
Seminggu sudah Anna berada di Indonesia, empat hari yang lalu pun Hanggi—Ibunya menyusul ke tanah air. Anna merasa kedatangan Hanggi merupakan suatu hal yang perlu dipertanyakan, ibunya itu tidak biasa datang mendadak seperti kemarin, jika saja tidak ada yang penting.
Hanggi beralasan jika ia merindukan Ibunya—Grandma, dan rumahnya di Indonesia. Anna pun mencoba tak berpikir terlalu jauh.
Anna juga menanyakan bagaimana perkembangan cabang perusahaan di Prancis, dan Ibunya hanya merespon bahwa perusahaan baik-baik saja walau tanpa kehadiran Anna.
Dan itu membuat Anna kecewa, setidaknya ia harus memiliki alasan kuat untuk kembali ke Prancis. Berusaha sekeras mungkin untuk tidak tinggal di Indonesia terlalu lama, apalagi sampai menetap.
Keluarga Swayn menerima undangan makan malam di rumah keluarga Heriska pada malam kamis, itu berarti tiga hari lagi. Itu pun bersangkutan dengan acara dinner antara Anna dan Heriska gagal, keluarga Heriska ingin meminta maaf pada Anna yang telah menggagalkan acara malam itu karena Heriska dipaksa untuk pulang oleh keluarganya.
Bagi Anna ini berlebihan, tapi mengingat nama keluarga Swayn selalu disegani hal seperti itu memang wajar. Memilih waktu memang harus tepat, karena itu perlu undangan di jauh hari agar kedua keluarga bisa mengatur waktu sibuk mereka.
Kini Anna tak punya pekerjaan, ia ingin melihat-lihat kinerja perusahaan di Prancis tapi selalu saja dihalangi oleh Ibu atau Kakaknya—Ardan, dengan alasan ia harus perlu menenangkan diri dan terlepas dari pekerjaan. Padahal Anna hanya ingin melihat, masih hiatus bekerja.
Anna duduk di bangku halaman belakang, sambil memandangi kolam ikan di pagi hari itu. Tidak lama kemudian Hanggi ikut serta duduk di samping puterinya.
“Chérie, Mommy tahu kamu ingin menyibukkan diri. Daripada sibuk dengan perusahaan, bagaimana jika kita shoping? ” ujar sang Ibu berhasil membuat Anna menghela napas diam-diam.
Anna tahu, Ibunya mencoba memberinya hiburan. Tapi tanpa sadar, kalimat sang Ibu kembali membuat dirinya merasakan sesuatu yang tak asing lagi. Kelu, hatinya kelu.
‘Sejak kapan Aku jadi anti boros? Hm, tentu. Sejak lima tahun yang lalu, sejak rasa itu lahir dalam diriku... ’ pikir Anna dengan air wajah tanpa ekspresinya.
Ya, Anna tidak akan mengelak jika dulu ia adalah anak yang boros dan selalu egois meminta ini-itu. Tapi dulu, ia tak pernah mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan sekarang? Seharusnya dia senang, sekarang ia tinggal memilih dan berkata, pasti apa yang ia inginkan langsung terkabul. Tapi sekarang, ia tak menginginkan apa-apa.
“Anna, Grandma pasti senang saat mendapati hadiah darimu. Bagaimana kita membelikan hadiah pada Grandma? Kamu belum memberikannya apa-apa, kan? ”
Anna masih tertunduk, meremat jari-jemarinya. Berusaha memilih kata per kata untuk merespon ujaran wanita di sampingnya.
“Mom, aku tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan saat bertanya pada Kak Ardan. Kuharap Mommy memiliki jawabannya, ” kata Anna tiba-tiba berhasil membuat ekspresi sang Ibu keheranan.
“Jika kakakmu yang pintar saja tidak bisa menjawab, apalagi Mommy? ”
“Karena aku tahu, Mommy memiliki kasih sayang yang tulus selayaknya seorang Ibu pada anak-anaknya. ”
Hanggi mengernyit, lebih merapat pada anak gadisnya. “Memang ada apa? ”
Anna menghela napas kembali sambil menggigit bawah bibirnya, menenangkan diri. Sebelum berkata, “apa aku masih pantas bahagia? ”
“Tentu saja! ” seru Hanggi pada anak gadisnya. “Siapa yang bilang kamu tidak pantas bahagia? ”
Anna tersenyum tipis. “Mungkin... Aku yang selalu merasa, kebahagiaanku sudah pupus. Sejak lima tahun yang lalu, ” balasnya.
