I WANT LOVE

I WANT LOVE
RUMOR MURAHAN


Anna terkejut saat beberapa maid telah dititahkan Ardan untuk membantu mempersiapkan dirinya di pesta malam ini. Anna ingin menolak, tapi para maid itu bersikeras untuk mendandaninya karena ancaman.


“Maaf, Nona. Bukannya kami ingin membangkang perintah anda, tapi Tuan Muda Ardan mengancam kami akan dipecat jika tidak mematuhi perintahnya. ”


Anna pun akhirnya pasrah. Dari perawatan kulit seperti lulur, mandi susu, dan lotion hingga perawatan rambut dan riasan wajah, tidak ada yang tertinggal satu pun dari bagian tubuhnya di perhatikan. Sebenarnya Anna risih, tapi saat di Prancis dirinya juga diperlakukan seperti ini dan ia mulai terbiasa.


Anna duduk di depan meja rias, memperhatikan dua orang maid yang ditugaskan untuk memilihkan sebuah gaun untuk dikenakan Anna.


“Nona, ini rancangan dari Miss Nisha. Bahan yang digunakan—”


“Aku tidak peduli tentang itu, ” potong Anna. Sekarang yang ada dalam pikirannya adalah, mengenakan gaun yang pantas diterima matanya. Bukan seperti gaun yang baru saja ingin dijelaskan tadi, bahunya terbuka dan dadanya begitu terlihat. Walau pun bahan gaun itu bernilai, tapi Anna tak melihat ke arah itu.


“Aku ingin ini, ” tunjuk Anna pada salah satu gaun yang menjadi pilihannya. Menurutnya, gaun ini lebih baik daripada yang lain.


Dua orang maid itu saling pandang, sama-sama berpikir jika Nona Mudanya ini memiliki selera yang rendah. Tapi mereka tak berani mengatakannya langsung, hasilnya Anna mengenakan gaun pilihannya sendiri.


Gaun itu sederhana, berwarna biru laut dengan lengan sepanjang siku. Gaun tersebut panjangnya dibawah selutut, sisi pinggangnya terdapat hiasan permata kecil. Menurut Anna, ini yang tercantik diantara yang lain.


Setelah selesai bersiap, Anna menuruni anak tangga menghampiri Ardan yang tengah menunggunya di ruang depan. Disana juga ada Grandma dengan senyum cerahnya melihat Anna tampak cantik malam ini.


“Wow, Anna ternyata kamu cewek. ”


Ardan tampak lebih menawan dan tegas saat mengenakan pakaian formal seperyi kemeja putih ditambah jas hitamnya.


“Aku memang cewek! ” dengus Anna mengerti arti sindiran dari Ardan.


“Anna, cucuku. Kamu cantik sekali, persis seperti Ibumu. ” Senyum Grandma tak pernah luntur saat menatap Anna.


“Terima kasih, Grandma. ” Tanpa Grandma dan Ardan sadari, Anna hanya bisa tersenyum miris mendengar pujian dari Grandma.


“Nikmati malam ini ya, sayang... ” pesan Grandma.


Anna mengangguk. “Maaf tidak bisa menemani Grandma makan malam saat nanti, ” lesunya.


Grandma mennggapinya dengan senyum kecil. “Tidak masalah, Grandma sudah terbiasa makan seorang diri. Yang Grandma pentingkan adalah Anna cucuku berbahagia malam ini. ”


“Wow! Wow! Wow! Nona Muda kita tampaknya menikmati hari pertamanya disini dengan berpesta, memgagumkan... Ck! ”


Perhatian Grandma, Ardan dan Anna teralihkan pada satu sosok wanita yang berpenampilan urakkan menuruni tangga sambil memasang wajah angkuh.


“Kakak, tolong jangan mulai! ” peringat Ardan tegas.


Ghena menatap adiknya tajam. “Lihat sekarang, kamu berani memakai nada tinggi padaku hanya untuk wanita j*lang itu!!! ”


“Kurang ajar! ” teriak Grandma lantang.


“Kamu mengatai adikmu apa? Lihatlah penampilanmu dulu Ghena, beraninya berkata seperti itu!!! ”


Ghena tertawa lepas, Anna tahu tawa itu terkesan memaksa dan ada emosional di dalam tawanya.


“Baiklah, sekarang Grandma ataupun seluruh keluarga ini menyayangi Anna daripada aku yang jelas-jelas statusku disini lebih meyakinkan! Memang, Anna cantik, anggun, dan , terpelajar. Tidak bisa dibandingkan denganku yang selalu buruk rupa dan bodoh! ”


“Baik Anna, baik! Kamu menang, aku kalah. ”


“Setidaknya... Untuk saat ini, ” lanjut Ghena diakhiri senyuman tipis.


