suara memanggil namanya dari arah belakang.