
“Ray? ”
Anna terkejut saat suara rendah yang memanggil namanya dari belakang adalah pemuda yang tempo lalu ditemuinya pada pesta Heriska.
“Sedang apa kamu disini? ” tanya pemuda yang disapa Ray oleh Anna itu.
“Ehm... Awalnya aku ingin makan malam direstoran ini, tapi disewa oleh keluarga Aldrich. Tidak jadi, deh. ”
Ray yang mendengarnya tersenyum canggung.
Anna menunjuk pemuda yang kini dihadapannya. “Kamu sendiri? Ah! Kamu juga diusir, ya? ”
“Diusir? ” kening Ray mengernyit bingung.
“Ya, semua pelanggan di restoran ini diusir. Kamu tidak, ya? ”
“Ah? Ehm, ya. Itu... Ya, diusir. Sama sepertimu, ” ucap Ray terbata namun mempertahankan senyumnya yang terlihat canggung.
Pemuda itu tidak menyangka ayahnya berbuat sejauh itu mengusir para pelanggan.
Anna merasa ada yang aneh pada pemuda ini, namun tak terlalu memikirkannya.
“Kamu tadi bilang ingin makan, bukan? Bagaimana kita cari restoran didekat sini, dan makan bersama? ”
Anna tersentak mendengar tawaran tiba-tiba itu. Apalagi mereka tak terlalu kenal dan masih terbilang asing, tapi juga tak ada salahnya makan bersama sesekali. Anna pun menyetujuinya.
Anna mengikuti langkah Ray yang membawanya ke sebuah tempat makan, lebih tepatnya warung dimana tempat makan orang-orang sederhana. Anna tak mengeluh dan mengikuti Ray menempati salah satu meja berbahan dasar kayu dan kursi plastik.
Anna melihat kesekeliling, ia merasa menjadi pusat perhatian para pelanggan. Karena penampilannya yang elegan seperti orang berada, pasti mendapat
tatapan heran kenapa makan ditempat lusuh seperti ini.
“Kenapa? Tidak nyaman, ya? ” tanya Ray melihat gelagat wanita yang duduk dihadapannya.
Anna menggeleng pelan dan tersenyum tipis. “Tidak, sudah lama aku tidak kesini. ”
Yang dimaksud 'kesini' dalam perkataan Anna, ialah tempat yang tak jauh beda dengan warung ini. Tempat makan bagi mereka yang orang sederhana.
“Kesini? ” sahut Ray nampak terkejut. “Orang sepertimu pernah kesini? ” tanyanya.
Ray memilih tempat ini karena yakin orang-orang suruhan Ayahnya yang disuruh untuk mencari dan mengantarnya pulang tidak akan pernah mengira ia akan ketempat seperti ini.
“Bagaimana denganmu? Kamu juga pernah kesini? ” tanya Anna balik tanpa menjawab.
Ray sebenarnya ingin menjawab jika ini kali pertamanya, tapi ia urungkan dengan menanggapi pertanyaan Anna dengan senyuman tipis.
Seorang pelayan mendatangi keduanya, tempat ini memang kecil bagi mereka berdua yang berada di kalangan atas. Namun warung ini juga bisa terbilang besar dan ramai pengunjung, tentu ada pelayan yang bertugas untuk mencatat pesanan.
Setelah memesan dan tinggal menunggu, Anna mengambil kerupuk di dalam toples yang tersedia di meja. Anna tak langsung memakannya, tapi menatapnya dengan tatapan sulit diartikan.
Ray yang melihat itu hanya bisa mengangkat alisnya merasa heran.
Anna pun kemudian mematahkan kerupuk ditangannya menjadi dua bagian dan memberikan sisi satunya pada Ray.
“Coba ini dulu. ”
Ray menerimanya, menatap Anna sekilas lalu menurut dan menggigit kerupuk ditangannya.
‘Ternyata tidak buruk, ’ batin Ray setelah mencoba kerupuk orang biasa.
Anna pun ikut memakan kerupuknya, sambil menunduk. Entah apa yang dipikirkan wanita itu.
Tidak lama kemudian pesanan mereka datang. Anna memesan nasi goreng, sementara Ray memesan soto.
“Apa ini enak? ” tanya Ray tanpa sadar.
“Hm? Cobalah kalau penasaran, ” sahut Anna memandang Ray penuh makna.
“Bagaimana jika kamu dulu yang makan? ”
Anna mengernyitkan keningnya, dan menjatuhkan pandangannya pada makanan dihadapannya. Terdiam cukup lama, pikirannya kembali melayang entah apa yang ada di bayang-bayangnya.
Ray yang menatap wanita itu tersentak saat mendapati ada sebulir bening membasahi pipinya.
“Kenapa kamu nangis? ”
Anna tersadar dan memegang kedua pipinya, mendesah karena merasa sebal dan menarik tisu untuk membersihkan kedua pipinya yang basah.
‘Apa wanita ini menangis karena tak ingin memakan masakan warung lusuh ini? ’ pikir Ray.
Sebenarnya Ray penasaran apa yang membuat wanita itu menitikan air mata saat melihat nasi gorengnya, namun ia tak terlalu memikirkan dan memperhatikan Anna yang mulai menyendok makanannya.