“Kenapa membahas hal itu lagi? ” tanya Hanggi dengan intonasi meninggi, ia cukup sensitif dengan hal yang menyangkut ‘lima tahun lalu’ itu.
“Kenapa? ” balas Anna bertanya balik. “Apa hanya aku yang merasakan penyesalan? ”
“Kamu menyesal? ” Hanggi menatap anak gadisnya tak percaya.
“Kurasa, ya atau tidak. ”
“Anna, kendalikan dirimu. Tidak ada gunanya mengungkit masa lalu! ” peringat Hanggi.
Hanggi menghela napas kasar mendengar itu. Menatap anak gadisnya lekat-lekat dari samping.
“Coba ingat-ingat lagi, pilihanmu saat lima tahun yang lalu itu bertujuan untuk apa? ” kata Hanggi bertanya, dengan serius. “Untuk mencapai kebahagiaan, kan? Untukmu juga, Anna! Kamu adalah Swayn! Puteri dari keluarga terpandang! Kebahagiaanmu disini, karena itu saat lima tahu yang lalu kamu memilih pilihan. Dengan kehadiranmu, Grandma, Kak Ardan, Mommy, dan Daddy selalu merasa ringan. Kebahagiaanmu disini, Chérie. ”
Anna mengangkat wajahnya, menatap sang Ibu lekat. “Bagaimana dengan Kak Ghena? ” tanyanya masih belum puas. “Kak Ghena membenciku karena satu alasan itu, ia tak ikut bahagia dengan kehadiranku. ”
Hanggi menghela napasnya. “Dia hanya belum melihatnya, dia selalu merumitkan segala situasi.”
“Dan Mommy juga tidak ingin kamu ikut merumitkannya! Kamu Arianne Angelica Swayn! Ingat itu! ” tegas Hanggi terakhir kali.
Anna membiarkan Ibunya beranjak pergi, meninggalkannya seorang diri.
“Anna... ”
Suara itu membuat Anna menoleh, mendapati Grandma yang sedang berjalan tertatih pelan ke arahnya. Jelas kondisi wanita lanjut usia itu sudah tidak sebugar sebelumnya.
Anna bangkit dan berjalan ke arah Grandma, membopong wanita tersebut ke kursi yang tadi ia duduki.
“Apa yang membuatmu tidak bahagia cucuku? ” tanya Grandma tiba-tiba saat berhasil menduduki kursi. Ternyata Grandma mendengar perbincangannya dengan sang Ibu tadi.
Anna ikut duduk di samping Grandma, menggenggam tangan hangat Grandma.
“Apa kejadian lima tahun yang lalu membuatmu trauma? ” lanjut Grandma yang belum mendapat jawaban dari sang Cucu.
Anna mengulum bibirnya, ia merasa suatu yang hangat dan berbulir pada kedua matanya.
“Tidak, Grandma. ”
Grandma mengusap lembut helaian rambut hitam Anna, memberikan kasih sayang.
“Grandma mengerti, kecelakaan lima tahun yang lalu benar-benar mimpi buruk untuk keluarga kita. Grandma tidak bisa membayangkan jika kamu pergi duluan sebelum Grandma, Grandma hampir gila saat mendengar kejadian itu. Grandma benar-benar dibuat takut... ”
Anna memeluk wanita lanjut usia itu coba menenangkan, Grandma bergetar hebat dan menangis tersedu.
“Terima kasih, Anna. Terima kasih sudah mau bertahan disisi kami, terima kasih. Grandma sangat bersyukur! Kamu adalah cucu tersayang Grandma, cucu tercantik Grandma. Jangan pernah tinggalkan Grandma... ”
Anna hanya diam membisu, tak berniat merespon perkataan lirih dari Grandma.
Benar, lima tahun lalu telah membuat hidup Anna berubah drastis. Karena kejadian lima tahun yang lalu adalah bencana terbesar dalam hidupnya.
Anna rasa, tak ada yang berhasil mengerti perasaannya. Baik Ardan, Ibu ataupun Grandma. Mereka memang selalu penuh kasih sayang dan perhatian, tapi mereka tidak pernah tahu, apa yang dirasakan Anna tidak dapat diobati dengan kasih sayang mereka.
Walau Anna adalah anggota keluarga Swayn, Anna benar-benar tak dapat menemukan titik nyaman pada keluarga ini. Baik lima tahun yang lalu atau sekarang.
** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** **
Chérie ; sebutan sayang dalam bahasa Prancis
** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** **