I WANT LOVE

I WANT LOVE
TUAN MUDA ALDRICH


Keluarga Aldrich adalah salah satu keluarga yang selalu disegani. Tidak sembarang orang yang berani menyinggung keluarga tersebut, jika itu terjadi di pastikan keluarga itu akan jatuh sampai ke dasar-dasarnya. Aldrich Grub bukan suatu yang baru lagi, lebih dari empat puluh tahun sudah memposisikan namanya di peringkat satu dalam berbisnis.


Semua orang beranggap, jika menjadi salah satu anggota keluarga Aldrich akan mendapatkan segalanya, menjadikan diri sebagai anak sultan. Banyak yang mengagumi kekayaan dan kesuksesan keluarga Aldrich.


Tapi bagi Theodoric Ellray Aldrich, keluarga Aldrich tak berbeda dari sebuah asrama yang menjunjung tinggi nilai moral. Tak ada kehidupan, rasa kekeluargaan, dan kasih sayang. Hanya mementingkan bagaimana caranya Aldrich Grub berkembang jauh lebih besar.


Ia hidup selayaknya boneka wayang yang digerakan, tak pernah bergerak bebas sesuka hati. Dimana aturan harus dipatuhi. Tidak ada rasa peduli, hanya ada rasa moral yang tinggi.


Karena itulah, keluarga Aldrich dikenal berpengaruh dan arogan. Selayaknya tak memiliki hati.


“Jangan gegabah, Tuan Muda. Tuan Besar akan marah lagi jika mendapati Anda berbuat ulah kembali. ”


Teguran dari pria paruh baya yang selalu mengikutinya, Pak Shemi. Dimana pria tersebut adalah orang kepercayaan Ayahnya, Tuan Besar Aldrich.


“Gegabah apa? Aku tak mengingat pernah melakukan kesalahan. ”


“Tempo lalu Anda pergi tanpa pamit dari pesta malam itu, ingat? ”


“Tidak. ”


Pak Shemi hanya menghela napas. Terus mengikuti langkah Tuan Mudanya ke sebuah ruangan. Saat memasukinya, terlihat sudah banyak orang yang menunggu kedatangannya.


“Maaf, saya terlambat dan membiarkan kalian menunggu lama. ”


Pemuda tersebut menundukan kepala pada para orang yang tengah duduk di meja panjang tersebut.


“Duduklah, ” sahut pria paruh baya yang tak lain adalah Tuan Besar Aldrich.


“Apakah ini yang namanya Theodoric? Dia sangat tampan, ” puji seorang pria dewasa sembari tersenyum hangat.


Theodoric, itulah panggilannya pada keluarga Aldrich. Putera bungsu yang dimana banyak rumor-rumor buruk beredar. Jelas rumor yang terdengar hanyalah sampah, Theodoric adalah seorang pemuda mapan yang cerdas dan tampan. Hanya saja ada alasan khusus mengapa dirinya tak diliput oleh media massa.


Theodoric hanya tersenyum menanggapi pujian tersebut.


Nyonya Besar mengernyitkan keningnya merasa bingung. “Apa yang Kamu maksud tawaran, suamiku? ” tanyanya penasaran.


“Biar Tuan Damien yang menjelaskan. ”


Pria yang disebut sebagai Tuan Damien itu tersenyum simpul.


“Tuan Haidar menawarkan pertunangan dengan putera bungsu keluarga Aldrich dan puteri saya. ”


Perkataan Tuan Damien jelas dibuat kaget oleh yang lain. Tak lepas dari Theodoric sendiri, ini menjadi tamparan keras baginya. Apa yang ia takutkan akhirnya terjadi.


“Bagaimana Theodoric, apa Anda juga menyetujuinya? ” tanya Tuan Damien.


“Tentu saja dia setuju, ” sahut Tuan Besar Aldrich.


Theodoric mengepalkan tangannya kuat diatas pangkuannya, sudah jelas ia tak diberi pilihan untuk mengatakan Ya atau Tidak. Sudah sangat jelas, apa yang diinginkan Tuan Besar Aldrich adalah hal yang mutlak.


Nyonya Besar pun hanya dapat tertawa canggung, melirik puteranya yang hanya diam membatu.


Tidak tahan lagi, Theodoric beranjak dari kirsi dan keluar dari ruangan tersebut tanpa memedulikan teriakkan ayah dan ibunya.


Keluarga? Ck, Theodoric tak mengenal sebutan itu.


Ia memiliki dua kakak lelaki yang sudah menikah, dan mereka menikah atas dasar cinta tanpa ikatan perjodohan. Dan ia memiliki satu kakak perempuan yang memiliki seorang kekasih hati, tak ada paksaan dari sang Ayah tentang memilih pasangan hidup. Tapi baginya, sang Ayah terlalu memandangnya kecil dan tak pernah mahu mengetahui apa yang ia pikirkan.


Theodoric melepas jas hitamnya dan melemparnya ke sembarang arah menyisakan kemeja putih, segera keluar dari dalam restoran yang disewa oleh ayahnya hanya karena ingin membahas tentang perjodohan.


Langkah pemuda itu terhenti tepat saat melewati pintu restoran, mendapati seorang wanita bergaun merah muda tengah menundukkan wajah. Theodoric merasa familiar dengan wajah yang hanya terlihat dari samping itu, sebelum kembali melangkah dan mendekat.


“Anna? ”