Ray menatap wanita itu lekat. “Aku masih bingung, kenapa kamu bisa seakrab itu dengan makanan kelas bawah? ”
Anna membalas tatapan Ray.
“Ini masakan Indonesia, dan Aku orang Indonesia. Kamu nggak pernah makan nasi goreng atau soto? ” tanya Anna balik dengan kening mengernyit.
Ray tersenyum miris. “Sayangnya aku hanya mengenal nasi di Indonesia, kamu tahu kan anak yang terlahir dari kalangan atas di didik untuk patuh dengan peraturan keluarga, apa yang dimakan itu yang kumakan. Aku tidak pernah disuruh memilih. ”
Anna tersentak mendengarnya. Selama ia tinggal di Prancis, memang ia selalu makan makanan kontinental. Tapi saat di Indonesia tidak mungkin kan keluarga pemuda itu tak memperkenalkan masakan Indonesia? Sekelas apa memangnya?
“Dan sekarang kamu baru saja memilih apa yang ingin kamu makan, ” sahut Anna. “Cobalah. ”
Ray menatap mangkok didepannya ragu, meraih sendoknya dan mencicipi kuah soto itu dengan perlahan. Anna menaikkan alisnya mengamati pemuda itu yang terdiam setelah mencoba.
“Hm, enak. ”
Anna tersenyum mendengar. Wanita itu meraih botol kecap dan memberikan dua tuangan pada mangkok soto Ray.
“Kamu ngapain? ” tanya Ray kaget.
Anna tak menjawab, melainkan mengaduk kuah soto denhan sendok yang tadi dipegang Ray. “Coba lagi, ” serunya.
Ray menatap wanita itu memprotes.
“Coba dulu, tidak kalah enak kok. ”
Ray pun menurut dan kembali menyendok kuah soto.
“Kamu suka sambal tidak? ”
Ray mengernyit dengan pertanyaan itu.
“Kamu suka pedas nggak? ”
Ray mengangguk pelan, sebenarnya ragu. Anna tersenyum dan mengambil satu sendok sambal ke arah mangkok soto Ray.
“He?! ” kaget Ray.
“Ratain lagi, terus coba lagi. Kalo kurang pedes menurutmu, ambil lagi sambalnya sesuai selera. ”
Ray sebenarnya bingung dengan keadaan saat ini, tapi menurut dan kembali mencoba kuah soto yang sekarang rasanya kembali berubah. Mata pemuda itu mengerjab merasakan kuah yang gurih, sedikit manis dan pedas dalam waktu bersamaan. Ia tak pernah merasakan makanan seunik ini dalam hidupnya.
“Apa ini yang namanya masakan Indonesia? ” tanya Ray tiba-tiba.
Anna mengangguk meresponnya. “Bagaimana? Suka? Tidak buruk, kan? Coba ini juga. ”
Ray mengernyit saat melihat Anna memeras sebuah buah dengan kulit warna hijau ke sotonya.
“Biar tambah segar kuahnya. ”
Ray mengaduk sotonya lagi dan kembali mencicipinya. Kali ini pemuda itu tersedak dengan rasa baru dari kuah soto tersebut.
“Asem, apa ini? ” tanya Ray sambil meraih gelas es tehnya yang juga ia pesan.
“Jeruk nipis. Biasanya kalo aku makan soto juga pake itu. Kamu nggak suka, ya? ”
Setelah menegak es tehnya, Ray kembali menatap Anna. “Siapa yang mau makan kuah asem begitu? ”
“Banyak kok! Lidahmu aja yang bermasalah, ” sahut Anna santai.
Ray menghela napas dan mendorong mangkok sotonya. “Aku tidak mau makan. ”
Anna ikut menghela napas. Meraih mangkok tersebut dan menukarkan piring nasi gorengnya pada pemuda itu.
“Makan punyaku, jangan bilang kamu tidak pernah makan nasi goreng? ” ujar Anna bertanya dengan selidik.
“Hm? Nasi bisa digoreng? ”
Anna tertegun, melihat pemuda ini dengan iba. Bukankah nasi goreng sudah terbilang internasional? Seharusnya orang-orang dari kalangan atas sudah bersahabat dengan makanan sederhana seperti itu. Apalagi di jaman sekarang, nasi goreng beraneka ragam.
“Ini nasi goreng khas Indonesia, ada juga nasi goreng mancanegara. Bumbunya khas Indonesia, seperti bawang putih, bawang merah, dan cabai. Sudah tidak asing lagi bagi kita, ma-sya-ra-kat Indonesia, kalau nasi goreng diluar negeri sana sedikit berbeda karena bumbunya juga beda. Kamu harus bersyukur bisa makan masakan Indonesia, huh aku tidak sangka masih ada saja yang ketinggalan jaman di negerinya sendiri. ”
Ray menatap nasi goreng dihadapannya dan mulai menyantap, merasa kembali diperkenalkan pada rasa baru yang unik.
Anna ikut memakan soto dihadapannya. Tanpa sadar, wanita itu tak lagi irit bicara ataupun bersikap dingin dengan orang asing.
Atau memang, Ray sudah tidak asing lagi baginya?