Anna menahan napasnya, entah kenapa merasa gentar begitu saja. Arti dari perkataan dan senyuman itu, adalah hal yang selalu ditakutinya.


Ghena berjalan menjauh entah kemana.


“Sudahlah, Anna. Kak Ghena memang seperti itu, baik dulu maupun sekarang. Kamu tidak perlu memikirkannya, ” ucap Ardan menenangkan wanita cantik di depannya.


Helaan napas terdengar dari Grandma.


“Grandma benar-benar bingung dengan anak itu! Dulu ia sngat menyayangimu, Anna! Bahkan ia pernah mempertaruhkan keselamatannya hanya untuk mengambilkan balonmu yang sangkut di ranting pohon! Tapi kenapa sekarang ia begitu membencimu? Grandma tidak habis pikir! ”


“Mobilnya sudah siap sejak tadi, mari... ” seru Ardan kemudian.


Anna berpamitan pada Grandma sebelum mengikuti Ardan keluar dan memasuki mobil mewah yang sudah menunggu mereka.


“Aku tidak kenal dengan teman Kakak, kalau aku diusir bagaimana? ” tanya Anna membuka topik lebih dulu.


“Anna, kamu keluarga Swayn! Mana ada yang berani macam-macam denganmu, ” balas Ardan. Pemuda itu memberikan sebuah undangan pesta ke Anna. “Kamu gunakan ini, namaku ada didaftar undangan. Tanpa ini, kamu nggak akan bisa masuk. Lagi pula, temanku tidak sekejam itu pada tamunya. ”


Anna menerimanya, memperhatikan undangan bernuansa merah muda elegan tersebut. Anna tersenyum tipis, masih tidak percaya bahwa dirinya adalah salah satu orang dari kalangan atas.


Tiba-tiba Ardan menerima sebuah telepon, mau tidak mau Anna mendengar semua pembicaraan kakaknya.


“Maksudmu, putera bungsu keluarga Aldrich? ”


“Ey... Jangan sembarangan, Tom. ”


“Kalau ternyata dia tidak seperti yang dikabarkan, apa kamu masih bisa tertawa? ”


“Sudahlah, aku tidak peduli. Waktuku sangat berharga ketimbang membicarakan orang lain. ”


Ardan mematikan teleponnya secara sepihak, tak mempedulikan temannya yang jelas di seberang sana mengumpatinya. Anna mengernyitkan keningnya penasaran.


“Maaf, Kak. Kenapa kamu terlihat kesal? ” tanya Anna.


“Oh, tadi temanku mengabari hal yang tidak penting. ”


“Apa itu, aku ingin tahu. ”


Ardan melebarkan mata kaget, dirinya cukup terkejut melihat Anna yang sudah mulai banyak bicara dan terus-menerus mengobrol dengannya. Hal ini tak boleh ia lewatkan, pikir Ardan.


“Kamu tahu keluarga Aldrich? ”


Anna mengangguk. Tentu saja ia tahu, di Prancis ia sering sekali mendengar nama itu. Keluarga Aldrich adalah salah satu kolega bisnis Keluarga Swayn, bisa dikatakan Keluarga Aldrich dan Swayn menjalin hubungan dekat berkat kerja sama. Jadi nama Aldrich tidak lagi asing bagi Anna.


“Apa kamu tahu keluarga Aldrich memiliki putera bungsu? ”


“Mana ku tahu, aku saja tidak tahu berapa keturunan keluarga Aldrich. ”


Ardan mengangguk sebelum kembali menjelaskan. “Banyak rumor yang beredar tentang putera bungsu ini, katanya dia cacat mental ataupun fisik, karena itu ia tak pernah di publikasikan ke media. Sementara lima saudaranya yang lain? Begitu aktif dan terus-menerus dapat sorotan dari media. ”


“Kakak mempercayai rumor murahan seperti itu? ” satu alis Anna terangkat menatap kakaknya penuh selidik.


Ardan tergagap sejenak. “Tidak, Anna. Itu hanya rumor, spekulasi dari orang-orang kurang kerjaan. Mana mungkin aku termakan rumor murahan seperti itu. ”


“Tapi sepertinya kakak percaya... ”


“Astaga, tidak Anna. Tidak ada untungnya bagiku memikirkan itu. ”


“Lalu, kabar apa yang disampaikan temanmu tadi? ”


“Katanya putera bungsu keluarga Aldrich itu menghadiri pesta yang sekarang kita datangi. ”


Anna terkejut mendengarnya.


“Benarkah? ”


“Nggak tau, masih katanya. ”


Arda mengidikkan bahu acuh. Lagi pula, ia benar-benar tak mempedulikannya lebih jauh.


BERSAMBUNG